
Setelah membersihkan dirinya, Sky kini merebahkan tubuhnya di samping Shena yang sudah tertidur. Dia pandangi wajah Shena yang terlihat lelah.
Maaf ya, aku gak bisa bantu kamu. Pasti kamu capek beraktifitas dengan perut yang semakin besar.
Sky kini memeluk Shena dan mengusap punggungnya.
"Kak Sky udah pulang dari tadi?" tanya Shena. Dia membuka kedua matanya yang merah.
"Barusan. Udah, kamu tidur saja."
"Rion kenapa?" tanya Shena.
"Patah hati ditinggal nikah."
"Selama ini Rion punya pacar?"
Sky mengangkat bahunya. Dia juga tidak tahu kalau Arion mempunyai kekasih. "Aku gak tahu. Aku gak pernah lihat Arion jalan dengan cewek. Mungkin masa lalunya Arion. Biasalah, anak muda. Dia sekarang menginap di sini. Ada di kamar tamu."
"Ya udah, aku ngantuk banget, Kak. Kak Sky cepat tidur.l ya." Shena kembali memejamkan matanya. Tak butuh waktu lama, Shena sudah tertidur dengan nyenyak lagi.
Satu kecupan lembut mendarat di kening Shena lalu Sky juga memejamkan matanya.
...***...
Arion terbangun saat matahari sudah bersinar terang. Dia usap wajah kusutnya lalu dia duduk di tepi ranjang.
"Kepala aku pusing banget. Ini di rumah Kak Sky kan?" Arion berdiri lalu mengambil baju ganti yang sudah Sky sediakan untuknya.
"Mandi dulu, setelah ini pulang." Kemudian Arion masuk ke dalam kamar mandi untuk membasuh dirinya.
Tak butuh waktu lama dia sudah selesai mandi dan berpakaian. Tentu saja memakai pakaian Sky. Setelah menyisir rambutnya, dia keluar dari kamar.
"Rion, kamu makan dulu. Kak Sky udah berangkat ke kampus dari tadi," kata Shena yang sedang makan irisan buah di ruang makan.
Arion tersenyum lalu duduk dan mengambil makanan. "Maaf Kak, aku kesiangan."
"Gak papa, santai saja. Memang sebenarnya kamu kenapa? Kenapa minum sampai mabuk?"
"Biasa Kak, urusan hati." Kemudian Arion mulai makan dengan lahap karena perutnya terasa sangat lapar.
"Iya, tapi gak baik untuk kesehatan kamu minuman beralkohol itu. Lain kali kalau ada masalah kamu bisa cerita sama Kak Sky, jangan dipendam sendiri."
Arion hanya menganggukkan kepalanya.
"Memang kamu sudah punya pacar? Aku gak pernah lihat kamu jalan sama cewek."
Arion menggelengkan kepalanya. "Aku gak punya pacar. Dia hanya seseorang yang aku sayangi saja."
"Dalam banget perasaannya, bukan pacar tapi sampai patah hati kayak gini. Sekarang kamu makan yang banyak, kalau mau tidur lagi gak papa. Sebentar lagi Mama ke sini."
"Kak Shena jangan bilang sama Mama kalau aku habis minum sampai mabuk."
"Iya, kamu tenang saja. Asal gak kamu ulangi lagi."
Arion menganggukkan kepalanya dengan cepat. "Iya, aku gak mungkin minum lagi. Cukup satu kali itu saja."
...***...
Setelah kelas siang hari itu telah usai, Vicky menunggu Nike seperti biasanya di dekat tempat parkir sambil menatap layar ponselnya.
"Jadi lo suaminya Bu Nike?"
"Di fakultas sastra sudah ramai masalah ini karena Bu Nike hamil dan ada gosip jika Bu Nike hamil diluar nikah."
Vicky mengepalkan kedua tangannya. "Apa yang lo bilang! Gue suami Nike!"
"Berani juga lo sama dosen. Tapi sepertinya pihak kampus tidak akan tinggal diam dengan masalah ini agar tidak menjadi contoh buruk."
Seketika Vicky pergi dari tempat itu dan menuju fakultas sastra. Apa Nike sedang berada dalam masalah? Dia harus segera memastikannya karena Nike tidak pernah bercerita apapun padanya.
