Love From The Sky

Love From The Sky
BAB 23



Seketika Sky menatap Reynan. Dia tidak percaya jika Reynan mendukungnya setelah apa yang dilakukannya pada Shena. "Tapi gue gak berani. Shena gak mungkin mau gue dekati."


"Lo berani berbuat harus berani bertanggung jawab." Reynan menepuk bahu Sky untuk meyakinkannya. "Lo sebenarnya ada hati gak sama Shena?"


Sky terdiam. Dia juga tidak tahu dengan perasaannya sendiri tapi yang jelas sejak bertemu Shena dia selalu terbayang-bayang Shena. "Gue gak tahu."


"Terus lo lakuin kemarin itu gak pake hati. Njir, saking enaknya sampai gak diangkat," kata Ferdi.


Sky mengambil bantalnya dan melempar Ferdi. "Lo tahu darimana kabar itu. Awas lo sampai yang lain dengar. Kasihan Shena kalau sampai berita itu menyebar."


"Kan lo sendiri yang bilang sama gue waktu hari pertama masuk rumah sakit."


"Iya, gue lupa." Sky menggaruk kepalanya sendiri. Saking sibuknya memikirkan Shena dia lupa jika dia pernah curhat dengan Ferdi.


"Gue dengar, Shena sudah boleh pulang besok. Mau ke ruangannya lagi?" tanya Reynan.


Sky memang sangat ingin melihat kondisi Shena tapi dia tidak ingin membuat Shena marah dan sedih lagi. Akhirnya Sky menggelengkan kepalanya.


"Kalau sama gue, lo tenang aja, Arnav gak mungkin hajar lo lagi dan gue pastiin lo bisa masuk ke dalam ruangan Shena dengan tenang."


"Bukan masalah itu, gue gak mau buat Shena sedih lagi. Mungkin dia masih trauma sama gue."


Ferdi semakin tertawa. Baru kali ini dia melihat Sky takut bertemu perempuan. "Lo kasar, makanya Shena trauma."


Sky semakin menatap tajam Ferdi. Sahabatnya yang setia kawan memang hanya Ferdi tapi dia selalu saja berkata seenaknya.


"Iya, gue tahu kesalahan lo sangat fatal tapi gak ada salahnya kan kalau lo mau memperbaikinya," kata Reynan lagi.


Sky masih saja berpikir. "Lo benar, gue gak boleh nyerah. Gue harus dapatkan kata maaf dari Shena. Fer, lo beliin gue buket bunga di seberang rumah sakit."


"Kok jadi gue yang disuruh. Gue jadi turun ke bawah terus naik lagi. Capek, mana belum makan lagi," keluh Ferdi.


Sky mengambil uangnya lalu dia berikan pada Ferdi. "Nih, lo ambil kembaliannya. Nanti makan di sini aja."


"Kalau kembaliannya lebih-lebih gini gue baru mau." Kemudian Ferdi keluar dari ruangan Sky.


Reynan hanya tersenyum kecil. Ternyata Sky romantis juga, dia berinisiatif membawa bunga untuk Sky.


"Lo kenapa gak gabung geng phoenix kalau lo memang saudaranya Arnav?" tanya Sky.


"Ya sebenarnya gue gabung, tapi gue emang jarang banget nongkrong. Bahkan selama lebih dari enam bulan ini gue gak pernah ke basecamp dan ngumpul sama teman lainnya. Gue juga tahu kalau sedari dulu lo musuhan sama Arnav. Gue tahu gimana lo diluar geng dan gue juga tahu persis gimana Arnav. Kalian sama-sama keras, dan sama-sama percaya sama anak buah di geng. Tapi sayang sekali, tidak semua orang bisa dipercaya."


"Gue mau bubarin geng Langit. Gue merasa dikhianati setelah apa yang mereka lakukan sama gue. Meskipun Rafka dan lainnya udah ditahan, tapi sepertinya mereka semua hanya butuh nama geng itu bukan kesetiakawanan."


Beberapa saat kemudian, Ferdi datang dengan membawa sebuket bunga mawar yang cantik sesuai pesanan Sky.


"Pintar juga lo milih," kata Sky. Dia melihat buket bunga mawar berwarna merah yang cantik itu. Semoga saja Shena mau menerimanya


"Kalau gue lebih suka sama buket uang asli," kata Ferdi.


