
"Silakan diminum. Ini seadanya saja," kata Naya sambil meletakkan minuman dan hidangan lainnya bersama Arnav.
"Iya Bu, tidak perlu repot-repot."
Setelah itu Arnav kembali ke belakang dan masuk ke dalam kamarnya karena dia masih belum bisa menerima sepenuhnya kenyataan ini.
Sedangkan Naya duduk di samping suaminya. "Saya jadi penasaran, ada perlu apa ke sini?"
Ida hanya tersenyum dan masih menahan Shena agar duduk di sampingnya. "Kita mau berterima kasih karena akhirnya Shena mau memaafkan Sky. Tapi kalau Shena mau melanjutkan hubungan selanjutnya yang lebih serius, saya sangat bahagia sekali."
"Hubungan selanjutnya?" Shena tersenyum kaku.
"Iya, seperti yang pernah saya katakan sebelumnya," lanjut Alex. "Agar tanggung jawab Sky semakin real, bagaimana kalau Shena menikah saja dengan Sky."
"Kalau saya terserah Shena," jawab Arsen. "Kalau memang Shena mau, tidak masalah. Tapi kalau masih belum siap, bisa dilakukan nanti."
"Iya, tidak perlu sekarang juga."
"Maaf, saya memang belum bisa menikah dengan Kak Sky sekarang. Saya juga tidak tahu nantinya seperti apa. Menikah itu tidak hanya tentang tanggung jawab tapi juga harus ada dua hati yang disatukan. Sedangkan saya sendiri belum tahu bagaimana perasaan saya," jelas Shena.
Ida tersenyum dan satu tangannya memeluk pinggang Shena. "Tidak apa-apa. Mama mengerti. Tidak perlu terburu-buru, yang terpenting kamu sudah mau memaafkan Sky."
Shena menganggukkan kepalanya. Kedua orang tua Sky memang sangat baik. Mereka benar-benar mertua idaman.
"Besok-besok main ke rumah Mama ya. Mama kesepian di rumah. Cuma ada Sky yang sibuk dengan kegiatannya sendiri."
"Iya, Ma. Kapan-kapan Shena main ke rumah."
Sky hanya tersenyum menatap Shena. Sepertinya dia harus bisa segera meyakinkan perasaan Shena.
...***...
Sesuai janji Sky, hari itu dia berlibur ke taman bermain bersama Shena. Tidak hanya berdua tapi juga ada Mila dan juga Ferdi.
"Kak Arnav yakin gak ikut?" tanya Shena pada Arnav sebelum berangkat.
"Nanti kalau Vicky jadi, aku nyusul."
"Ya sudah, aku duluan." Setelah berpamitan pada kedua orang tuanya, Shena kini naik ke boncengan Sky. Hubungan mereka berdua sekarang jauh lebih dekat, bahkan kedua tangan Shena kini melingkar di pinggang Sky tanpa disuruh.
"Kamu mau belajar renang gak?"
Shena mendekatkan dirinya agar Sky bisa mendengar suaranya. "Tapi aku takut."
"Gak papa. Ada aku. Nanti belajar di kolam anak-anak dulu," goda Sky sambil tertawa.
"Ih, enak aja di kolam anak-anak. Malu." Shena mencubit pinggang Sky lalu memeluknya lagi.
Sky tersenyum menatap kedua tangan Shena yang terpaut di perutnya. Rasanya dia ingin memelankan laju motornya saja agar dia tidak cepat sampai dan berhenti. Dia ingin merasakan pelukan itu lebih lama lagi.
Beberapa saat kemudian, mereka sudah sampai di tempat parkir taman hiburan itu bersamaan dengan Ferdi dan Mila.
"Wih, makin lengket aja. Otw pelaminan dah bentar lagi."
Seketika Shena melepas tangannya setelah mendengar candaan dari Ferdi.
"Apaan sih lo! Hubungan lo aja juga tanpa status."
"Aduh, menyakitkan tapi tak berdarah."
Mereka berempat turun dari motor lalu membeli tiket. Setelah tiket terusan itu melingkar di tangan mereka masing-masing, mereka masuk ke dalam taman hiburan itu.
"Shena, mau naik wahana apa?" tanya Sky. Dia kini menggandeng tangan Shena. Meski demikian, Shena tidak menolak genggaman tangan Sky.
