
"Shena kenapa?" tanya Vicky pada Arnav. Dia juga satu kampus dengan Arnav dan lainnya meskipun berbeda fakultas. Hanya Vicky yang mengambil fakultas teknik mesin karena dia ingin meneruskan usaha bengkel Papanya.
Arnav mematikan panggilannya setelah menghubungi Sky. "Kita akan punya ponakan."
"Maksud lo?"
"Shena hamil. Kembar lagi."
Gita yang berada didekat Arnav juga menyahutinya. "Kembar? Ih, pasti lucu banget."
"Iya. Nanti kita jenguk ke rumahnya. Ayah sama Ibu pasti juga senang banget. Sekarang, kamu antar aku untuk mengizinkan Shena dan mengurus kartu pembatasan fisik, karena Shena masih mau ikut ospek dua hari lagi," kata Arnav.
"Oke, ke Bu Ratna aja pasti dibantu prosesnya." Kemudian Arnav dan Gita pergi meninggalkan Vicky.
Vicky hanya menghela napas panjang. "Gini nih, punya saudara satu kampus, yang satu udah nikah, yang satu udah punya pacar, cuma gue yang jomblo." Kemudian Vicky bergabung dengan teman lainnya sebelum jam istirahatnya selesai.
Saat membalikkan badannya, tak sengaja dia menabrak seseorang hingga buku yang dipegang wanita itu terjatuh.
"Maaf, saya tidak lihat." Vicky mengambil buku yang terjatuh itu lalu memberikannya pada wanita itu. Mereka kini saling bertatapan. "Nike!"
Nike tidak mengambil buku yang ada di tangan Vicky. Dia membalikkan badannya dan berlari meninggalkan Vicky.
"Nike tunggu!" Langkah kaki Vicky terhenti saat melihat Nike masuk ke dalam ruang dosen. "Apa Nike dosen di sini?"
"Lo gak sopan banget manggil Bu Nike kayak gitu," kata salah satu senior yang berada di dekatnya.
"Nike, eh, maksudnya Bu Nike itu dosen di sini?"
"Iya, dosen di fakultas sastra."
Seketika dada Vicky berdebar tak karuan. Seorang dosen? Gila, aku udah lakuin itu sama dosen.
Vicky berjalan pelan kembali ke kelasnya. Dia menatap buku yang masih ada di tangannya. Sastra Jepang?
Vicky mengacak rambutnya lalu duduk di depan kelas. Dia benar-benar tidak menyangka jika Nike adalah dosen di kampusnya.
Sedangkan Nike kini duduk di kursinya. Dia menarik napas panjang lalu membuangnya. "Jadi Vicky masih anak maba. Ya ampun, kirain dia udah lulus kuliah." Nike melepas kacamatanya lalu memijat pelipisnya yang terasa pusing.
Dia mengingat lagi kejadian malam panas itu. Dia akui, meskipun Vicky masih muda dan amatir tapi Vicky mampu membuatnya lemas berkali-kali dan kehabisan tenaga malam itu.
Tiba-tiba dia teringat sesuatu, dia mengambil ponselnya dan melihat kalender.
Aku udah telat satu minggu. Gak mungkin kan aku hamil. Aku udah minum obat setelah melakukan itu sama Vicky.
"Bu Nike terlihat pucat. Bu Nike sakit?" tanya Dosen lain yang satu ruangan dengan Nike.
"Iya, sepertinya mau kena flu," jawab Nike asal. Padahal wajahnya memucat karena bertemu Vicky, detak jantungnya menjadi sangat cepat. Bahkan sampai sekarang masih belum stabil.
...***...
Setelah ospek hari pertama usai, Vicky berjalan ke tempat parkir sambil mengedarkan pandangannya berharap dia bertemu dengan Nike lagi. Dia tidak mungkin ke fakultas sastra karena hari itu sudah sore, pasti sudah tidak ada kelas di sana.
Sampai tempat parkir, dia menaiki motornya tapi isi di kepalanya masih saja memikirkan Nike.
Cari gak ya?
Vicky sudah duduk di atas motornya tapi tak juga melajukan motornya.
Biarinlah, kalau jodoh pasti akan mendekat lagi.
Kemudian dia melajukan motornya keluar dari tempat parkir kampus. Di pinggir jalan dia melihat Nike sedang berdiri dengan Mila. Seketika Vicky menghentikan motornya di dekat Mila.
