Love From The Sky

Love From The Sky
BAB 53



"Aku ingin Mama mengadopsi Arion. Aku ingin dia jadi adik aku."


Seketika Shena menatap Sky begitu juga dengan Mamanya.


"Mengadopsi Arion?" tanya Bu Ida lagi. Dia tak percaya dengan keinginan Sky.


Sky menganggukkan kepalanya. "Iya, Ma. Aku ingin Mama mengadopsi Arion agar dia menjadi bagian dari keluarga kita. Jadi aku punya saudara lagi dan Mama juga punya anak lagi selain aku. Mama gak kesepian lagi. Ada yang bisa Mama rawat lagi atau ada yang bisa Mama marahi juga selain aku." Sky tersenyum kecil. "Kalau Mama nunggu cucu masih lama sekali. Gimana? Mama setuju? Karena aku yakin Arion juga butuh sosok orang tua."


Seketika Bu Ida memeluk Sky. Dia tidak menyangka Sky mempunyai ide bijak sepeti ini. "Nanti Mama bilang sama Papa. Papa pasti setuju. Mama sudah tidak sabar mau bertemu Arion. Dari namanya saja sudah cocok sama kamu. Nama Arion itu pasti diambil dari bintang orion dan bagian dari langit."


Sky melepas pelukan Mamanya. Dia juga baru menyadari arti nama itu. "Aku juga baru tahu. Mama benar, sepertinya aku memang ditakdirkan bertemu dengan dia. Nanti aku cari waktu yang tepat untuk bertemu dengan Arion karena dia itu keras kepala dan sulit diajak bicara."


"Sama kayak kamu dulu, kepala batu," kata Bu Ida sambil mengacak rambut Sky.


Sky tertawa mendengar perkataan Mamanya. "Sekarang udah jinak, Ma. Udah nurut. Apalagi sama pawang yang satu itu." Sky bermain mata dengan Shena yang sedari tadi hanya terdiam mendengar pembicaraan mereka.


"Ih, pawang apaan sih." Shena membalas Sky dengan tatapan tajam.


"Shena, kalau kamu mau mandi dulu gak papa. Mama udah beliin kamu beberapa baju ganti. Jadi enak bisa langsung ganti baju bersih."


"Makasih, Ma. Tapi Shena mau langsung pulang saja," kata Shena.


"Kok langsung pulang," potong Sky. "Kita kan belum ngobrol."


"Tadi kan udah ngobrol di kafe."


"Beda."


Bu Ida hanya tertawa melihat mereka berdua. "Ya udah, ajak mandi dulu. Baju kamu juga ada di kamar Sky. Nanti pulang setelah makan malam saja biar diantar Sky. Mama mau masak dulu buat makan malam."


"Tapi Shena gak boleh pulang malam sama Ayah," kata Shena lagi.


"Biar Papa yang hubungi Ayah kamu. Gak papa pasti diizinin" kata Bu Ida lalu dia berdiri dan meninggalkan mereka berdua.


Shena tak bisa menolak permintaan Mama Sky. Dia hanya terdiam sambil menggigit bibir bawahnya.


Sky yang menyadari ekspresi Shena, kini menggeser duduknya. "Kenapa? Ya udah, ayo aku antar pulang."


"Tapi gak enak sama Mama."


"Nggak papa, nanti aku bilang sama Mama."


"Sebenarnya bukan gak mau, tapi Ayah gak bolehin aku terlalu lama atau sampai malam di rumah Kak Sky karena kan aku masih belum mau menikah jadi Ayah takut kalau..."


"Iya, iya, aku mengerti," potong Sky. "Nggak papa, nanti aku bilang sama Mama biar Mama gak tahan kamu di rumah." Sky tersenyum sambil mengusap rambut Shena. "Maklum Mama sebenarnya ingin punya anak cewek. Makanya dia sayang banget sama kamu."


"Ya udah gak papa, kali ini aja pulang malam. Mama udah terlanjur masak nanti kecewa. Aku mau mandi dulu terus bantu Mama."


Sky menganggukkan kepalanya. "Kalau mau ambil baju kamu di lemari aku yang sebelah kanan."


"Yang mana?" Shena berdiri. Meskipun sudah diberi tahu, dia jelas bingung dengan lemari Sky.


