
"Malam ini menginap di sini saja," kata Nantok pada Vicky setelah acara hari itu selesai.
"Iya Kak, malam ini memang rencananya mau menginap di sini. Jadi besok aku bisa bantu Nike berkemas."
"Ya sudah kamu ke kamar Nike saja, ini sudah malam. Di sini juga sudah beres semua."
Vicky menganggukkan kepalanya lalu dia berjalan menuju kamar Nike.
"Ciee, Om Vicky." Mila masih saja tertawa menggoda Vicky yang kini berdiri di depan pintu kamar Nike. "Tante Nike masih mandi langsung masuk aja." Mila masuk ke dalam kamarnya sambil tertawa.
Vicky hanya menggaruk tengkuk lehernya. Memang terkadang hidup ini aneh dan banyak kejadian yang tak terduga. Kemudian dia masuk ke dalam kamar Nike bertepatan saat Nike baru saja keluar dari kamar mandi.
Vicky menutup pintu kamar itu dan menguncinya. Sebenarnya dia merasa canggung saat ini. Dia hanya tersenyum menatap Nike yang sedang mengeringkan rambutnya.
"Mandi dulu saja, handuknya ada di dalam," kata Nike.
Vicky hanya menganggukkan kepalanya.
"Gak bawa baju ganti ya? Pakai baju yang aku pinjam dulu saja." Nike mengambil satu stel baju Vicky yang ada di lemarinya lalu memberikannya pada Vicky.
Vicky masih saja menatap Nike. Apa yang harus dia lakukan setelah resmi menikah? Rasanya dia sangat ingin memeluk tubuh Nike dan menciumnya.
"Jadi ini yang kamu pakai dulu?" Sepertinya Vicky harus segera menghilangkan rasa canggung di antara mereka. Dia semakin mendekati Nike. "Kenapa waktu itu kamu langsung pergi?"
"Karena semua itu kesalahanku."
"Sejak awal aku sudah mau tanggung jawab sama kamu. Aku sudah melakukannya sama kamu, aku gak mungkin meninggalkan kamu." Satu tangan Vicky meraih pinggang Nike dan mendekatkan tubuhnya. Mereka saling bertatapan dengan jarak yang sangat dekat.
"Apa di hati kamu ada cinta?"
"Iya, jatuh cinta sama kamu pada pandangan pertama." Vicky semakin mendekatkan dirinya. Dia menempelkan hidungnya di hidung mancung Nike. "Aku tidak mungkin main-main dengan keputusanku."
Dada Nike semakin berdebar tak karuan, dia tidak berani menatap sorot mata Vicky. Meskipun dia pernah berpacaran sebelumnya tapi Vicky benar-benar bisa membuatnya nyaman.
Kedua bibir itu saling mendekat dan bersentuhan. Ciuman hangat itu kembali mereka rasakan, sangat lembut dan bergelora.
Vicky melepas ciumannya lalu dia berlutut di depan perut Nike. Dia buka perut Nike lalu menciumnya lembut. "Hai, baru sekarang ya Papa cium secara langsung. Baru sekarang juga Papa bisa bicara sedekat ini. Sehat-sehat ya. Pintar sekali tidak terlalu merepotkan Mama." Vicky kembali menciumi perut itu melingkar.
Nike hanya tersenyum. Ternyata rasanya senyaman ini dilakukan spesial oleh seorang lelaki.
Vicky menegakkan dirinya dan kembali menatap Nike. "Kamu gak pernah mual kan?"
Nike menggelengkan kepalanya. "Hanya sedikit pusing saja."
"Ya sudah, aku mau mandi dulu. Jangan lupa vitaminnya diminum dulu." Vicky mengusap puncak kepala Nike lalu dia masuk ke dalam kamar mandi.
Nike tersenyum kecil lalu dia duduk di tepi ranjangnya sambil mengambil vitamin dan meminumnya. Setelah itu dia merebahkan dirinya di atas ranjang sambil mengusap perutnya.
Beberapa saat kemudian Vicky keluar dari kamar mandi dengan bertelanjang dada. Selalu saja, Nike tergoda dengan perut sixpack dan dada bidang itu. Dia menarik selimut hingga menutupi wajahnya agar Vicky tidak melihat pipinya yang bersemu merah.
"Kenapa?" Vicky naik ke atas ranjang dan membuka selimut yang menutupi wajah Nike.
