Love From The Sky

Love From The Sky
BAB 98



"Kak Sky mau cepat hilang rasa pusingnya?"


Sky menganggukkan kepalanya.


"Ayo..."


"Ayo apa?"


Shena semakin mendekatkan dirinya dan mengusap dada bidang Sky yang tidak tertutup apapun itu. "Ayo, kita lakukan sesuatu yang enak. Boleh lakuin, asal pelan. Aku juga lagi fit." Shena semakin membentuk pola abstrak di dada Sky.


"Mancing singa yang lagi tidur nih ceritanya." Sky mendorong tubuh Shena hingga terlentang di bawahnya. "Beneran mau ini?" Sky menyingkirkan rambut Shena yang menutupi wajahnya lalu satu tangannya mengusap pipi Shena yang terlihat bersemu merah.


Shena mengangguk pelan. "Iya, tiba-tiba mau. Aku udah baca-baca gak papa, asal gak dikeluarkan di dalam biar gak terjadi kontraksi dini."


Sky masih saja tersenyum kecil karena terlalu takut melukai kandungan Shena, Sky sama sekali tidak melakukannya selama beberapa minggu ini.


"Aku tahu Kak Sky bisa tahan. Tapi aku gak bisa. Apalagi sejak hamil, rasanya semakin ingin Kak Sky sentuh. Udah, aku gak akan malu-malu lagi bilang gini. Semalam aku kasih kode Kak Sky juga gak mempan."


Sky semakin tertawa. "Katanya semalam cuma tanya aja."


"Ih, gak peka."


"Oke, kalau gitu mulai sekarang aku akan kasih vitamin tambahan tiap hari buat kamu." Kemudian satu tangan Sky mulai membuka kancing baju Shena. "Kamu makin sexy aja."


"Makin gemuk?"


"Sexy sayang." Sky kembali melabuhkan ciumannya di bibir Shena. Ciuman yang awalnya lembut itu lama-lama semakin menuntut. Satu tangan Sky terus singgah di dada Shena. Memberi sensasi di area favoritnya yang semakin menggemaskan.


Perlahan bibir itu turun dan singgah di leher Shena. Menyusuri leher putih Shena dan menggigitnya kecil. Lalu semakin turun dan menggantikan kerja tangannya di area favorit itu. Sebelum si kembar nanti menguasainya, Sky akan menikmatinya terlebih dahulu.


Tangan Shena semakin mengacak rambut Sky. Tubuhnya terasa semakin memanas. Dia sudah tidak sabar melakukan permainan inti. Kemudian kedua tangan Shena kini membuka ikat pinggang Sky dan menurunkan resletingnya.


Seketika Sky mendongak menatap Shena. "Sayang gak sabar banget."


Shena hanya mengangguk pelan. Dia memang sudah tidak sabar merasakannya lagi. Dia ingin segera merasa melayang di udara bersama Sky.


"Aku akan pelan-pelan. Kalau sakit atau kamu merasa gak nyaman bilang ya. Aku gak mau menyakiti si kembar."


Shena mengangguk pelan. Dia kini melingkarkan tangannya di leher Sky. Bibirnya berdesis lirih saat Sky mulai memasukinya secara perlahan.


"Udah lama gak merasakan. Kamu makin nikmat." Napas Sky semakin memburu. Gerakan yang awalnya pelan itu semakin lama semakin cepat. Suara de sah mereka saling bersahutan. Udara siang di kamar yang ber-AC itu semakin terasa panas hingga keringat membasahi tubuh polos mereka berdua.


"Kak," panggil Shena. Dia menggigit bibir bawahnya berulang saat merasakan gerakan dari Sky.


"Maaf, terlalu cepat ya. Sakit?"


Shena menggelengkan kepalanya. "Enak."


Sky semakin tertawa lalu dia mencium bibir Shena lagi. Mereka saling bergulat hingga mencapai puncak bersama.


Arnav dan Ferdi sudah berputar memantau area balapan malam hari itu tapi dia tidak menemukan Rafka maupun Zaki. Dia juga sudah mencari info ke beberapa geng motor lainnya, tapi tidak ada yang melihatnya.


"Kita juga sudah ke rumah mereka, tapi orang tuanya menutupi masalah ini." Arnav turun dari motor dan duduk di depan basecamp langit.


"Kasihan Sky kalau sampai mereka bebas. Apa yang sudah mereka lakukan itu sangat kejam dan merusak nama geng ini." Ferdi kini duduk di sebelah Arnav. Dia mengambil rokoknya dan menyulutnya.


Beberapa saat kemudian, Arion datang dan ikut bergabung bersama mereka. "Kak Sky nyuruh gue bantu kalian. Pengacara Papa juga sudah memeriksa masalah ini tapi dari pihak lapas tidak memberikan keterangan apapun."


"Zaman sekarang meminta keadilan hukum itu sangat sulit."


"Iya, setara orang tua Sky saja bisa kecolongan kayak gini."


"Iya, kasihan Mama jadi sedih teringat lagi masalah Gala," kata Arion. "Untungnya ada Kak Shena yang nemenin Mama jadi bisa sedikit terhibur."


Ferdi kini bersandar sambil menatap langit gelap malam itu. "Dulu mereka bergabung di sini. Kita punya visi misi yang sama. Tapi ambisi mereka terlalu besar. Mereka ingin menjadi yang paling hebat dengan cara memancing musuh geng lain. Parah sekali saat mereka membunuh orang dan ternyata saudara kembar Sky."


"Awal mula meruncingnya masalah sampai Shena jadi korban. Baru juga Sky dan Shena bahagia tapi mereka udah dibebaskan." Arnav juga mengambil rokoknya dan menyulutnya. "Rion, lo gak merokok?"


Arion menggelengkan kepalanya. "Nggak, gue harus hidup sehat."


"Gimana sakit lo? Udah sembuh?"


"Masih pengobatan. Tapi kondisi aku udah jauh lebih sehat dari sebelumnya."


Beberapa saat kemudian, di ujung jalan dekat basecamp mereka, ada seseorang yang jatuh dari motornya. Arnav dan Arion segera berlari menolongnya.


"Kamu gak papa?" tanya Arion membantu gadis itu. Sedangkan Arnav menepikan motor gadis itu.


"Rion?"


Seketika Arion melepas gadis itu saat dia memanggil namanya. Arion membalikkan badannya dan pergi meninggalkannya begitu saja.


"Arion!"


Arion tidak mau lagi melihatnya, karena luka di hatinya kembali menganga dan terasa sakit. Lebih baik dia tidak melihatnya lagi dan pergi dari tempat itu.


Arion kini naik ke atas motornya dan pergi meninggalkan basecamp itu.


Seperti yang kamu bilang dulu, Arion pasti bisa tanpa Cahaya. Iya, aku akan buktikan pada semuanya bahwa Arion memang bisa hidup tanpa Cahaya.


💞💞💞


Like dan komen ya...


Masih setia gak? Bentar lagi tamat ya, nunggu bocil-bocilnya lahir. Nanti baru dilanjut dengan cerita Arion karena banyak yg voting ceritanya Arion. Aku spill dikit si Arion biar makin penasaran.. 🤣🤣