Vicky menghentikan langkahnya di depan ruangan Dosen. Dia mendengar pembicaraan Nike dan Dekan yang terdengar sampai luar. Beberapa Dosen lain juga ikut memojokkan Nike. Kemudian Vicky masuk ke dalam ruangan itu tanpa permisi.
"Kenapa kamu masuk?" tanya Nike. Dia sebenarnya tidak mau jika Vicky terlibat masalahnya.
"Iya, saya memang suami Nike dan anak yang berada di kandungan Nike adalah anak saya. Apa kampus ini tidak bisa menerima ini?"
"Kamu anak teknik? Di kampus ini tidak boleh ada hubungan antara Dosen dan mahasiswa. Apalagi kamu masih seorang mahasiswa dan Bu Nike seorang Dosen. Saya takut jika nanti berita ini menyebar, akan menimbulkan penilaian negatif pada masyarakat dan mahasiswa lain sehingga merusak citra kampus ini."
"Iya Pak, saya mengerti," kata Nike. "Saya akan berhenti menjadi dosen tapi izinkan saya untuk tetap melanjutkan S2 di kampus ini."
"Iya, yang terpenting kamu sudah bukan dosen di kampus ini agar tidak ada lagi komentar negatif dari mahasiswa di sini."
Setelah masalah selesai, Nike mengemasi barang-barangnya.
"Maafkan aku," kata Vicky sambil membantu Nike membawa barang-barangnya.
"Ini bukan salah kamu. Kita juga gak mungkin menutupinya terus. Perut aku semakin besar, udah gak bisa disembunyikan." Mereka berdua berjalan menuju tempat parkir. "Tidak apa-apa, nanti setelah melahirkan aku akan melamar di kampus lain."
Vicky mengusap puncak kepala Nike sesaat lalu dia naik ke atas motornya. "Pegangan."
Setelah Nike naik ke boncengan Vicky, dia memeluk erat Vicky dari belakang.
Kemudian Vicky melajukan motornya dengan kecepatan sedang menuju rumahnya. "Maafkan aku, aku belum bisa bahagiakan kamu," kata Vicky sambil sesekali mengusap tangan yang berada di perutnya.
"Aku sudah merasa bahagia sama Kak Vicky."
Vicky semakin tersenyum. Nike memang sudah sangat dewasa. Nike bisa menekan sifatnya yang terkadang masih labil dan penuh emosi.
Beberapa saat kemudian, Vicky menghentikan motornya di depan rumahnya. Mereka berdua kini masuk ke dalam rumah.
"Nanti sore ada latihan renang. Kamu mau ikut?" Vicky menuntun Nike agar duduk di tepi ranjang. Satu tangannya kini mengusap perut Nike yang langsung dibalas satu tendangan kecil dari dalam perut. "Makin aktif saja. Gemas banget."
Nike mengangguk sambil tersenyum. Dia juga mengusap perutnya yang bergerak pelan itu.
Kemudian Vicky menatap Nike. Dia cium sesaat bibir yang tersenyum kecil itu. "Apa kamu bahagia sama aku?"
"Iya, aku bahagia. Makasih sudah hadir dalam hidupku."
"Aku yang seharusnya terima kasih sama kamu. Karena kamu, aku bisa merasakan cinta. Aku juga bisa menjadi lebih dewasa dari sebelumnya. Menjadi sosok suami yang gak pernah aku bayangkan. Merasa bahagia menanti kelahiran buah hati, apalagi saat dia merespon sentuhan aku dari dalam perut, kebahagiaan itu benar-benar tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata." Vicky kembali mencium bibir Nike hingga mereka berdua kini terbaring di atas ranjang.
"Maaf, mulai sekarang aku gak bisa bantu kebutuhan keluarga kecil kita. Aku udah gak ada penghasilan," kata Nike sambil menatap Vicky yang berada di dekatnya.
"Sssttt, hidup kamu itu sudah menjadi tanggung jawab aku. Kamu fokus dengan kesehatan dan kandungan kamu saja, biar aku yang memenuhi semua kebutuhan kita." Vicky kembali mendekatkan wajahnya dan mencium bibir yang telah menjadi candu itu.
💞💞💞
Udah 100 episode aja. kayak berasa lama banget aku buat novel ini...
Like dan komen ya...