"Sini." Sky berjalan mengikuti Shena. Dia membuka pintu kamarnya lalu membuka lemarinya. "Nih, bisa-bisanya Mama taruh pakaian kamu di lemari aku."


"Iya, Mama percaya banget sama kita. Kita kan belum sah." Shena mengambil satu setel pakaian yang masih baru itu.


"Tapi aku udah janji sama diri aku sendiri, aku akan menjaga kamu. Aku gak akan lakukan apapun diluar batas seperti dulu. Mungkin Mama memberi kebebasan karena mengetes aku, apa aku memang udah berubah atau belum." Sky kini duduk di tepi ranjang dan meletakkan tasnya. "Kamu mandi dulu, nanti gantian."


"Bisa. Memang agak macet. Putar aja."


"Gak bisa."


Sky akhirnya berdiri dan membantu Shena membuka pintu kamar mandinya. "Memang agak macet." Sky memutar kuncian kamar mandi itu dengan paksa hingga akhirnya terbuka. "Besok aku suruh Mas Arif benerin. Ya udah kamu mandi aku tunggu diluar."


Shena menganggukkan kepalanya lalu Sky keluar dan menunggu Shena di dekat kamarnya sambil menatap layar ponselnya. Ada beberapa pesan dari Gita yang membahas tugas mereka.


"Kok Shena lama? Jangan-jangan pintunya gak bisa dibuka." Sky masuk ke dalam kamarnya lalu meletakkan ponselnya di atas meja. Benar saja, Shena tidak bisa membuka pintu kamar mandinya. "Shena, kamu minggir dulu. Aku buka pintunya."


Sky membuka pintu kamar mandi itu dengan keras.


"Aduh!" Saking kerasnya Sky mendorong pintu, kepala Shena sampai kejedot pintu.


"Kena ya? Maaf." Sky mengusap jidat Shena sambil sesekali meniupnya.


Dada Shena semakin berdebar. Dia hanya mendongak menatap Sky yang sedang mengusapnya. Pandangan mata mereka kini terpaut. Tangan Sky perlahan pindah ke tengkuk leher Shena. Dia semakin mendekatkan wajahnya. Akhirnya bibir tipis itu saling bersentuhan dan saling memagut lembut.


Kedua tangan Shena memegang pinggang Sky. Ada desiran yang menjalar ke seluruh tubuhnya yang membuatnya pasrah dan membalas pagutan bibir itu.


Hanya sesaat, kemudian Sky menjauhkan kepalanya dan tersenyum menatap Shena. "Maaf." Mereka sama-sama menjauh dan salah tingkah. "Aku mau mandi dulu."


Shena mengambil seragamnya lalu keluar dari kamar mandi sambil meraba bibirnya. Rasanya dia masih belum berpijah sepenuhnya di bumi.


Kemudian Shena duduk di depan cermin dan melipat seragamnya. Dia masih saja tersenyum kecil membayangkan kejadian barusan.


Setelah memasukkan seragamnya ke dalam tas, Shena menyisir rambutnya. Dia mendengar beberapa kali ponsel Sky berbunyi. Shena penasaran dan mengambil ponsel Sky.


"Gita?"


Shena membuka pesan itu. Ada beberapa foto dari Gita yang membuat hatinya memanas. Bahkan dia membaca satu pesan yang langsung menghancurkan perasaannya.


Shena mengembalikan ponsel itu. Dia memakai sepatunya dengan air mata yang menetes di pipinya. Kemudian dia memakai tasnya dan buru-buru keluar dari kamar Sky.


"Shena kamu mau kemana?" Sky yang baru saja keluar dari kamar mandi segera menahan tangan Shena.


"Lepasin, aku mau pulang."


"Kok kamu nangis? Kenapa? Apa gara-gara aku cium barusan."


"Lepasin, aku mau pulang." Shena berusaha menarik tangannya. Baru saja dia dibuat melayang oleh Sky tapi ternyata dihempaskan begitu saja.


"Shena, aku gak akan biarkan kamu pulang dengan kesalahpahaman kayak gini. Kamu bilang dulu kenapa?"


Kemudian Shena menghapus air matanya. "Kamu baca sendiri aja pesan di hp kamu."


"Hp?" Sky melihat ponselnya. Dia melebarkan matanya melihat pesan dari Gita yang tidak pernah dia duga.


💕💕💕


.


Like dan komen ya..