"Vicky, ada apa?" tanya Mila.
Pandangan Vicky terus menatap Nike, sedangkan Nike berusaha mengalihkan pandangannya dari Vicky.
"Oiya, kenalin ini tante aku namanya Nike. Tante Nike juga Dosen baru di sini."
Nike membalas suluran tangan Vicky hanya sesaat tanpa berkata apapun. Untunglah mobil grab yang dia pesan sudah datang.
"Mila, ayo bareng tante saja."
Mila menggelengkan kepalanya. "Aku udah janjian sama Kak Ferdi. Tante duluan saja gak papa."
"Ya udah, hati-hati ya. Langsung pulang, ini sudah sore."
"Iya, Tante."
Kemudian mobil grab itu melaju. Vicky masih terdiam di tempatnya. Dia sangat ingin tahu tentang Nike. "Nike, eh, maksudnya Bu Nike beneran tante kamu?"
Mila menganggukkan kepalanya. "Iya, masih terlihat muda ya. Tante Nike itu sangat pintar, dia baru lulus S1 di Jepang dan bisa langsung lolos perekrutan dosen. Jadi sekarang Tante Nike mengejar S2 sambil jadi Dosen."
"Tante kamu tinggal dimana?" tanya Vicky ragu.
"Di rumah gue. Kenapa lo tanya-tanya Tante Nike? Naksir ya? Tante Nike sekarang jomblo setelah batal tunangan. Eh, tapi kalau lo sama Tante Nike, masa iya lo jadi Om gue." Mila tertawa dengan keras. "Gak yakin juga Tante Nike suka sama brondong."
Vicky tak tertarik dengan candaan Mila. Dia sangat ingin tahu tentang Nike. "Bisa ngobrol sebentar gak?"
"Apa?" Mila juga merasa aneh dengan tingkah Vicky saat ini. Biasanya Vicky enggan mengobrol dengannya tapi kenapa kali ini tiba-tiba ingin mengobrol?
"Nanti malam kita mengobrol di kafe dekat rumah lo. Ada sesuatu yang mau gue tanyakan."
"Oke, eh, keadaan Shena gimana? Gue chat tapi belum dibalas juga." tanya Mila karena sedari tadi dia juga belum bertemu dengan Arnav maupun Ferdi.
"Shena lagi hamil, makanya dia pingsan."
Seketika senyum mengembang di bibir Mila. Dia memegang lengan Vicky sambil melompat senang. "Beneran? Gak nyangka Shena akan jadi mama muda. Harus ucapin selamat nih."
Beberapa saat kemudian Ferdi berhenti di belakang motor Vicky. "Mila gue duluan ya."
"Oke."
Ferdi hanya terdiam menatap Mila. Dia tidak pernah melihat Mila tersenyum bahagia seperti ini. Apa karena Vicky mendekatinya dia jadi bahagia?
"Baru diajak mengobrol sama Vicky udah sebahagia ini?"
Seketika Mila beralih menatap Ferdi. "Iyalah, kan dapat kabar bahagia dari Vicky."
Ferdi masih saja menekuk wajahnya.
"Kak Ferdi, aku nanti malam mau mengobrol dengan Vicky di kafe," kata Mila. Tentu saja apa yang akan dia lakukan selalu bilang terlebih dahulu sama Ferdi.
"Iya, terserah kamu."
"Ih, Kak Ferdi marah." Mila memakai helmnya lalu naik ke boncengan Ferdi. "Aku seneng tuh karena Shena dinyatakan hamil. Aku mau jadi aunty."
"Hamil? Kok Arnav gak bilang sama aku. Sky juga gak chat."
"Kak Ferdi kan sedari tadi sibuk. Terus nanti temani aku ya ke kafe. Kayaknya Vicky naksir sama Tante Nike."
"Tante kamu yang baru pulang dari Jepang itu?"
Mila menganggukkan kepalanya lalu dia memeluk Ferdi dari belakang.
"Masak iya Vicky sukanya sama tante-tante."
"Kalau Tante Nike sih gak kayak tante-tante. Bahkan dia terlihat masih muda kayak seumuran aku."
Ferdi akhirnya tersenyum. Ternyata, Mila tidak seperti yang ada dipikirannya.
💞💞💞
Like dan komen ya...