
Sky turun dari ranjang dan berniat ke kamar mandi tapi satu tangannya ditahan Shena. Shena membuka kedua matanya dan tersenyum. Ternyata dia hanya menggoda Sky dan berpura-pura tidur.
"Kak Sky mau kemana?" tanya Shena sambil tersenyum.
Seketika Sky kembali merebahkan dirinya di samping Shena dan menciumi pipinya. "Kamu pura-pura tidur?"
Shena menganggukkan kepalanya. "Masih mau menuntaskan sendiri di kamar mandi?'
Sky menggeleng cepat. "Nggak, nanti sabun cepat habis." Tanpa menunggu lama, Sky membuka celananya lalu menarik tubuh Shena agar duduk di atasnya. "Sayang, aku udah gak tahan sedari tadi. Masukin ya." Sky kembali memberi stimulasi pada Shena hingga membuat Shena melambung.
Shena melihat milik Sky yang dia duduki. Perlahan dia sentuh. Meskipun dia pernah merasakannya tapi dia tidak pernah melihatnya sama sekali. "Hmm, ini segini, pantas dulu rasanya sakit banget."
"Sekarang gak akan sakit."
"Aku takut." Nyali Shena kembali menciut.
Sky hanya bisa pasrah jika nantinya dia gagal lagi bercinta dengan Shena. Dia tidak bisa memaksa Shena. "Ya sudah gak papa, tunggu kamu sampai siap dulu."
Shena hanya menatap Sky. Dia menarik napas panjang lalu menghembuskannya. Dia tidak ingin menundanya lagi karena dia tahu Sky sudah sangat menginginkannya. Shena membungkukkan dirinya dan mencium bibir Sky. Mereka saling bergulat dengan tangan Sky yang terus menjamah titik sensitif Shena.
Perlahan Sky menggesek inti Shena dengan miliknya, sudah licin dan sangat basah pasti mudah untuk dia masuki. Sky tak melepas ciumannya lalu dia membalik tubuh Shena dan perlahan memasukinya.
"Ah, Kak." Shena tersentak saat mendapat dorongan kuat dari Sky.
Sky menciumi pipi Shena lalu berbisik di telinganya. "Kamu rileks. Gak akan sakit."
Shena berusaha menenangkan dirinya, dia menarik napas dalam lagi lalu menghembuskannya. Kemudian dia lingkarkan kedua tangannya di leher Sky.
Sky mulai menggerakkan dirinya secara perlahan. Akhirnya dia merasakan kembali kehangatan itu. Kali ini akan dia nikmati selama mungkin dan semaksimal mungkin. "Gimana? Masih sakit?"
"Sedikit."
"Sedikit? Itu berarti banyak enaknya?"
Shena hanya tersenyum malu, karena kali ini Sky benar-benar memanjakannya dengan sentuhan.
Kedua tangan Sky kini menggenggam tangan Shena. Dia semakin menambah gerakannya. Suara de sah Shena yang semakin keras, semakin menambah semangatnya untuk berpacu. Hingga keringat membasahi tubuh polos mereka berdua.
"Sayang, aku pasti ketagihan dengan rasa ini."
Shena sudah tidak mendengar apa yang dikatakan Sky, yang dia rasakan saat ini hanyalah kenikmatan di sekujur tubuhnya. Dia seperti dibawa Sky terbang melayang di udara.
Sky semakin menindih tubuh Shena dan menjelajah leher Shena. Entah sudah ke berapa dia menghisap leher itu dan meninggalkan jejak merah.
"Kak Sky..." Wajah Shena semakin memerah. Ada rasa di dalam tubuhnya yang terasa ingin meledak. Ditambah satu jari Sky mengusap titik sensitif yang membuatnya semakin tidak bisa menahannya.
Sky menegakkan punggungnya, dia tahu pasti Shena akan sampai pada pelepasannya.
Suara Shena semakin keras. Dia mencakar lengan Sky saat kenikmatan itu memuncak lalu meletup hingga membuat tubuhnya bergetar beberapa kali. Kemudian tubuh Shema melemas. Dia mengusap pelipisnya yang berkeringat sambil mengatur napasnya yang tersenggal.
"Akhirnya kamu merasakan kenikmatan yang sebenarnya." Sky menyingkirkan anak rambut yang berada di dahi Shena. "Kamu pasti akan terus kecanduan dengan rasa ini."
Shena hanya tersenyum malu. Ya, rasanya memang senikmat itu. Mungkin benar dia akan kecanduan dengan Sky.
