
Vicky terkejut saat mendengar kabar jika Sky kecelakaan. Dia kini berada di tempat latihan renang karena pelatih dan pemilik klub aquatik mengadakan pertemuan secara mendadak untuk mengganti posisi Sky.
Sepertinya Vicky bisa membaca siapa dalang dibalik kecelakaan Sky. Tak lupa dia mengajak Arnav untuk memastikan semua ini.
"Karena Sky mengalami kecelakaan dan harus operasi, Vino yang akan menggantikan Sky bertanding. Dia bukan lagi sebagai pemain cadangan."
Vicky mengepalkan tangannya. Dia bisa terima saat posisi cadangan yang seharusnya dia tempati dan ikut terbang ke Jepang tiba-tiba diganti oleh Vino. Bahkan Sky membelanya mati-matian tapi tetap diduduki Vino. Padahal jika dibandingkan dengan Vicky, keahlian Vino jelas jauh tertinggal.
"Saya keberatan!" Vicky mengangkat tangannya. Kali ini, dia akan menentang keputusan pemilik klub aquatik itu. "Saya diam saja waktu bapak menganti posisi saya dengan Vino, tapi tidak kali ini! Saya tahu prestasi bisa dibeli dengan uang. Tapi apa harus sampai mencelakai seseorang!"
"Vicky, kamu bicara apa?" Pak Albert jelas tidak akan mempertimbangkan bantahan Vicky.
"Pak Albert, sejak Bapak memegang klub ini, Vino yang sebelumnya terbuang dari klub tiba-tiba Bapak masukkan dan langsung menjadi anggota profesional. Saya yang harusnya masuk kualifikasi bersama Sky bertanding di Jepang, tiba-tiba Bapak singkirkan begitu saja!"
"Saya sudah diskusi dengan Pak Remon."
"Pak Remon, apa benar ini keputusan Bapak? Saya tidak tahu apa yang Bapak katakan pada Sky waktu itu hingga Sky marah. Silakan katakan pada saya secara langsung!"
Pak Remon hanya terdiam. Wajahnya terlihat menegang.
"Kenapa Bapak hanya diam?" Vicky membuang napas kasar. "Pak Albert tidak bisa menyingkirkan Sky karena nama klub ini dibesarkan oleh Sky, tidak ada alasan Pak Remon maupun Pak Albert mengganti Sky. Tapi bagi pemain cadangan, tinggal menyingkirkan pemain utama maka dengan mudah dia akan menggantikannya."
"Lo nuduh gue!" Vino semakin menantang Vicky. "Gue emang gantiin posisi lo, tapi lo gak bisa fitnah gue kayak gitu!"
Vicky mengeraskan rahangnya. "Karena kecelakaan itu disengaja."
"Emang lo lihat sendiri kecelakaan itu!"
"Gue saksi matanya!" Arnav berjalan mendekati Vicky. "Gue tahu persis mobil itu sengaja menabrak Sky."
Vino tersenyum miring. "Kalian tidak bisa menuduh tanpa bukti."
"Karena yang diuntungkan dari musibah yang menimpa Sky hanya lo! Lo gak mikir, kalau apa yang lo lakuin itu bisa membuat Sky cacat seumur hidupnya."
Vino menyergap krah jaket Vicky. "Lo jangan asal tuduh gue! Gue bisa tuntut balik lo!"
"Sudah cukup!" Pak Albert melerai mereka berdua. "Keputusan saya sudah bulat. Vino yang akan menggantikan Sky bertanding!"
"Pak Remon! Apa Pak Remon rela pertandingan penting itu digantikan oleh orang yang menyogok tanpa prestasi!"
Pak Remon hanya diam, dia tidak berkata apapun.
"Oke, saya akan keluar dari klub ini. Percuma saya di sini kalau prestasi saja bisa dibeli dengan uang. Kita lihat saja! Vino tidak akan memenangkan apapun di Jepang!" Vicky keluar dari ruang latihan itu. Dia dan Arnav kini berhenti di tempat parkir.
Vicky menarik napas panjang karena degup jantungnya sangat cepat setelah meluapkan emosinya.
"Lo udah lama kenal Vino?" tanya Arnav.