"Aku pengen naik roller coaster."
"Berani dong. Aku kan bukan anak kecil lagi." Shena menarik Sky agar segera menuju tempat pengantrian roller coaster. Di belakangnya Mila dan Ferdi mengikuti mereka.
"Shena, lo yakin mau naik ini? Gue gak berani." kata Mila. Belum apa-apa saja dia sudah bergelayut di lengan Ferdi.
"Kan ada aku. Gak usah takut. Nikmati saja sensasinya, nanti pasti ketagihan." Ferdi semakin mengeratkan tangan Mila sambil tertawa kecil.
Mereka semua kini naik roller coaster dan berteriak kencang saat roller coaster itu menanjak lalu turun dengan kencang.
"Seru banget!" Shena tertawa lepas dan sesekali berteriak.
Sky terus menatap Shena. Rasanya dada Sky sangat lega saat melihat tawa lepas Shena seperti ini.
Setelah menjelajah wahana seru, langkah kaki Shena dan Sky berhenti di dekat kolam renang.
"Ayo, jadi gak? Mumpung kolam renang yang dalam gak terlalu ramai."
Shena justru menengok ke belakang dan mencari keberadaan Mila dan juga Ferdi. "Mila sama Kak Ferdi dimana?"
"Mungkin mereka mau berduaan."
Kini Shena hanya terdiam memandang kolam renang itu. Dia teringat kejadian dua belas tahun yang lalu, saat dirinya ditolong Sky dan saat itulah pertama kalinya dia bertemu Sky.
"Aku masih ingat betul, kamu naik dari kolam anak lalu terjatuh ke kolam yang dalam dan tidak bisa berenang."
Shena tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. "Iya, dan sejak saat itu aku mengagumi kamu."
Seketika Sky menatap Shena.
"Meskipun akhirnya rasa kagum itu kamu hancurkan," lanjut Shena.
"Iya, sekarang aku sedang memperbaikinya. Gimana? Kalau gak jadi renang, kita ke kafe yang berada di dekat kolam saja."
Shena tersenyum lalu dia berjalan menuju toilet. "Jadi, aku percaya sama kamu. Kamu gak mungkin buat aku tenggelam. Aku ganti baju dulu ya."
"Oke," Sky juga berganti baju di toilet pria.
Hingga Shena selesai berganti dan memasukkan barang-barangnya ke dalam loker, Sky belum juga muncul. Sepertinya di toilet pria memang antri panjang karena banyak anak-anak di sana.
"Aku mau beli minuman dulu aja. Haus banget." Shena berjalan menuju kafe untuk membeli minuman dingin tapi jalan di pinggir kolam itu sangat ramai. Lagi-lagi banyak anak yang berlarian dan menyenggolnya.
Lantai yang sangat licin itu membuat Shena kehilangan keseimbangan dan hampir terjatuh. Tapi ada seseorang yang menahan tubuhnya dan satu nampan yang berisi dua gelas minuman dingin terjatuh. Pecahan gelas itu berserakan dan membuat manager kafe marah.
"Kerjaan kamu gak ada yang benar! Suruh antar minuman saja, dijatuhkan sampai pecah. Bersihkan cepat! Nanti ada yang terkena serpihan gelas. Mending kamu pulang saja, gak usah kerja lagi kalau terus seperti ini!"
Pria itu melepaskan tubuh Shena dan segera mengambil sapu untuk membersihkan serpihan gelas itu.
"Makasih, maaf." Shena berniat membantu tapi pria itu menolaknya.
"Nggak apa-apa."
"Shena kenapa?" tanya Sky. Setelah keluar dari toilet, dia mencari Shena dan ternyata ada di dekat kafe.
"Dia nolong aku yang hampir jatuh tapi nampannya jatuh dan dua gelas itu pecah. Dia dimarahi sama managernya."
Seketika Sky mendekati manager itu. "Maaf Pak, biar saya ganti. Berapa kerugiannya?" tanya Sky.
Pria itu kini menatap Sky. "Nggak perlu. Ini kesalahan gue. Lo gak usah ganti." Sky dan pria itu saling bertatap tajam. Sepertinya mereka pernah bertemu sebelumnya.
💕💕💕
Like dan komen ya..
Maaf belum bisa double up. Si kecil lagi sakit... 🙏