Love From The Sky

Love From The Sky
BAB 30



Malam hari itu, Sky duduk di balkon kamarnya sambil menatap langit gelap yang bertabur bintang.


"Shena, ternyata kita sudah ditakdirkan untuk bertemu sejak kecil." Sky menghela napas panjang lalu melipat tangannya sambil bersandar.


"Sudah malam, cepat istirahat," kata Alex yang kini duduk di samping putranya.


"Iya, Pa. Sebentar lagi."


"Maaf Mama sama Papa tidak bisa melihat pertandingan kamu tadi karena ada acara di rumah Tante kamu."


"Tidak apa-apa, Pa. Masih bisa lain kali."


"Kamu masih memikirkan Shena?" tanya Alex.


Sky menganggukkan kepalanya. "Mungkin kesalahanku tidak bisa Shena maafkan, Pa."


"Iya, Papa mengerti. Kamu terus berusaha ya, pasti suatu saat nanti kamu bisa mendapatkan maaf dari Shena."


Sky hanya menganggukkan kepalanya.


"Di balik semua cobaan itu pasti ada hikmahnya. Lihat, kamu sekarang sudah jauh lebih baik." Alex menepuk bahu putranya sambil tersenyum. "Ya sudah, kamu cepat tidur. Pasti kamu sangat lelah."


"Iya, Pa."


Kemudian Alex berdiri dan keluar dari kamar Sky.


Beberapa saat kemudian Sky berdiri lalu masuk ke dalam kamarnya. Dia duduk di meja belajarnya. Dia mengambil sebuah kotak kecil yang sudah lama tidak dia sentuh. Kemudian dia buka kotak itu.


"Ternyata Shena pemilik kuncir rambut ini."


Sky memandangi kuncir rambut boneka yang sekarang dia pegang sambil tersenyum. Dia masih ingat, saat dia menolong Shena, tanpa sengaja dia menggenggam kuncir rambut itu dan justru terbawa sampai rumah.


Kemudian Sky menulis sesuatu di atas kertas sambil terseyum kecil.


"Meskipun kamu tidak mau baca surat ini sekarang, semoga saja suatu saat nanti kamu mau membacanya."


Setelah selesai, Sky melipatnya dan memasukkan ke dalam kotak itu lalu membungkusnya.


"Semoga kamu cepat memaafkanku, Shena."


...***...


Pagi hari itu, lagi-lagi Sky menunggu Shena di depan rumahnya. Dia tersenyum manis saat Shena baru saja keluar dari rumah.


"Lo lagi, lo lagi. Gak ada bosannya lo tiap pagi ke sini. Shena itu gak bakal maafin lo," kata Arnav yang kini memutar motornya lalu menaikinya.


Tapi Sky tetap mendekati Shena dan memberikan kotak kecil yang berpita cantik itu. "Kali ini tolong kamu terima dan kamu lihat pemberian dari aku ini."


Tapi Shena hanya terdiam dan melewati Sky. Lalu dia naik ke boncengan Arnav.


Sky hanya menghela napas panjang. Dia kini menatap kado yang ada di tangannya, bahkan Shena sama sekali tidak mau menyentuhnya.


Akhirnya Sky meletakkan kadonya di atas meja yang berada di teras rumah.


"Sky..." panggil Naya saat Sky akan melangkah pergi.


"Iya, Tante." Sky bersalaman dengan Naya lalu mencium punggung tangannya. "Saya minta maaf, setiap pagi ke sini."


"Iya, tidak apa-apa. Kamu yang sabar ya. Shena memang masih belum bisa memaafkan kamu. Tante sampai terharu lihat perjuangan kamu. Oiya, Tante juga baru tahu kalau ternyata kamu yang menolong Shena waktu kecil, takdir benar-benar mempertemukan kamu lagi. Semoga kalian berjodoh ya."


Sky hanya tersenyum. Mendapatkan maaf dari Shena saja sangat sulit, bagaimana bisa dia mendapatkan hati Shena. "Iya Tante. Saya berangkat ke sekolah dulu. Ini sudah siang."


"Iya, hati-hati ya."


Sky kembali menaiki motornya lalu dia segera melajukan motornya ke sekolah.


Naya kembali memasukkan surat itu lalu membungkusnya rapi dan meletakkannya di kamar Shena.


...***...


Setelah sampai di sekolah, Shena ragu melangkahkan kakinya menuju kelas. Baru sampai di tempat parkir saja beberapa temannya sudah menatapnya aneh.