"Gue gak tanya lo!" Kemudian Sky turun dari brankarnya dan Reynan membantunya membawa tabung infus.


"Mau kemana?" tanya Ida yang melihat mereka bertiga berjalan menuju pintu.


"Mau menemui Shena, Ma."


"Jangan, nanti kamu dipukuli Arnav lagi. Kamu baru saja membaik," kata Ida. Dia sangat takut jika Arnav memukuli Sky lagi dan kondisi Sky kembali menurun.


"Tante tenang saja, ada saya. Arnav gak mungkin mukulin Sky."


"Iya Ma, Rey juga saudara Arnav dan Shena. Mama tenang saja ya."


"Ya sudah, cepat kembali. Jangan lama-lama."


Kemudian mereka bertiga berjalan menuju ruangan Shena.


"Jalannya pelan banget." Meski demikian, Ferdi kini memapah Sky berjalan.


Setelah sampai di ruangan Shena. Mereka bertiga masuk. Arnav dan Vicky seketika menatap tajam Sky.


"Ngapain lo ke sini lagi!"


"Tenang dulu. Gue yang ajak Sky ke sini," kata Reynan yang menahan Arnav mendekat.


"Rey, kenapa lo ajak Sky? Lo gak boleh masuk." Arnav masih saja menahan Sky.


"Arnav, sudah biarkan saja," kata Naya. "Kalian berdua ikut Ibu tunggu diluar."


"Tapi Ibu..."


"Sudah, di sini ada Reynan. Jangan buat keributan lagi." Naya menarik Arnav agar mengikutinya keluar.


Vicky semakin menatap tajam Sky saat berjalan keluar. "Lo buat Shena sedih lagi, gue habisi lo!"


"Vicky!" panggil Naya.


"Iya, Tante." Vicky akhirnya keluar dari ruangan Shena.


Shena yang sedang merebahkan dirinya di atas brankar hanya menatap kedatangan mereka bertiga.


"Shena, gimana keadaan kamu?" tanya Reynan memulai pembicaraan.


"Udah membaik. Besok juga udah boleh pulang."


"Shena, aku ke sini mau minta maaf sama kamu." Sky mengulurkan buket bunga itu pada Shena.


Shena memang menerima bunga itu tapi lalu melemparnya ke lantai.


Ferdi hanya mengusap dadanya, dia baru pertama kali ini melihat temannya dicampakkan begitu saja. "Aduh, pasti sakit." Kemudian dia duduk di sofa dan hanya menyaksikan drama itu dari kejauhan.


Sky masih saja berdiri di dekat brankar Shena yang kini memunggunginya.


"Lo bicara berdua saja." Reynan menggantung tabung infus Sky di tiang infus lalu dia duduk di sofa bersama Ferdi.


"Lo pergi, gue gak mau ketemu lo lagi!" bentak Shena.


"Shena, aku tahu kesalahanku sangat besar sama kamu. Tapi aku akan terus minta maaf sama kamu. Bahkan kalau perlu setiap hari sampai kamu bisa memaafkan aku."


"Buat apa? Kata maaf itu gak bisa mengembalikan keadaan."


"Iya, setidaknya izinkan aku memperbaikinya."


"Gak bisa! Udah lo pergi aja! Kak Rey, bawa dia pergi!" teriak Shena.


"Iya, aku akan keluar. Tapi setiap hari aku pasti akan menemui kamu."


Reynan berdiri lalu membantu Sky membawa tabung infusnya lagi. "Shena, gak ada salahnya kamu memaafkan Sky."


"Kak Rey, sampai kapanpun aku gak akan maafkan dia!"


"Ya sudah. Cepat sembuh ya. Nanti setelah antar Sky, aku ke sini lagi." Reynan mengusap puncak kepala Shena lalu dia pergi bersama Sky dan Ferdi.


Setelah mereka pergi, Shena mengambil buket bunga yang berada di dekat brankarnya. Bunga yang sangat cantik, rasanya dia ingin mencium keharuman dari bunga itu.


"Nggak! Ini dari Sky!" Shena kembali membuangnya. Lalu dia meluruskan tubuhnya dan menatap langit-langit. "Gue benci sama lo! Tapi kenapa lo selalu muncul dalam mimpi gue!"


💕💕💕


.


Like dan komen ya...