Love From The Sky

Love From The Sky
BAB 90



"Sayang, aku ke tempat latihan dulu ya. