
Setelah sampai di depan rumahnya, Nike turun dari motor Vicky. Dia ragu untuk masuk ke dalam rumah Vicky.
"Ayo," ajak Vicky karena Nike hanya berdiam diri saja. "Gak papa. Kamu tunggu di dalam, biar aku panggil Papa di bengkel. Mama kebetulan juga belum berangkat."
Nike akhirnya mengikuti langkah Vicky masuk ke dalam rumah. "Kamu duduk dulu, aku panggil Mama."
Kemudian Nike duduk di sofa ruang tamu rumah Vicky. Dadanya berdebar tak karuan saat membayangkan bagaimana ekspresi kedua orang tua Vicky bertemu dengannya. Dia yang membuat masa depan Vicky berantakan, pasti kedua orang tua Vicky sangat kecewa dan marah.
Beberapa saat kemudian Laras berjalan mendekati Nike. "Jadi kamu yang namanya Nike. Cantik banget." Laras menatap wajah putih Nike yang sangat cantik itu, hidung mancung, bibir tipis yang lengkap dengan kedua mata yang agak sipit. "Pantas kalau Vicky tidak melewatkan kesempatan emas."
"Mama..." kata Vicky sambil keluar dari rumah untuk memanggil Papanya.
"Maaf ya, Tante. Ini semua salah saya. Seharusnya Vicky sekarang fokus dengan kuliahnya bukan tiba-tiba menjadi seorang Ayah seperti ini." Kemudian Nike menggenggam tangan Laras. "Harusnya Vicky membahagiakan kedua orang tuanya terlebih dahulu, bukan menanggung beban hidup saya."
"Kamu bicara apa? Ini yang namanya takdir. Meskipun dimulai dengan sebuah kesalahan yang tidak disengaja tapi saya yakin kalian berdua bisa memperbaikinya," kata Laras.
Beberapa saat kemudian Virza masuk ke dalam rumah lalu duduk di sofa bersama Vicky.
"Jadi bagaimana? Kamu sudah siap menikah Vicky?" tanya Virza.
"Iya, aku siap, Pa. Kalau bisa aku ingin menikah besok. Lebih cepat lebih baik."
Seketika Nike menatap Vicky. Tidak ada keraguan sedikitpun di wajah Vicky. Sangat berbeda dengan dirinya yang masih ragu untuk menikah dengan Vicky.
"Nike, kamu seorang dosen?" tanya Virza pada Nike.
"Iya, Om."
"Kamu tahu sendiri ya, kalau Vicky masih mahasiswa baru. Dia belum bekerja. Apa kamu bisa menerima Vicky?"
"Papa, jangan buat Nike ragu lagi. Apapun kondisinya aku akan bertanggung jawab."
"Iya, Papa mengerti. Tapi menikah itu bukan hanya soal status Ayah atau tanggung jawab kamu terhadap anak yang berada di kandungan Nike. Papa hanya ingin memastikan, kalau Nike tidak akan menyesal menikah dengan kamu karena menikah itu bukan permainan. Meskipun kalian disatukan oleh kondisi seperti ini tapi kalian harus tetap menjaga pernikahan itu sampai nanti, sampai kalian tua."
Nike dan Vicky terdiam. Mereka berpikir beberapa saat.
"Pa, meskipun aku seorang mahasiswa tapi aku yakin bisa menafkahi Nike." Kemudian Vicky menatap Nike. "Nike apa kamu ragu sama aku?" tanya Vicky.
"Jujur saja iya, tapi setelah apa yang kamu lakukan barusan saat di rumah sakit, kamu dengan tegas melarang aku untuk aborsi, aku tidak ragu lagi. Iya, umur hanyalah sebuah angka. Meskipun umur kamu di bawah aku, tapi kamu jauh lebih dewasa daripada aku."
Vicky beralih menatap Papanya. "Apa Papa lupa punya anak seorang atlet renang? Yang baru saja menjadi runner up di piala dunia renang."
Nike sangat terkejut mendengar hal itu. Ternyata Vicky memang bukan pemuda sembarangan.
