Love From The Sky

Love From The Sky
BAB 89



Vicky mengambil alat tes itu dengan tangan yang gemetar. "Positif! Ini punya Nike?"


"Iya, punya Tante Nike. Gue ambil di kamarnya. Gue mau kasih tahu lo, tapi sorry semua jadi tahu gara-gara ini."


Vicky menggenggam alat tes itu lalu dia berjalan jenjang menuju fakultas sastra tapi langkahnya terhenti. Dia tidak mungkin membahas masalah ini di kampus, akhirnya dia kembali pada Mila yang masih duduk bersama Shena dan lainnya.


"Mil, gue minta nomor tante lo."


"Iya, gue kirim lewat WA aja ya."


"Jadi bener lo sama Bu Nike udah..."


"Ar, udah lo diam dulu! Gue lagi pusing sekarang!" Vicky membuka chat Mila lalu menyimpan nomor Nike. "Jangan ada yang bilang masalah ini sama Papa dan Mama, biar gue sendiri yang cerita. Jangan bilang juga sama Om Arsen dan Tante Naya." Kemudian Vicky pergi meninggalkan mereka semua.


"Selamat ya Mil, Vicky akan jadi Om lo," kata Shena.


Seketika Mila tertawa dengan keras. "Aduh Shena, gue gak bisa bayangin kalau Vicky beneran sama Tante Nike. Dulu crush gue kenapa bisa jadi om gue."


"Aku jadi merasa bersalah," kata Sky. Dia kini mengambil bekal Shena lalu membukanya. "Gara-gara hotel yang harusnya kita pakai bulan madu malah dipakai Vicky." Sky akan menyuapi Shena tapi Shena menggelengkan kepalanya. Dia mengambil sendok itu dan memakan bekalnya sendiri.


"Kak Sky, kalau di kampus jangan disuapi, aku malu."


"Wah, tanggung jawab lo Sky. Udah membangkitkan hormon bercocok tanam." Lagi-lagi Ferdi tertawa dengan keras. Dia memang suka asal jika bicara.


Arnav menarik napas panjang lalu duduk juga di samping Sky. "Gue ikut pusing mikirin ini. Gimana caranya Vicky tanggung jawab? Om Virza jelas akan marah banget. Ya, emang sih Vicky udah bisa kerja di bengkel bokapnya. Masalahnya bengkelnya juga lagi sepi. Kasusnya jelas beda sama lo, Sky."


"Lo lupa kalau Vicky baru saja jadi runner up di pertandingan renang internasional?" kata Sky.


"Astaga, gue lupa kalau Vicky menang. Pasti dapat ratusan juta."


"Iya, selanjutnya dia bisa menjadi pelatih renang di klub dan aku akan atur pertandingan-pertandingan besar untuk dia. Gue yakin dia bisa bertanggung jawab."


"Untunglah kita sekarang sudah jadi saudara yang bisa saling membantu." Arnav menghela napas panjang karena dia merasa lega jika memang Vicky mampu bertanggung jawab.


"Kak Arnav besok petikin mangga lagi dong di rumah Kak Gita," pinta Shena setelah menghabiskan makanannya.


"Memang yang kemarin udah habis?"


"Ada, tinggal sedikit."


"Iya, besok aku bawain lagi. Ya udah, aku mau pulang dulu. Lo jagain Shena sampai selesai kan?"


"Iya, pasti," jawab Sky.


Kemudian Arnav berdiri dan berjalan meninggalkan mereka.


...***...


Sepulang ospek hari itu, Vicky sengaja mencari Nike tapi ternyata Nike sudah pulang. Akhirnya dia memutuskan untuk ke rumah Mila. Dia menghentikan motornya di depan rumah Mila dan menghubungi Nike. Setelah beberapa kali nada sambung, akhirnya Nike mengangkat panggilannya.


"Hallo, aku tunggu di depan rumah Mila."


"Kamu siapa?" tanya Nike di seberang sana.


"Aku Vicky. Ada sesuatu yang mau aku bicarakan."


"Tidak perlu. Aku tidak ada di rumah."


"Aku tahu kamu ada di rumah. Aku tunggu kamu di depan. Kalau kamu gak mau keluar, aku akan temui Papanya Mila."


