
"Wellcome to our home." Sky membuka pintu rumahnya bersama Shena. Hari itu, Shena memang sudah diperbolehkan pulang.
Shena tersenyum melihat ruang tamu yang didekorasi cantik menyambut kepulangannya dan si kembar.
"Ares, Ara, ini rumah kita." Sky menggendong kedua anaknya secara bersamaan di tangan kanan dan kirinya.
"Sky, hati-hati kalau gendong," kata Bu Ida yang ikut mengantar kepulangan mereka.
"Masih mungil, masih bisa aku gendong sekalian gini." Sky mengajaknya duduk di sofa ruang tamu. "Cepat besar ya, biar cepat bermain bersama di sini. Nanti Papa belikan banyak mainan, kalian berdua harus akur dan saling menjaga."
Shena ikut duduk di samping Sky. "Sini, Ara biar sama aku."
"Sayang, kamu istirahat saja," kata Sky.
Shena menggelengkan kepalanya lalu mengambil Adara dari tangan Sky. "Aku mau nemenin mereka dulu. Udah seminggu full Kak Sky urus si kembar."
"Udah, udah, kalian berdua saja yang istirahat, biar kita yang mengurus si kembar," kata Bu Ida.
"Biar aku saja tante yang gendong." Gita juga ikut ke rumah Sky dan langsung menggendong Ares. "Tambah lucu banget pakai jumpsuit gini." Gita sangat gemas dan menciumi pipi bulat dan lembut itu.
"Shena kamu istirahat saja, Ibu juga mau bantu bibi masak buat makan malam kita."
"Sky, ajak istirahat. Kamu juga gak pernah tidur kan di rumah sakit," suruh Mamanya Sky.
Sky akhirnya mengajak Shena ke kamarnya. "Sekarang kamu istirahat. Si kembar aman sama oma dan aunty nya."
"Barang-barang Ares sama Ara rapi banget. Ada box besar juga." Shena melihat box bayi yang berukuran jumbo berada di kamarnya.
"Ini semua juga kedua orang tua kita yang atur. Mereka sangat senang menyambut cucu pertama. Nanti setelah si kembar satu atau dua tahun, biar mereka tidur di kamar sendiri." Sky menarik tangan Shena agar segera merebahkan dirinya di atas ranjang. "Kamu istirahat dulu, biar cepat pulih."
Shena mengangguk lalu memeluk Sky yang berada di sampingnya.
"Shena, perjuangan kamu sangat besar. Aku janji, seumur hidup aku, aku akan selalu bersama kamu dan membahagiakan kamu."
"Janji ya? Sampai kita tua bersama."
"Iya, janji. Apapun masalah dalam rumah tangga kita nanti, jangan pernah ada kata berpisah di antara kita." Kemudian Sky mencium singkat bibir Shena.
Shena semakin mengeratkan pelukannya lalu dia tertidur dalam dekapan Sky.
"Akhirnya bisa tidur sambil peluk kamu lagi, nanti malam akan ada si kembar di antara kita." Sky mengusap rambut Shena agar tidurnya semakin nyenyak.
...***...
"Shena dan si kembar udah pulang ke rumah. Mereka lagi kumpul-kumpul di rumah Sky. Kamu mau ikut?" tanya Vicky sambil membaca grup chat keluarganya.
Nike hanya menggelengkan kepalanya. Tinggal dua hari lagi hari perkiraan lahirnya. Rasanya Nike sudah malas untuk berpergian. Sudah beberapa hari juga dia sering merasakan kontraksi palsu.
"Aku udah malas kemana-mana. Sedari tadi sebenarnya perut aku udah mulas."
Seketika Vicky mengusap perut Nike yang terasa kencang. "Kita ke rumah sakit sekarang saja."
Nike masih saja menggelengkan kepalanya. "Nanti aja kalau sakitnya makin intens." Dia kini berdiri dan berjalan menuju dapur.
"Mau buat apa?" Vicky masih saja mengikutinya.
"Mau buat susu."
"Sini aku buatkan."
"Nggak usah, aku harus banyak gerak biar lahirnya cepat." Nike kini membuat segelas susu lalu dia meminumnya sambil duduk. Selama hamil, Nike memang tidak terlalu merepotkan Vicky.
Vicky masih saja mengamati Nike. Sebenarnya dia takut apa yang terjadi pada Shena akan terjadi pada Nike. Dia tidak mau hal itu sampai terjadi. Tapi Nike justru santai, tidak seperti dirinya yang mudah panik dan tegang.
