Love From The Sky

Love From The Sky
BAB 84



"Sky, gue lihat Shena pingsan dan dibawa Ervin ke ruang kesehatan!" kata Ferdi yang memang menjadi salah satu pengurus mahasiswa baru juga.


"Shena..." Seketika Sky berlari menuju ruang kesehatan. Dia melihat Ervin dengan kedua tangan yang sedang membuka kancing kemeja Shena.


"Apa yang lo lakuin!" Sky mendorong Ervin dengan keras hingga dia menjauh.


"Gue cuma longgarin leher dia aja."


Sky hanya menatap tajam Ervin. Dia tahu, Ervin seorang playboy bahkan korbannya sudah banyak di kampus itu. Dia tidak akan membiarkan Ervin menyentuh Shena sedikitpun.


"Shena, sadar sayang." Sky mengusap pipi Shena tapi tidak ada respon.


"Shena kenapa bisa pingsan?" Arnav juga datang. Dia segera mengambil minyak kayu putih lalu mendekatkan di hidung Shena. Sedangkan Sky memijat jemari Shena.


Jadi dia adik Arnav yang masuk ke kampus ini. Lalu Sky? Apa dia pacar Shena? Menarik, penuh tantangan sekali cewek ini. Ervin hanya melihat kedua lelaki yang sedang khawatir itu.


Akhirnya Shena membuka kedua matanya. Dia kini melihat Sky dan Arnav yang berada di dekatnya.


"Kak Sky, Kak Arnav."


"Shena, akhirnya kamu sadar. Kamu gak enak badan? Kenapa gak bilang sejak pagi. Kamu bisa minta izin sakit."


Shena menggelengkan kepalanya. "Kak Sky, aku tadi pagi gak papa. Tiba-tiba saja kepala aku pusing dan tubuh aku lemas."


"Kamu minum dulu." Arnav mengambil air putih lalu membantu adiknya minum. "Kamu jarang sekali pingsan. Pasti lagi gak enak badan."


Shena menggelengkan kepalanya lagi. "Aku gak papa. Sekarang juga udah hilang pusingnya."


"Kalau kamu udah gak pusing, kembali ke lapangan sekarang," suruh Ervin.


"Eh, lo gila ya! Shena baru saja sadar, udah lo suruh ke lapangan." Sky jelas tidak terima dengan perintah Ervin itu.


"Dia tidak ada sakit serius. Aku harus adil pada maba."


"Kak Sky aku gak papa." Kemudian Shena turun dan berjalan keluar dari ruang kesehatan.


"Shena, tapi kamu pucat." Sky masih saja mengikuti Shena.


"Iya, biar aku bantu kamu meminta izin. Kamu bisa tidak mengikuti kegiatan ini," kaya Arnav.


"Kalian berdua jangan ikut campur dengan kegiatan ini. Kegiatan ini tidak membedakan dia adik atau pacar senior. Shena, cepat kamu bergabung kembali di lapangan," kata Ervin. Dia masih kekeh menyuruh Shena kembali ke lapangan.


"Kak Sky, Kak Arnav. Aku gak papa." Kemudian Shena kembali bergabung dengan mahasiswa baru lainnya.


"Kalau terjadi apa-apa sama Shena, lo mau tanggung jawab!"


Ervin hanya tersenyum miring lalu dia kembali ke lapangan.


Sejak saat itu, Sky mengawasi Shena dari kejauhan. Dia tidak akan membiarkan Shena jatuh pingsan lagi lalu digendong oleh Ervin.


Beberapa kegiatan yang menguras tenaga Shena telah dia lalui. Lagi-lagi badannya terasa lemas. Keringat dingin kembali membasahi pelipisnya. Kali ini ditambah rasa mual di perutnya yang tidak tertahankan.


"Kak, saya izin ke toilet." Tanpa menunggu jawaban, Shena berlari kecil ke toilet.


"Shena, mau kemana?" Sky yang sedari tadi mengawasinya, kini mengikuti Shena.


Shena menghentikan langkahnya. Badannya semakin lemas hingga dia terjatuh di lantai.


"Shena!" Kemudian Sky menahan tubuh Shena. "Kamu istirahat saja. Gak perlu ikut kegiatan ini."


"Kak, badan aku gak enak banget." Lagi, Shena jatuh pingsan. Tanpa pikir panjang, Sky menggendong Shena dan berlari menuju tempat parkir.


