Love From The Sky

Love From The Sky
BAB 41



Setelah sampai di depan rumah, Shena turun dari motor Sky dan melepas helmnya. "Hmm, gak masuk dulu?" tawar Shena basa-basi.


"Oke." Sky menjagrak motornya lalu turun.


Shena hanya memutar bola matanya. Padahal dia hanya basa-basi tapi Sky justru beneran mampir ke rumahnya. Kemudian mereka masuk ke dalam teras rumahnya. Langkah mereka berhenti saat ada Vicky yang sedang mengobrol dengan Arnav di ruang tamu.


Jika ingin bersama Shena, Sky harus siap berada dalam kondisi seperti ini. Dia harus bisa berbaur dengan keluarga Shena, meskipun hubungan antara Sky dan mereka berdua berawal dari musuh.


"Kak Vicky ada di sini juga." Shena masuk ke dalam rumah dan menyapa Vicky.


"Iya, kebetulan lewat sini jadi sekalian mampir," kata Vicky lalu dia menatap jengah pada Sky.


Shena tersenyum kecil. Dia tahu Sky pasti tidak nyaman jika ada Vicky dan Arnav secara bersamaan. Dia ingin mengetes Sky. "Kak Sky duduk dulu ya. Aku mau mandi." kata Shena sambil berjalan menuju kamarnya.


Dengan terpaksa akhirnya Sky duduk di dekat mereka berdua.


Vicky menatap tajam Sky. "Kalau lo udah baikan sama Shena, jangan sekali-kali lo nyakiti Shena."


"Iya, gue pasti gak akan nyakiti dia."


"Lo juga masuk di kampus negeri?" tanya Arnav.


"Iya, gue ambil jurusan managemen bisnis."


"Itu sama kayak gue. Nanti kita akan sekampus. Satu fakultas lagi."


"Lo kenapa gak kuliah di luar negeri juga kayak Rey?" tanya Vicky pada Arnav.


Arnav tertawa sambil menjotos lengan Vicky. "Otak gue mana mampu tes di kampus luar negeri. Di antara kita yang paling pintar cuma Reynan."


"Iya, lo benar. Gue apalagi," kata Vicky. "Gue bisanya cuma jadi orang bengkel."


Sky hanya terdiam dan menyimak pembicaraan mereka. Hidup ini berputar, dulu Sky adalah musuh Vicky dan Arnav, justru sekarang dia masuk ke dalam lingkup keluarganya.


"Sky, gak jadi kuliah di luar negeri?" tanya Naya sambil meletakkan minuman dingin di depan Sky.


"Saya tidak lulus tes, jadi kuliah di sini. Maaf, saya bohong sama Shena."


"Nggak papa. Kalau gak gini sampai nanti Shena masih gengsi aja memaafkan kamu. Diminum ya, sambil nunggu Shena."


Sky menganggukkan kepalanya.


Kemudian Naya kembali berjalan ke belakang.


"Apa rencana lo selanjutnya sama Shena? Lo mau ke hubungan lebih serius?" tanya Arnav.


Sky menganggukkan kepalanya. "Kalau Shena mau, gue akan menikahinya."


"Eh, lo gila! Shena masih sekolah!" Vicky jelas tidak terima dengan keputusan Sky.


"Iya, gue ngerti. Gak sekarang juga nikahnya."


Vicky membuang napas kasar. Hatinya semakin terasa sakit mendengar keputusan Sky untuk menikahi Shena. "Gue pulang dulu ya. Panas banget di sini." Kemudian Vicky berdiri dan keluar dari rumah Arnav.


Beberapa saat kemudian, Shena keluar dari kamarnya dan berjalan ke ruang tamu. Dia sudah terlihat segar dengan rambut setengah basahnya. "Loh, Kak Vicky kemana?" tanya Shena.


"Pulang, katanya panas di sini." Arnav juga berdiri dan meninggalkan mereka berdua.


"Kamu gak liburan?" tanya Sky setelah Shena duduk di dekatnya.


Shena menggelengkan kepalanya. "Ayah sibuk dan aku gak ada rencana liburan sih."


"Kamu mau nggak kalau kita ke taman hiburan, tempat pertama kali kita bertemu dulu," ajak Sky.


"Iya, udah lama aku nggak ke sana. Katanya banyak wahana baru juga. Aku ajak Mila juga ya?"