"Aku takut banget. Apalagi Shena sampai koma setelah melahirkan." Kemudian Vicky menggenggam tangan Nike.
Nike semakin tertawa. "Ya memang seperti itu. Ibu melahirkan itu bertaruh nyawa. Kak Vicky harusnya memberi semangat aku dan berdo'a. Ini aja kayaknya mau lahiran hari ini. Kontraksinya udah teratur dari tadi."
"Kenapa kamu bisa tenang? Aku gak bisa tenang. Ayo, kita ke rumah sakit saja."
"Kan aku sudah bilang mau melahirkan di bidan dekat sini aja. Aku kan juga sudah beberapa kali periksa disitu."
"Kenapa di bidan? Di rumah sakit aja. Aku ada uang buat biaya kamu melahirkan di rumah sakit."
"Ini bukan soal uang. Aku mau tempat yang nyaman aja dan berangkatnya dekat. Udah, jangan panik, jangan buat aku tegang." Nike mengusap perutnya lagi yang terasa mulas.
"Kenapa ribut gini?" tanya Laras yang kini mendekati mereka. "Nike, udah mulai kontraksi?"
"Iya, Ma. Ini udah mulai intens."
"Vicky, siapkan barang-barang yang dibawa agar nanti tinggal berangkat," suruh Laras pada Vicky.
"Iya, Ma." Kemudian Vicky masuk ke dalam kamarnya dan mengambil tas bersalin yang sudah berisi lengkap dan tinggal mengeceknya saja. "Bisa-bisanya Mama juga tenang gini. Aku aja udah panik banget."
Setelah memastikan perlengkapan yang akan dibawa, Vicky kembali menemani Nike di ruang tengah. "Kamu sampai keringetan gini, ayo berangkat saja."
"Tunggu sebentar. Bidannya juga dekat."
"Astaga, aku beneran khawatir. Kamu bisa santai gini merasakan sakit." Vicky kembali mengusap perut Nike.
"Iya memang sakit tapi kalau aku panik sakitnya akan semakin terasa." Nike menarik napas panjang laku menghembuskannya lagi. "Satu atau dua jam lagi saja kita berangkat. Aku mau ke kamar mandi dulu."
Vicky dengan sigap membantu Nike ke kamar mandi. Setelah dari kamar mandi, Vicky membantu Nike duduk di tepi ranjang lalu memakaikan cardigan di tubuh Nike. "Biar gak dingin. Sebentar lagi kita berangkat saja."
Nike hanya terdiam. Dia mencengkeram ujung dasternya sendiri karena rasa mulas itu terasa semakin intens.
"Kalau sakit pegangan aku." Vicky meraih kedua tangan Nike dan menggenggamnya. "Aku ngerti kamu mandiri banget tapi aku suami kamu, harusnya kamu mengeluh atau manja sama aku."
Nike masih bisa tersenyum kecil. Dia kini bersandar di bahu Vicky. "Selama aku masih bisa mengatasinya, aku udah terbiasa mengatasi sendiri."
"Tapi sebagai suami, aku ingin manjain kamu. Dengerin kamu mengeluh, agar aku tahu apa yang harus aku lakukan."
"Kak Vicky cukup temani aku berjuang saja."
Vicky semakin mengeratkan pelukannya dengan satu tangan yang masih setia mengusap perut Nike. "Aku makin sayang sama kamu." Kemudian Vicky mencium singkat bibir Nike.
"Mulai sekarang libur sampai beberapa bulan, gak boleh main-main tiap malam."
"Siap. Udah dapat jatah banyak tiap malam dari kamu."
Nike semakin tersenyum. Berada di dekat Vicky memang selalu membuatnya bahagia.
"Aduh, kayaknya udah mau keluar. Berangkat ke bidan sekarang aja."
Mendengar hal itu, Vicky kembali panik. "Iya, iya. Ayo, kita berangkat sekarang."
💞💞💞
Papa muda satu ini gemes. 🥰
Yang pada penasaran Ara tertukar atau gak, tenang, di season ini gak ada drama itu ya. Siapa tahu di season selanjutnya jodohnya Ares. Wkwkwk, pokoknya ada deh, othor udah mikirin kisah lanjutan mereka semua. Pokoknya yang season ini tinggal beberapa bab lagi tamat.
Kisahnya Arion akan meluncur sebentar lagi karena voting terbanyak kemarin pilih Arion, yang pilih Azka tenang saja nanti juga akan aku kerjain. Pelan tapi pasti ya... 😂ðŸ¤