"Shena, pingsan lagi. Padahal Shena gak pernah kayak gini," kata Arnav yang sekarang mengikuti langkah Sky.


"Iya, kamu izinkan saja. Aku akan bawa Shena ke rumah sakit sekarang." Sky membawa masuk tubuh Shena ke dalam mobil. Dia turunkan sandaran jok depan lalu memasang sabuk pengaman di tubuh Shena. Setelah itu Sky segera masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya menuju rumah sakit terdekat.


Setelah sampai di rumah sakit, Sky segera membawa Shena menuju IGD. Dia kini menunggu hasil pemeriksaan Shena dengan cemas. Semoga saja tidak ada penyakit serius yang diderita Shena.


"Dengan keluarga pasien?"


"Iya, saya suaminya."


"Syukurlah, Anda suaminya. Istri Anda dinyatakan hamil. Pusing, mual, dan lemas itu adalah tanda morning sickness. Tensi darahnya juga lumayan rendah jadi harus banyak istirahat dan jaga asupan cairan yang masuk agar tidak dehidrasi."


Sky hanya terdiam mendengar penjelasan dari Dokter. Dia masih belum percaya jika saat ini Shena tengah hamil.


"Silakan langsung menuju poli kandungan untuk melakukan USG."


"Iya, Dok. Terima kasih."


Sky kini menatap Shena yang sudah membuka kedua matanya. "Shena, kamu hamil sayang." Kemudian Sky mencium singkat kening Shena.


Shena semakin mengernyitkan dahinya dan menatap Sky. "Hamil?"


Sky menganggukkan kepalanya sambil tersenyum lebar. "Sekarang kita periksa ke dokter kandungan. Semoga semua sehat."


Shena masih terlihat bingung. Bahkan wajah Shena kini hanya datar saja tanpa ekspresi.


Setelah sampai di poli kandungan, Shena langsung melakukan USG dan benar saja, kantong janin itu sudah terlihat bahkan sudah berusia sekitar 8 minggu.


"Kantong janinnya sudah terlihat. Sebentar saya perjelas dulu." Dokter itu tersenyum saat melihat ada dua janin yang telah berkembang. "Wah, selamat, ada dua janin yang telah tumbuh di dalam rahim bunda."


Seketika Sky dan Shena terkejut. "Maksudnya kembar?"


"Iya, dua janin dalam satu kantong. Semoga semua perkembangannya bagus." Dokter itu mencoba mencari detak jantung tapi belum terdeteksi. "Detak jantung belum terdeteksi, nanti kembali USG dua minggu lagi. Semoga ada perkembangan yang bagus untuk kedua janin."


"Iya, Dok."


"Apa memang ada keturunan kembar?"


"Iya, saya punya saudara kembar," jawab Sky.


"Pasti meniru gen Ayahnya."


Bibir Sky tak hentinya menyunggingkan senyum. Dia sangat bahagia akan memiliki dua anak sekaligus. Dia pasti akan semakin menjaga dan memanjakan Shena.


Sedangkan Shena hanya terdiam, bahkan sampai Dokter menjelaskan, hanya Sky yang aktif bertanya mengenai kehamilan di trimester pertama.


Setelah itu, mereka berdua keluar dari poli kandungan dan berjalan menuju tempat parkir. Satu tangan Sky tak lepas dari pinggang Shena.


"Sayang, makasih ya. Aku benar-benar bahagia."


Shena masih saja terdiam. Hingga mereka berdua masuk ke dalam mobil, masih belum ada senyuman yang tercetak di bibirnya. Dia kini duduk sambil menatap kosong hasil USG pertamanya.


"Sayang, kenapa kamu sedih gini? Kamu gak bahagia kita akan punya anak?"


Seketika Shena menangis. "Aku..."


"Sssttt, jangan nangis." Sky meraih Shena dan mendekapnya. "Kamu belum siap punya anak?"


"Bukan seperti itu, tapi aku saja baru hari pertama masuk kuliah. Bagaimana dengan kuliah aku selanjutnya? Aku juga belum bisa apa-apa dan akan punya dua anak sekaligus."


Sky semakin mengusap rambut Shena agar dia lebih tenang. Dia tahu, jika perasaan ibu hamil sangat sensitif. "Aku tahu kekhawatiran kamu. Ada aku yang akan selalu menemani kamu."


💞💞💞


Like dan komen ya...