"Kenapa gak pakai baju?" tanya Nike sambil menatap Vicky malu.
"Aku..." Vicky menghentikan perkataannya. Dia kini menahan tubuhnya di atas Nike.
"Boleh aku mengulang seperti malam itu lagi?"
Nike terdiam beberapa saat. Dia hanya menatap kedua mata Vicky. Kemudian kedua tangannya kini mengalung di leher Vicky. Dia tersenyum sambil mengangguk. "Tentu saja, kita sudah jadi suami istri."
Mendengar kalimat Nike membuat gairah Vicky semakin terpancing. Dia sudah tidak sabar ingin merasakannya lagi tapi kali ini akan dia lakukan secara perlahan dengan penuh perasaan.
Vicky kembali melabuhkan bibirnya di bibir Nike. Mereka saling berbalas hi sap hingga hawa panas semakin memenuhi kamar mereka. Perlahan ciuman Vicky turun ke leher dan menelusuri leher seputih susu itu. Menyapunya dengan bibir dan sesekali menghisapnya.
Nike semakin mendongak. Dia sudah menendang selimut yang menutupi tubuhnya. Sentuhan Vicky sudah membuatnya melayang dan ingin segera merasakan lebih dari itu.
"Sekarang saja."
Seketika Vicky menatap Nike. Dia tersenyum mendengar permintaan Nike. Tentu saja dia akan menuruti permintaannya itu dengan cepat. "Beneran mau langsung?"
Pipi Nike semakin memerah. Dia kini menggigit bibir bawahnya. Entah rasa apa yang mendorongnya untuk mengatakan itu. "Aku, hmm..."
"Kita nikmati saja masa indah ini. Jangan malu." Kedua tangan Vicky segera melepas piyama Nike. Tubuh yang indah yang dulu pernah dia lihat, kini semakin indah dan berisi.
Vicky terpaku beberapa saat. Putih, mulus, dan sangat berisi itu benar-benar membuat gairahnya memuncak.
"Kamu makin se xy." bisik Vicky lalu dia melabuhkan ciumannya di dada yang menjadi tempat favoritnya. Memainkannya dan meninggalkan beberapa tanda merah di sana.
Tubuh Nike semakin membusung. Dia sudah membuka kedua kakinya saat Vicky sudah bersiap memasukinya.
"Kita akan merasakannya lagi tapi kali ini aku akan pelan-pelan. Agar anak kita tidak terganggu di dalam perut." Kedua tangan Vicky menggenggam tangan Nike. Dia memejamkan matanya sesaat ketika akhirnya merasakan kehangatan itu lagi.
"Aw, Kak Vicky..."
Mendengar panggilan itu, Vicky tersenyum. Dia mencium lagi bibir Nike dan mulai menggerakkan dirinya. Ya, awalnya memang pelan tapi setelah merasakan kehangatan yang lebih nikmat dari sebelumnya, Vicky seolah tidak bisa mengontrol gerakannya.
Nike benar-benar dibuat men de sah dan sudah lemas satu kali dibawah kungkungan Vicky.
"Kak Vicky pelan-pelan." Nike menahan sesaat perut Vicky karena perutnya sudah terasa tidak nyaman.
"Iya, maaf karena rasanya benar-benar nikmat."
"Satu lagi, jangan keluarkan di dalam ya karena masih trimester pertama masih lemah."
Vicky hanya mengangguk. Dia harus mengatur lagi pola geraknya. Tidak boleh terlalu menggebu lagi. Untuk sesaat, tapi setelah rasa nikmat itu semakin melingkupi dirinya, Vicky tidak bisa mengontrol gerakannya lagi hingga akhirnya mereka sampai pada puncak secara bersamaan.
"Maaf, aku gak bisa pelan-pelan." Buru-buru Vicky melepas dirinya lalu mengusap perut Nike yang mengencang. "Sakit?"
Nike menggelengkan kepalanya. "Rasanya kencang jadi gak nyaman." Nike mengambil ponselnya dan mencari artikel di google. "Tapi aku baca memang gitu. Ya udah gak papa, nanti hilang sendiri."
Vicky menghela napas panjang. "Ya udah, sekarang kamu pakai baju terus tidur."
"Iya..."
💞💞💞
Like dan komen ya... Kayaknya udah lama gak beradegan ya... Othor masih belum sepenuhnya fit jadi gak ngena di hati buat adegan kayak gini... 🤔