Untunglah ada Vicky yang menunggunya dan mengajaknya berjalan bersama menuju kelas.


Beberapa teman masih berbisik-bisik di koridor kelas. Vicky mengepalkan tangannya, dia tahu apa yang mereka bicarakan. "Kalian bicara apa? Nggak usah bisik-bisik, langsung ngomong!" teriak Vicky saat berhenti di depan kelas.


Shena hanya menundukkan pandangannya. Matanya sudah berkaca-kaca, dia harus kuat menghadapi semua ini.


"Apa benar Shena hamil lalu digugurkan? Dia punya hubungan sama anak SMA 5, yang menang lomba renang kemarin?" tanya salah satu teman sekelas Vicky.


"Darimana lo tahu? Siapa yang nyebarin gosip ini!" Vicky menahan tangan Shena agar dia tetap di sampingnya.


"Ini bukan gosip tapi fakta," kata Riska.


Semua teman-temannya mulai berkomentar lagi. "Diam kalian semua!" teriak Shena. "Iya, gue hamil dan gue gugurin! Puas kalian!"


"Shena! Kamu bilang apa?" Vicky merengkuh bahu Shena yang bergetar. "Kalian tega sama teman kalian. Shena itu korban pemerkosaan. Tapi kalian justru menyudutkan Shena. Coba kalian pikir gimana perasaan Shena! Shena sangat butuh support dari kita semua."


Shena kini menatap Mila yang baru saja datang sambil berlari. Shena melepas tangan Vicky lalu menghampiri Mila. "Lo yang udah menyebar berita sama mereka semua?"


"Kenapa lo nuduh gue kayak gitu? Emang lo pernah cerita sama gue tentang masalah ini. Nggak kan? Lo gak pernah anggap gue sahabat. Lo gak pernah cerita apapun sama gue. Padahal gue anggap lo sahabat dalam suka dan duka, tapi masalah berat kayak gini lo simpan sendiri!" Akhirnya apa yang menjadi beban Mila selama ini dia ungkapkan. "Gue juga bisa terima kok kalau Kak Vicky sama lo. Gue cuma kesal, kenapa lo simpan sendiri masalah lo dan lo justru menuduh gue yang nyebarin berita ini." Mata Mila memerah dengan air mata yang berurai.


"Lo mau tahu siapa yang nyebarin berita ini?" Kemudian Mila menunjuk Riska. "Riska yang gak sengaja dengar obrolan Kak Arnav dan Vicky. Dia sengaja nyebarin berita ini karena dia sakit hati setelah ditolak Kak Arnav."


"Apa lo bilang?" Arnav datang dan berdiri di dekat Shena. Dia mendengar dengan jelas ala yang dikatakan Mila.


Seketika pandangan mata Shena beralih menatap kakaknya. "Benar Kak Arnav menolak Riska?"


"Iya, karena gue gak cinta sama dia." Arnav mendekati Riska. "Benar lo yang nyebarin berita ini?"


Riska hanya terdiam.


"Jawab!"


"Iya, karena Kak Arnav gak mau terima pernyataan cinta gue!"


Arnav mengepalkan kedua tangannya. Dan lagi, Shena menjadi korban atas dirinya. "Tapi bukan harus Shena juga yang jadi korban!"


"Ada apa ini ribut-ribut? Cepat masuk ke dalam kelas! Kalian gak dengar bel sudah berbunyi!" kata Bu Guru yang mengajar di kelas Shena.


Seketika mereka semua bubar dan masuk ke dalam kelas.


"Shena, kamu gak papa?" tanya Arnav sambil menghapus air mata Shena yang tersisa.


"Gak papa, Kak. Aku masuk kelas dulu." Shena masuk ke dalam kelas. Hatinya sudah sedikit membaik setelah tahu bahwa bukan Mila yang menyebarkan berita itu.


Kemudian Arnav berjalan jenjang, tapi tidak masuk ke dalam kelas. Dia menuju belakang gedung sekolah lalu duduk di dekat gudang. Dia mengambil rokok yang biasanya disembunyikan di dekat gudang, tempat Arnav dan teman-temannya berkumpul sambil merokok. Kemudian Arnav menyulutnya. Dia kini seorang diri sambil merenungi nasib Shena.


"Mengapa selalu Shena yang jadi korban karena masalah gue..."


.


💕💕💕


.


Like dan komen ya... 😌