
"Do'akan gue menang. Kemenangan gue buat lo."
Sky dan Shena tersenyum mendengar pesan Vicky lewat ponselnya sebelum melakukan pertandingan. Mereka kini melihat pertandingan Vicky secara live lewat panggilan video.
"Di tv kan juga ditayangkan." Shena menghidupkan televisi agar bisa melihat pertandingan itu lebih jelas.
Sky kini bersandar di pangkuan Shena. Andai saja kecelakaan itu tidak terjadi, pasti sekarang dia berada di kolam renang itu dengan sorakan dari penonton yang mendukungnya dan juga ada Shena yang pasti sangat antusias mendukungnya. Sepertinya dia memang tidak akan bisa merasakan momen seperti itu lagi.
"Kak Sky jangan sedih."
Sky menggelengkan kepalanya. "Aku gak sedih."
"Terus ini apa?" Shena menyusut sebulir air mata yang berada di ujung matanya.
Sky hanya tersenyum kecil lalu menggenggam tangan Shena. "Aku gak akan bisa merasakan momen seperti itu. Terkadang rasa kecewa itu muncul begitu saja, padahal aku sudah berusaha ikhlas."
"Iya, aku mengerti. Wajar, jika Kak Sky masih kecewa dengan semua ini." Satu tangan Shena kini menyugar rambut Sky. Mereka berdua sudah tidak bersuara dan sama-sama menyimak pertandingan Vicky.
"Kurang sedikit lagi, pasti Vicky bisa."
Mereka berdua berteriak saat Vicky berhasil lolos ke babak semi final.
"Kak Vicky hebat."
"Iya, semoga dia masuk ke babak final."
Setelah pertandingan selesai, Vicky menghubungi Sky lagi. Dia memberi kabar pada Sky bahwa dia sudah lolos ke babak semi final. Sedangkan Sky memberikan teori apa saja yang harus disiapkan untuk pertandingan selanjutnya.
"Lo pasti menang."
...***...
Hari-haripun berlalu. Pertandingan demi pertandingan telah Vicky lalui. Meskipun dia hanya berhasil menjadi juara dua, tapi dia sangat bangga dengan dirinya sendiri karena ini pencapaian yang sangat luar biasa sepanjang karir berenangnya.
"Sorry Sky, gue hanya bisa jadi runner up," kata Vicky sambil menatap layar ponselnya yang terhubung video call dengan Sky.
"Gak papa, itu udah sangat bagus. Selamat ya. Sekarang lo bisa menikmati liburan lo. Gue udah sewa guide juga buat lo biar bisa temenin lo juga."
"Oke, thanks ya." Kemudian Vicky mematikan panggilan videonya.
Setelah merayakan pesta kemenangan, teman-temannya yang juga ikut bertanding bersamanya akan segera kembali ke Indonesia. Sepertinya hanya dirinya yang stay di Jepang.
"Liburan gratis, gak diambil sayang, diambil kesepian," kata Vicky sambil berjalan menuju kamar yang telah di pesan Sky, di salah satu hotel terbaik di Fukuoka, Jepang. Sky memang sengaja memesan hotel di dekat tempatnya bertanding.
Vicky kini berdiri di depan kamar itu. "Kamar honeymoon? Ck!" Vicky berdecak lalu membuka pintu kamar itu.
Benar saja, suasana kamar itu sangat romantis dengan nuansa merah. "Untung gak ada taburan bunga juga. Jiwa jomblo gue meronta banget kalau kayak gini. Shena pasti bahagian kalau seandainya jadi ke tempat ini sama Sky."
Baru saja dia akan masuk, tiba-tiba ada seorang wanita yang berlari dan masuk ke dalam kamarnya.
"Siapa kamu?"
Wanita itu menarik Vicky masuk dan menutup pintu kamar itu.
"Tolong aku." Wanita itu bergelayut di lengan Vicky sambil ketakutan.
Vicky tercengang menatap paras cantik itu. Hidung mancung, bibir tipis, dan mata yang agak sipit dengan kulit wajah yang putih bersih dan mulus. Sepertinya dia keturunan Jepang dan Indonesia.
"Akhirnya aku menemukan orang Indonesia di sini." Wanita itu melepas tangannya lalu duduk di lantai.