"Oke, oke, aku keluar sekarang."


"Ikut aku. Aku mau bicara."


"Apa tidak bisa bicara di sini saja?"


"Gak bisa."


Nike berdengus kesal. Meski demikian akhirnya dia naik ke boncengan Vicky. Setelah itu Vicky melajukan motornya menuju sebuah taman.


Setelah motor Vicky berhenti, mereka berdua masuk ke dalam taman. Udara sore hari itu terasa sejuk. Banyak anak kecil berlarian di taman bermain yang ditemani orang tuanya.


Vicky menghentikan langkahnya di bangku yang berada di bawah pohon. "Kamu duduk dulu."


Nike akhirnya duduk di sebelah Vicky. "Apa yang mau kamu bicarakan?"


Vicky mengeluarkan alat tes kehamilan yang sedari tadi dia bawa. "Ini punya kamu?"


Nike terkejut menatap alat tes itu yang dari kemarin dia cari karena hilang satu. "Darimana kamu dapat ini?"


"Tidak penting aku dapat darimana, apa benar kamu hamil anak aku?"


Nike mengalihkan pandangannya. Kedua tangannya mengepal di atas paha. Dia berusaha menguatkan dirinya sendiri dengan tersenyum kecil. "Kamu tenang saja, aku gak minta tanggung jawab sama kamu."


"Kenapa? Aku bisa tanggung jawab sama kamu."


Nike menggelengkan kepalanya. "Kita melakukan itu tanpa cinta dan aku yang memaksa kamu. Jadi ini tanggung jawab aku sendiri, kamu tidak perlu memikirkan ini."


"Tapi..."


"Vicky, kamu baru saja menjadi mahasiswa," potong Nike sambil menatap Vicky. "Coba pikirkan perasaan kedua orang tua kamu kalau mereka tahu kamu sudah menghamili aku. Mereka pasti akan sedih, mereka pasti akan kecewa sama kamu. Kamu tenang saja, aku bisa menangani masalah ini."


"Bagaimana caranya kamu menangani masalah ini sendiri? Meskipun kita melakukan tanpa cinta, aku mau bertanggung jawab penuh sama kamu. Aku mau menikahi kamu karena meski kamu yang memulai tapi aku yang meneruskan."


Nike tetap kekeh dengan keputusannya. Dia masih saja menggelengkan kepalanya. "Kamu tidak perlu bertanggung jawab. Ini hidup aku, biar aku yang menangani masalah ini sendiri."


"Jangan bunuh anak ini!" Vicky meraih tangan Nike, dia menggenggam tangan itu meskipun Nike berusaha untuk melepasnya.


"Kenapa? Dia tumbuh di tubuh aku, terserah aku mau lakuin apa aja."


"Tapi dia berhak hidup!"


Nike semakin menatap nanar Vicky. Dia menarik paksa tangannya. "Masa depan kita lebih penting dari ini." Kemudian dia berdiri dan pergi meninggalkan Vicky.


Vicky mengacak rambutnya frustasi. Dia semakin merasa bersalah jika Nike menggugurkan calon anaknya.


"Nggak, aku gak akan biarkan Nike menggugurkannya." Kemudian dia berdiri dan berlari menyusul Nike. "Nike, tunggu!" Vicky menahan tangan Nike agar tidak kabur lagi.


"Apalagi? Udah clear. Kamu bisa pulang, gak perlu mikirin aku."


"Nike, kamu pikirkan masalah ini baik-baik. Aku mau bertanggung jawab. Kamu jangan takut menikah sama aku. Aku bisa menghidupi kamu."


"Pakai apa? Kamu saja masih maba."


"Iya, aku memang masih maba dan belum mempunyai pekerjaan tetap. Tapi setidaknya aku sudah punya modal untuk menikahi kamu."


Nike tetap kekeh dengan keputusannya. "Aku tetap gak mau. Jangan paksa aku."


Vicky akhirnya menyerah dan tidak lagi berdebat dengan Nike. "Oke, kalau itu sudah menjadi keputusan kamu. Jangan sampai menyesal. Ayo, aku antar kamu pulang dulu." Kemudian Vicky melangkahkan kakinya mendahului Nike.


Nike, aku tidak akan membiarkan kamu menggugurkan anak itu.