Love From The Sky

Love From The Sky
BAB 107



Beberapa kali Vicky memijat kepalanya yang terasa pusing saat melihat proses persalinan Nike. Hanya melihat saja rasanya dia lemas dan tidak sanggup, bagaimana dengan Nike yang merasakannya. Lalu Vicky mengusap keringat yang membasahi rambut Nike. "Kamu hebat."


Beberapa saat kemudian, bayi laki-laki itu lahir ke dunia. Beban di hati Vicky seketika luruh saat melihat Nike tersenyum sambil mendekap buah hatinya.


"Terima kasih. Kamu sangat hebat. Aku yang hanya melihat kamu aja sampai lemas dan tangan aku dingin banget. Tapi kamu tenang sekali berjuang." Vicky mencium kening Nike. Dia masih saja menatap Nike lalu mencium kedua pipinya.


"Kak Vicky, anaknya gak disapa dulu."


Vicky tersenyum dengan air mata yang mengembun. "Aku harus memastikan kondisi kamu dan berterima kasih sama kamu terlebih dahulu, karena ini semua berkat perjuangan kamu." Kemudian Vicky menatap putranya, kulit yang putih dan bersih dengan mata yang sedikit sipit yang mirip seperti ibunya ditambah hidung mancung dan bibir tipis seperti Vicky, perpaduan yang sangat sempurna.


"Hai, Alvero. Jadi anak yang berbakti sama orang tua, terutama sama Mama." Vicky mendekatkan wajahnya dan mencium kecil pipi putranya. "Tampan sekali."


Vicky semakin tersenyum menatap putranya yang sekarang berhasil menemukan sumber kehidupannya dan menghisapnya. Dia masih tidak menyangka sudah menjadi seorang Ayah di usianya yang masih terbilang muda. Pertemuan yang tidak disengaja malam itu, memberikan keluarga kecil untuknya.


"Aku pasti akan menjaga kalian berdua." Vicky kembali mencium pipi Nike. "Aku sayang kamu..."


"Aku juga sayang kamu."


Mereka berdua kembali menatap buah hati mereka sambil tersenyum.


"Sebentar ya dedeknya saya bersihkan biar tambah cakep. Ayah bisa tunggu di depan dulu, bundanya juga mau kita rawat dulu."


"Iya." Kemudian Vicky keluar dari ruang bersalin dan duduk di kursi tunggu bersama orang tuanya.


"Bagaimana? Semua sehat?"


Vicky menganggukkan kepalanya. "Iya, sehat."


"Nike yang melahirkan kamu yang pucat kayak gini. Sama kayak Papa kamu dulu." Laras tertawa kecil lalu mengambilkan Vicky botol yang berisi air mineral. "Kamu minum dulu. Pasti badannya lemas."


"Iya, Ma. Aku gak tega lihat Nike. Jantung aku berulang kali mau berhenti." Vicky mengambil air mineral itu lalu meminumnya.


"Ya seperti itu perjuangan seorang ibu melahirkan. Kamu jangan merasakan enaknya aja. Sejak nikah bangunnya siang-siang terus."


Vicky hanya menggaruk tengkuk lehernya. Selama beberapa bulan ini dia memang merasakan enaknya dengan Nike. Apalagi Nike tipe wanita yang agresif dan selalu bisa memanjakannya di ranjang, jelaslah jika dia semakin kecanduan di setiap harinya.


"Namanya Alvero? Panggilannya Vero ya?"


"Iya, Ma."


"Pasti cakep banget. Mama gak sabar mau lihat cucu." Laras berdiri dan menunggu di depan pintu yang tertutup itu. Terdengar suara tangis bayi saat pintu itu terbuka.


"Kenapa nangis? Aduh, udah ganteng banget." Laras menggendong cucu pertamanya yang sudah bersih dan harum itu. "Vero, haus ya?" Laras mendekatkan cucunya pada Nike yang sedang duduk bersandar dengan punggung yang ditopang bantal.


"Sini, Ma. Mungkin haus."


"Dikasih bantal biar mudah." Laras membantu meletakkan bayi mungil itu di posisi yang nyaman untuk me nyu sui. "Pintar banget langsung mau."


Nike tersenyum melihat putranya yang sudah pintar menghisap.


"Sepertinya kakak kamu sudah ke sini. Kamu menginap semalam saja di sini. Besok pagi-pagi baru pulang."


"Iya, Ma."


"Ambilkan air minum hangat, Kak. Aku haus."


"Iya." Vicky mengambil air minum hangat lalu membantu Nike minum.


Laras tersenyum melihat Vicky yang sangat perhatian dengan Nike. Dia sempat takut kalau Vicky tidak menjadi suami yang bertanggung jawab tapi ternyata Vicky sangat dewasa dan mengerti tugasnya.


...***...


"Sayang, Kak Nike sudah melahirkan," kata Sky saat melihat ponsel Shena malam hari itu. Dia membuka chat grup keluarga Shena yang ramai membahas putra Vicky.


"Lihat, Kak." Shena mengambil ponselnya dan melihat foto Vero. "Ganteng banget, namanya Alvero. Matanya agak sipit-sipit mirip Mamanya."


"Hasil karya Vicky one night stand ternyata sangat berkualitas."


"Ih, Kak Sky, orang tuanya aja cantik sama ganteng."


"Loh, jadi gantengan Vicky daripada aku?" Sky merengkuh pinggang Shena lalu mencium pipinya.


"Bukan gitu, Kak Sky sama Kak Vicky itu beda."


Sky mengambil ponselnya lalu memeluk Shena. "Udah, hpnya ditaruh, sekarang kamu tidur. Nanti kalau Ares sama Ara bangun biar aku saja yang kasih susu."


"Bangunin aku. Kita rawat sama-sama. Kak Sky besok kan kuliah masuk pagi."


"Iya, tapi kamu juga harus banyak istirahat. Hb kamu masih rendah."


"Iya, iya." Shena menatap Sky dan mengusap pipinya. "Kadang aku masih gak nyangka kita menikah di umur yang masih muda terus dikasih anak kembar. Ternyata kita juga bisa melalui ini semua."


"Iya, kita belajar sama-sama. Nanti ada baby sitter juga yang akan bantu kamu karena aku mulai belajar juga di perusahaan Papa jadi aku gak bisa nemenin seharian."


"Iya, gak papa. Gak usah baby sitter, ada bibi juga di rumah. Aku bisa rawat mereka berdua. Ibu sama Mama pasti juga sering ke sini nemenin cucunya."


"Ide yang bagus, biar gratis ya." Sky tertawa sambil mencubit hidung Shena. "Untung langsung dapat cucu dua jadi mereka gak berebut."


"Iya." Shena menguap panjang lalu memejamkan kedua matanya. "Nanti kalau si kembar bangun, bangunin aku ya."


"Nggak janji."


"Ya udah aku pasang telinga saja."


Sky semakin mendekap Shena dan memberinya kenyamanan. "Iya, kamu tidur saja. Nanti kalau mereka rewel aku bangunin kamu." Dia usap punggung Shena agar segera terlelap. Dia tersenyum kecil memandang si kembar yang sedang tertidur di box nya. Lalu dia menatap Shena yang juga sudah tertidur nyenyak dalam dekapannya.


Sehat-sehat ya...


Dia cium kecil kening Shena kemudian dia menyusul Shena dalam mimpinya.


💞💞💞


Antares, Adara, Alvero. Next generation nih. Dari namanya udah bau-bau anak motor.. 🤣


Like dan komen ya...