Sebagai lelaki normal, tentu saja Vicky tergoda melihat tubuh sexy yang hanya terbalut rok sifon selutut berwarna putih itu.
"Nama kamu siapa?" tanya Vicky sambil mengulurkan tangannya.
"Aku Nike." Nike membalas uluran tangan Vicky. Dia mengedarkan pandangannya dan tersadar dengan kamar Vicky. "Kamu mau honeymoon. Maaf, aku ganggu." Seketika Nike berdiri dan membuka pintu lagi, tapi di ujung lorong terlihat seseorang yang mencarinya sedang berlari ke arahnya.
"Nike!"
Vicky menarik tangan Nike lalu memasangkan topi di kepalanya. Dia menghimpitnya di pintu karena pria itu sudah terlanjur melihat dan tidak ada waktu masuk ke dalam kamar. Vicky mendekatkan wajahnya seolah dia sedang berciuman dengan wanitanya. Tubuh Nike tertutup oleh tubuh Vicky.
"Sorry." Pria itu kembali berlari.
Vicky segera menarik Nike masuk dan menutup pintu kembali.
"Hmm, maaf. Makasih sudah menolongku."
"Sebenarnya ada masalah apa?" tanya Vicky.
Nike hanya menggelengkan kepalanya. "Aku tidak bisa cerita."
"Oke, mungkin terlalu pribadi buat kamu. Semoga saja kamu wanita baik-baik, dan bukan buronan polisi. Bahaya kalau aku sampai terseret kasus di negeri orang."
"Kamu tenang saja. Justru pria yang mengejarku yang bermasalah. Hmm, sebentar lagi biar aku keluar saja. Gak enak sama istri kamu."
Seketika Vicky tertawa lalu dia duduk di tepi ranjang yang luas itu. "Aku belum menikah. Kebetulan teman aku yang booking kamar ini tidak bisa berangkat ke sini karena kecelakaan jadi aku yang gantiin. Katanya sayang karena kalau dibatalkan uang hanya kembali 50 persen."
Nike hanya mengangguk. Lalu dia membuka tas selempangnya, "Untunglah hp, paspor, visa, dan dompet aku ada di sini." Nike kini duduk di sofa sambil melihat ponselnya. Tiba-tiba saja badannya terasa panas dan tidak nyaman. "Tolong besarkan AC nya, tiba-tiba aku merasa kegerahan."
"Iya." Vicky mengambil remote AC dan menambah suhu dingin di ruangan itu lalu dia masuk ke dalam kamar mandi.
Tubuh Nike semakin tidak nyaman. "Sebenarnya apa yang dimasukkan Arya di minuman itu? Arya benar-benar mau menjualku."
Nike semakin gelisah. Hasrat di dalam dirinya semakin besar dan tidak bisa dia tahan. Kemudian dia berdiri dan masuk ke dalam kamar mandi begitu saja.
Vicky yang baru selesai mandi dan hanya memakai celana terkejut melihat Nike yang tiba-tiba masuk. "Ada apa? Aku lupa gak kunci pintu. Untung aku udah selesai."
Nike membasuh wajahnya dengan air dingin tapi tubuhnya semakin tidak bisa dia kendalikan. Lalu dia menyiram rambutnya hingga rok bagian atasnya basah.
"Kamu kenapa?" Vicky memegang bahu Nike. Dia menatap wajah Nike yang memerah dengan napas yang tidak teratur. Mereka kini saling bertatapan.
Gairah Nike semakin membara saat melihat tubuh Vicky yang sangat menggoda. Perlahan tangannya menyentuh dada bidang itu.
"Kalau kamu sakit, aku antar ke rumah sakit." Vicky menahan tangan Nike yang mengusap dadanya.
Nike semakin menatap Vicky. Lalu mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Vicky.
Vicky akan menjauhkan dirinya tapi Nike semakin memeluk pinggang Vicky. Akhirnya Vicky terpancing dan membalas setiap pagutan liar dari Nike.
Mereka berjalan perlahan tanpa melepas tautan bibir itu hinga tubuh mereka berdua terjatuh di tengah ranjang.
💞💞💞
.
Selamat honeymoon Vicky, eh, salah.. ðŸ¤