"Beberapa bulan ini, sejak dia masuk ke klub aquatik ini. Dia adik kelas Sky. Dulu saat Sky vakum dia yang mewakili sekolah bertanding, tapi karena Vino selalu kalah, akhirnya digantikan oleh Sky, dan empat bulan yang lalu dia masuk klub ini sejak kepemilikan berganti Pak Albert dan langsung masuk tim profesional, sedangkan skillnya jauh di bawah Sky. Selama ini Sky tidak pernah mempermasalahkan hal itu. Gue lihat Sky marah saat posisi gue yang harusnya jadi pemain cadangan di tim Sky, digantikan sama dia. Gue juga sempat dengar rumor kalau Ayah Vino menyuap Pak Albert agar Vino bisa mengikuti pertandingan di Jepang." Vicky mengusap wajahnya. "Mau jadi apa atlet negara ini, jika semua bisa disuap."
"Kita tunggu Vino, lalu kita cegat dia. Hubungi anak-anak suruh berkumpul."
"Lo mau ngapain? Ayah Vino seorang polisi."
Seketika Arnav menatap Vicky. "Polisi? Pantas saja. Kalau Sky tidak bisa ikut pertandingan, dia juga tidak bisa ikut!" Kemudian Arnav menghubungi teman satu gengnya. "Nanti malam kalian tunggu di pertigaan seperti biasa."
Arnav kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku. "Gue hanya ingin menggertak dia! Lo bawa Pak Remon, karena sepertinya Pak Remon tahu sesuatu. Kita selesaikan semuanya malam ini." Arnav menaiki motornya dan memakai helmnya. Kemudian dia melajukan motornya dengan kencang.
...***...
Setelah operasi selesai, Sky dipindahkan ke ruang rawat dan masih belum sadarkan diri. Shena terus menunggu Sky di sampingnya sambil menggenggam tangan kanan Sky.
"Shena, kamu makan dulu. Sedari tadi belum makan," suruh Naya
Shena hanya menggelengkan kepalanya. Rasa lapar itu hilang dari perutnya. Bagaimana dia bisa dia makan jika Sky saja belum sadarkan diri.
"Kata suster, sebentar lagi Sky akan sadar. Efek obat biusnya akan hilang."
Shena hanya menganggukkan kepalanya.
Benar saja, beberapa saat kemudian Sky membuka kedua matanya. Seketika Shena tersenyum dan mengusap rambut Sky. "Kak Sky akhirnya bangun juga."
"Shena..." Sky menatap Shena sesaat lalu beralih menatap kedua orang tuanya dan kedua mertuanya.
"Sky akhirnya kamu sadar. Beberapa saat lagi, Dokter akan memeriksa kamu." Bu Ida juga mengusap rambut Sky.
Sky hanya mengangguk pelan. Tangan kanannya perlahan menggenggam tangan Shena. "Ma, Pa, biarkan Shena yang menjaga aku malam ini. Mama dan Papa pulang saja."
"Tapi Sky..."
Pak Alex memotong kalimat istrinya. "Iya, sebentar lagi kita akan pulang."
"Ya sudah, nanti kamu makan dulu ya. Obatnya juga diminum," pesan Bu Ida. Dia mengerti pasti Sky ingin mencurahkan isi hatinya pada Shena.
"Shena, kamu juga cepat makan. Ini makanan buat kamu dan juga Sky."
Shena hanya menganggukkan kepalanya.
"Ibu dan Ayah pulang dulu ya, nanti kalau ada apa-apa kamu telpon kita."
"Iya, Ayah."
Kemudian kedua orang tua Sky dan Shena keluar. Kini Shena dan Sky hanya saling tatap sampai Dokter datang dan memeriksa kondisi Sky.
"Bagus, semua sudah stabil. Dibantu untuk makan lalu obatnya diminum."
"Iya, Dok."
Setelah dokter dan suster itu keluar, Shena sedikit menegakkan brankar Sky lalu menyuapinya. "Kak Sky makan dulu ya."
"Kamu dulu yang makan. Aku bisa makan sendiri."
Shena menggelengkan kepalanya dan tetap menyuapi Sky. Akhirnya mereka berdua makan tanpa suara. Hingga makanan itu telah habis dan Sky sudah meminum obatnya, Shena kembali menurunkan brankar Sky ke posisi semula.
"Shena, aku butuh pelukan kamu..."
💞💞💞
Like dan komen ya ..