"Iya, Papa tahu. Tapi itu bukan pekerjaan."
"Iya, setidaknya aku sudah mempunyai modal untuk menikahi Nike dan selanjutnya aku akan menjadi pelatih di klub. Masih banyak lagi pertandingan yang bisa aku ikuti."
"Kalau kamu renang terus siapa yang meneruskan bengkel Papa?"
"Papa, iya nanti aku pasti juga bantu bengkel Papa. Aku tetap kuliah dan buat inovasi baru agar konsumen semakin meningkat."
Laras dan Nike hanya menyimak dua pria yang sedang berdebat itu.
"Nike, begitulah Vicky sangat mirip dengan Papanya. Mereka sama-sama memiliki ambisi yang besar. Kamu tenang saja, Vicky itu sangat bertanggung jawab. Selain menjadi atlet, Vicky juga ahli di bidang mesin."
"Kamu jangan sedih lagi. Tidak baik untuk kandungan kamu. Nanti setelah menikah untuk sementara tinggal di sini ya. Vicky juga punya adik perempuan. Pasti dia senang sekali punya kakak perempuan."
Nike menganggukkan kepalanya sambil tersenyum kecil.
"Kamu ada keturunan Jepang?"
"Iya Tante, Ayah orang Jepang," jawab Nike.
"Pantes agak sipit. Cantik banget." Laras sangat mengagumi kecantikan Nike. Dia menjadi tidak sabar ingin melihat wajah cucunya. Pasti akan menjadi perpaduan yang sempurna antara Vicky dan Nike. "Mulai sekarang kamu panggil Mama ya."
Nike menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
"Ya udah, Mama mau berangkat ke kantor dulu."
"Mama kerja dimana?" tanya Nike.
"Di kantor kecamatan. Nanti kalau capek istirahat saja di kamar Verli. Pulang nanti sore saja sekalian kita ke rumah."
Nike hanya mengangguk kemudian Laras berdiri dan meninggalkannya.
"Vicky kamu gak kembali ke kampus?" tanya Virza.
"Nggak Pa, besok biar aku urus."
"Ingat, kamu harus tetap lanjut kuliah."
"Iya, Pa."
Kemudian Virza berdiri dan kembali ke bengkel.
Vicky kini menggeser dirinya dan duduk di samping Nike. "Jangan sedih lagi. Kedua orang tua aku sudah bisa menerima kamu."
Nike hanya mengangguk pelan.
"Nike, apa kamu benar-benar tidak punya perasaan sama aku? Hmm, maaf aku tidak panggil kamu Bu Nike. Aku..."
"Tidak apa-apa," potong Nike. "Sebentar lagi kita sudah sah, biar aku yang panggil kamu Kak."
"Eh, gak usah. Aku lebih muda."
"Tapi istri harus menghormati suami."
Vicky hanya tersenyum kaku sambil menggaruk lehernya. "Hmm, ya, terserah kamu saja. Tapi aku ingin tahu perasaan kamu sebenarnya kayak gimana?"
Nike menggeleng pelan. Dia masih bingung dengan perasaannya sendiri. "Aku gak tahu. Saat pertama kali bertemu kamu hari itu, aku sedang patah hati dan sangat kecewa karena calon tunangan aku ternyata justru akan menjual aku. Orang yang selama dua tahun aku percaya ternyata hanya memanfaatkan aku. Apa bagi kamu perasaan itu penting untuk saat ini?"
"Ya, sebenarnya aku sendiri juga bingung dengan perasaanku. Tapi sejak malam itu, aku benar-benar tidak bisa melupakanmu dan ingin bertemu kamu lagi. Ternyata Tuhan memberi jalan untuk aku bertemu kamu. Aku yakin perasaan kita akan semakin kuat seiring berjalannya waktu."
"Iya, semoga saja seperti itu." Senyum tulus kini telah mengembang di bibir Nike. Ternyata semua tidak semenakutkan yang dia bayangkan.
💞💞💞
Like dan komen ya...