"Iya gak papa. Ajak kakak kamu juga gak papa." Tentu saja Sky akan membuat Shena nyaman dengannya. Dia tidak akan egois pada Shena.


...***...


"Senangnya, akhirnya kamu baikan sama Shena." Ida merapikan krah kemeja putranya. "Tampan banget kalau rapi gini."


"Sky, kenapa gak langsung dilamar dan ajak nikah? Gak papa, dirahasiakan saja dari pihak sekolah jadi kamu bisa bertanggung jawab sepenuhnya pada Shena," kata Alex. Dia juga sudah rapi dan siap berkunjung ke rumah Shena.


Sky menggelengkan kepalanya. "Aku gak mau maksa Shena. Biarkan Shena mau dengan sendirinya saja, yang terpenting dia gak menghindar lagi dari aku."


"Ya sudah. Terserah kamu. Kita berangkat sekarang saja, nanti keburu malam."


Ida terus menggandeng lengan Sky. "Mama udah gak sabar mau jadiin Shena anak Mama juga. Sepertinya dia penurut dan penyayang."


Sky hanya tersenyum. Dia sendiri juga tidak sabar menjadikan Shena sebagai istrinya. Mikir apa aku? Sky menggaruk kepalanya saat pikirannya mulai menerawang jauh.


Setelah mereka semua masuk ke dalam mobil, Alex segera melajukan mobilnya menuju rumah Shena.


Tantu saja, Sky tidak memberi tahu Shena tentang kedatangannya bersama kedua orang tuanya. Dia hanya ingin hubungannya dan Shena secara resmi diketahui oleh kedua keluarga.


Beberapa saat kemudian, mobil itu berhenti di depan rumah Shena. Mereka bertiga turun lalu berjalan menuju teras rumah.


Arsen yang saat itu berada di teras rumah terkejut melihat kedatangan Sky dan kedua orang tuanya.


"Pak Alex..." Arsen menjabat tangan Alex lalu mempersilakan mereka masuk. "Silakan masuk."


Mereka bertiga kini masuk ke dalam rumah Arsen dan duduk berjajar.


"Maaf, kami ke sini tidak memberi tahu dulu," kata Alex.


"Iya, tidak apa-apa. Sebentar saya panggilkan istri saya dan Shena dulu."


Arsen ke ruang tengah untuk memanggil Naya dan Shena yang sedang menonton televisi.


"Shena, ada Sky dan orang tuanya ke sini."


Seketika Shena berdiri. "Ngapain, Ayah?"


"Ya mau melamar kamu."


"Ih, Ayah. Shena kan belum siap. Sebentar Shena mau ganti baju dulu.".


"No, no, kalau kamu ganti baju, kamu pasti gak akan keluar dari kamar lagi." Arsen menahan tangan putrinya lalu mengajaknya ke ruang tamu.


"Sebentar Ibu mau buat minuman sama siapkan makanan."


"Ibu, Shena bantu ya."


"Biar Ibu dibantu Kak Arnav.l saja." Arsen masih saja menggandeng putranya karena dia tahu putrinya ingin kabur.


Akhirnya Shena terpaksa menuruti Ayahnya. Dia ke ruang tamu lalu bersalaman dengan kedua orang tua Sky.


"Shena, duduk sini ya." Ida menarik tangan Shena agar duduk di sampingnya. "Shena makasih kamu sudah mau menaafkan Sky."


Shena mengangguk kaku. Rasanya dia sangat canggung berada di antara orang tua Sky. "Iya Tante, tidak apa-apa."


"Kok panggil Tante? Panggil Mama ya?"


Shena hanya menggigit bibir bawahnya lalu menatap Sky yang sedang tersenyum padanya.


"Iya Shena, panggil Mama dan Papa saja," imbuh Alex.


"Hmm, Shena Izin dulu sama Ibu dan Ayah."


"Kenapa harus izin dulu. Panggil saja gak papa. Kan panggilannya beda, bukan Ibu dan Ayah." kata Arsen.


Shena hanya tersenyum kaku. Dia tidak pernah membayangkan bisa memiliki calon mertua di umurnya yang masih muda. Jangan sampai kedua orang tua Sky datang untuk melamarnya dan memintanya buru-buru menikah.


💕💕💕


Dinikahkan segera atau nanti saja nih?