Love From The Sky

Love From The Sky
BAB 39



Setelah dua bulan berlalu, keadaan masih tetap sama. Sky sama sekali tidak menemui Shena. Bahkan hari itu disaat hari kelulusan Sky, Shena sengaja lewat di depan sekolah Sky tapi Sky hanya melewati motor Shena tanpa menoleh dan tanpa menyapanya.


Shena kini melajukan motornya pulang ke rumah. Sepertinya dia juga harus melupakan Sky, karena dia sendiri juga tidak ada keberanian untuk memanggil Sky.


Beberapa saat kemudian Shena sampai di rumah lalu dia turun dari motornya dan duduk di teras rumah. Dia melihat Arnav dan Reynan datang bersamaan dengan senyum yang mengembang di bibir mereka. Sepertinya mereka mendapat nilai baik setelah pengumuman kelulusan hari itu.


"Kak Rey, tumben ke sini?" tanya Shena.


"Iya, tadi ketemu Arnav di jalan. Aku mau ambil koper sama pamitan." Reynan kini duduk di dekat Shena.


"Memang Kak Rey mau kemana?" tanya Shena.


"Kuliah di Oxford. Satu minggu lagi aku mau berangkat."


"Kok cepat banget, Kak. Aku aja belum terima rapor kenaikan kelas."


"Rey, sebentar gue mau mandi dulu. Lo ngobrol aja," kata Arnav yang kini berjalan masuk ke dalam rumahnya.


"Iya, biar jadwalnya gak terlalu mepet dan bisa mengurus semua di sana. Aku juga berangkat sama Sky."


"Sky?" Shena mengernyitkan dahinya. Itu berarti Sky juga akan kuliah di Inggris.


"Iya, dia juga diterima di kampus yang sama kayak aku."


Shena hanya terdiam. Itu berarti dia tidak akan bertemu dengan Sky lagi dalam waktu yang sangat lama. Apa Sky nanti akan mengingatnya?


"Apa Sky menemui kamu lagi?"


Shena menggelengkan kepalanya. "Sky gak pernah menemui aku lagi."


"Kamu temui gih, sebelum semua terlambat."


Shena menggelengkan kepalanya. Dia tidak berani memanggil atau berbicara pada Sky terlebih dulu. Ya, egonya terlalu tinggi.


"Kenapa? Gak papa. Nanti kamu nyesel kalau dia udah pergi."


"Ya mungkin lebih baik seperti ini. Biar kita sama-sama lupa."


Reynan hanya tersenyum kecil. Tentu saja dia tahu adiknya itu diam-diam sering lewat di depan sekolahnya untuk mengintai Sky. "Beneran? Terus yang diam-diam lewat depan sekolah itu siapa ya."


Seketika pipi Shena memerah. "Kak Rey tahu?"


Reynan menganggukkan kepalanya. "Ya tahu. Makanya jangan gengsi. Kalau mau temui ya langsung aja panggil dan bicara. Jangan diintai."


"Ih, Kak Rey. Aku kan malu. Sampai kapanpun aku gak mau ngajak Sky bicara duluan." Kemudian Shena berdiri dan masuk ke dalam rumah.


"Shena, Shena, tinggal mengakui saja apa susahnya." Reynan kini mengambil ponselnya dan berbalas chat dengan Sky. "Kali ini maafin Kakak ya Shena..." Dia tersenyum kecil sambil mengirim pesan lagi pada Sky.


"Ngomong apa lo sama Shena kok dia uring-uringan di kamar?" tanya Arnav sambil duduk di sebelah Reynan.


"Cuma bilang kalau gue sama Sky mau berangkat ke Inggris."


"Bagus dong."


"Wah, lo sebagai kakak sama sekali gak ngerti perasaan adik lo. Kali ini aja, tolong beri waktu untuk mereka berdua."


Arnav menghela napas panjang. Memang menyakitkan menahan rasa cinta tapi terhalang oleh gengsi. Seperti yang dia rasakan pada Gita. "Memang apa rencana lo?"


...***...


Setelah menerima rapor kenaikan kelas, bukannya senang tapi Shena semakin menekuk wajahnya. Satu minggu sudah telah berlalu, itu berarti sekarang adalah hari keberangkatan Sky ke luar negeri. Dia kesal dengan dirinya sendiri mengapa dia sama sekali tidak ada keberanian untuk menemui Sky.