Sedangkan Sky masih memacunya. Bahkan gerakannya semakin cepat hingga tubuh Shena ikut bergetar seiring hujamannya. Sesekali Sky mendongak sambil berdesis nikmat. Wajah tampan Sky yang dipenuhi dengan gairah itu semakin mempesona.
"Sayang, di dalam aja ya." Sky semakin menghentakkan kuat miliknya hingga berada di titik terdalam.
Beberapa detik kemudian kehangatan itu terasa menyebar di perut Shena yang dibarengi era ngan keras dari Sky. Setelah semua tuntas, Sky melepas dirinya lalu merebahkan tubuhnya di sebelah Shena.
"Makasih." Sky menarik selimut hingga menutupi tubuh mereka berdua lalu memeluk Shena.
"Ternyata rasanya kayak gini ya."
Sky menganggukkan kepalanya. "Iya, enak kan? Pasti ketagihan."
"Ih." Shena memiringkan dirinya dan menyembunyikan wajahnya di dada Sky. "Hmm, nanti kalau aku hamil gimana ya?"
"Sayang, baru main satu kali kamu udah mikir ke sana."
"Dulu Kak Sky main satu kali langsung jadi."
"Iya, juga. Tapi gak papa. Nanti kita sama-sama belajar. Kamu masih bisa kuliah juga. Pokoknya kamu tinggal jalani aja."
Shena menganggukkan kepalanya pelan. Lagi-lagi dia merasakan pergerakan di bawah sana. Perlahan Shena melepas pelukannya. "Kak, aku mau pakai baju dulu."
Cepat-cepat Sky menahan Shena lalu memposisikan tubuh Shena di atasnya. "Untuk malam ini, satu kali lagi."
"Ta-tapi, Kak."
Sky menarik tubuh Shena agar mendekat dan mencium bibir Shena. Lagi, Shena telah dibawa Sky terbang tinggi.
...***...
Sampai matahari telah bersinar terang, sepasang pengantin baru yang telah menghabiskan malam panas itu belum juga bangun. Mereka saling berpelukan hingga akhirnya Sky terbangun karena bunyi ponselnya.
Sky membuka matanya dan meraih ponselnya. Tanpa melihat siapa yang menelepon, dia mengangkat panggilan itu. "Hallo..."
"Kak Sky kuliah masuk pagi kan? Disuruh Mama bangun."
Sky melihat layar ponselnya sesaat ternyata Arion yang meneleponnya. "Iya."
Kemudian Sky turun dari ranjang tanpa membangunkan Shena. Dia kini masuk ke dalam kamar mandi dan membasuh dirinya. Sampai dia selesai mandi dan berganti baju, Shena masih saja tidur dengan nyenyak.
Sky tersenyum saat mengingat keseruan semalam. "Pasti capek. Biarkan tidur saja." Setelah menyisir rambutnya dan memakai parfum, Sky membawa tasnya keluar dari kamar. Kemudian dia duduk di ruang makan dan sudah ada Arion beserta kedua orang tuanya.
"Shena mana?" tanya Bu Ida.
"Shena masih tidur. Biarkan saja ya, Ma. Nanti kalau dia bangun jangan ditanya macam-macam biar gak malu."
"Sukses semalam?" Pak Alex menepuk bahu Sky.
Sky hanya tersenyum penuh arti sambil mengambil sarapannya.
"Wah, Mama udah gak sabar punya cucu."
Sedangkan Arion sedari tadi sudah beberapa kali menguap panjang.
"Rion, kamu kenapa ngantuk kayak pengantin baru juga?" tanya Pak Alex.
"Papa, suara mereka berdua keras banget sampai terdengar ke kamar aku. Semalam aku gak bisa tidur. Mereka berdua yang enak-enak, aku yang kebagian suaranya."
Kedua orang tua Sky tertawa. Sedangkan Sky kini menjotos lengan Arion. "Kalau dengar itu diam aja. Bikin malu aja. Nanti aku pasang peredam suara."
"Nanti biar Papa suruh Arif pasang peredam suara di kamar Sky. Bahaya kalau Rion dengar suara tengah malam."
"Laptop aku mana? Nanti kalau di sekolah ada pengumuman, kamu bilang sama Shena."
"Iya, ini laptopnya." Arion memasukkan laptop itu ke dalam tas Sky.
Kemudian mereka lanjut sarapan sambil sesekali bercanda. Sejak kehadiran Arion, kebahagiaan itu semakin terasa di keluarga Sky.
💞💞💞
Like dan komen ya..
Kayaknya nanti cerita cinta Arion ada kamar sendiri.. 🤣 Gak tahu kapan..