Shena berjalan masuk ke dalam rumah lalu duduk di sofa ruang tengah bersama Ibunya dengan lemas.


"Ar, sudah registrasi?" tanya Naya pada putranya yang baru saja duduk di sebelah Shena.


Naya hanya tertawa lalu mengacak rambut Shena. "Galau kenapa? Nilai kamu kan bagus, gak akan dimarahi Ayah."


"Ih, aku gak galau." Shena mengambil cemilan di toples lalu memainkan ponselnya agar pikirannya bisa teralihkan dari Sky.


"Rencana mau liburan kemana?" tanya Naya.


Shena hanya mengangkat bahunya. Rasanya dia ingin bermalasan saja di rumah.


"Oiya, sekarang keberangkatan Reynan?" kata Arnav tiba-tiba.


"Loh sekarang berangkatnya?" tanya Naya.


"Iya, dua jam lagi pesawatnya lepas landas."


Seketika Shena menatap jam dinding. Lalu dia berdiri dan berjalan menuju kamarnya tanpa berkata apapun.


Dia kini duduk di depan meja belajarnya lalu meraih surat-surat dari sky yang sudah dia bendel menjadi satu dan sudah dia urutkan tanggalnya.


"Selamat tinggal, Sky..." Shena kini membaca surat-surat itu lagi untuk yang kesekian kalinya.


Tiba-tiba Arnav masuk ke dalam kamar Shena tanpa mengetuk pintu. "Shena, cepat ganti baju. Ayo kita ke bandara."


Seketika Shena menatap kakaknya. "Ngapain, Kak?"


"Ya, susulin Sky. Aku yakin kamu mau bertemu dia."


"Kak, bandaranya itu jauh. Memang bisa sampai sana sebelum satu jam."


"Iya, makanya aku antar biar bisa ngebut. Tawaran dari aku hanya berlaku satu kali."


Seketika Shena mendorong kakaknya keluar. "Sebentar aku mau pakai celana." Shena segera memakai celana lalu memakai jaketnya. Tanpa mencuci mukanya yang kucel, tanpa juga menyisir rambutnya yang berantakan, dia kini keluar dari kamar dan berjalan keluar rumah.


"Kalian berdua hati-hati. Semoga masih ada waktu buat bertemu," kata Naya yang mengikuti mereka sampai teras rumah.


Shena kini memakai helm lalu naik ke boncengan Arnav. Dia memeluk pinggang kakaknya dengan erat.


"Pegangan yang erat aku ngebut dan lewat jalan pintas."


Shena menganggukkan kepalanya. Jelas saja, sekarang Arnav sudah melajukan motornya dengan kencang menuju bandara. Bandara yang lumayan jauh itu harus bisa ditempuh kurang dari satu jam. Jika melaju dengan kecepatan standart biasanya akan sampai 1,5 jam. Belum lagi jika terjebak macet.


"Kak, kayaknya gak akan bisa sampai tepat waktu." Shena menyandarkan dagunya di bahu Arnav. Mereka pasti hanya diizinkan masuk sampai tempat boarding, tidak mungkin bisa memanggil Sky.


"Gak ada salahnya berusaha." Arnav semakin menambah kecepatan laju motornya tapi saat mendekati bandara dan sudah memasuki kawasan tetib lalu lintas, mereka terjebak macet. "Aduh, gak bisa jalan. Macet banget!"


"Udah dekat. Biar aku jalan saja." Shena turun dari motor Arnav lalu dia melewati beberapa mobil dan motor hingga akhirnya dia sampai di bandara. Dia segera berlari masuk ke dalam bandara tepat saat sebuah pesawat lepas landas.


Shena berlari sampai di tempat boarding tapi dicegah oleh petugas.


"Pak, apa pesawat dengan tujuan London sudah lepas landas?" tanya Shena sambil mengatur napasnya.


"Baru saja lepas landas."


Seketika lutut Shena terasa lemas. Dia jatuh berlutut di tempat itu dan menangis. Dia sangat menyesal mengapa dia menyia-nyiakan waktu yang ada dan lebih meninggikan egonya.


"Sky, tega banget kamu ninggalin aku. Apa nanti setelah kamu kembali, kamu masih mengingat aku?" Shena berusaha menghapus air matanya yang tidak berhenti mengalir itu. Beberapa orang menatap Shena yang menangis seperti anak kecil.


"Pasti, aku akan selalu mengingat kamu..."


.


💕💕💕


Like dan komen ya... 🙄😪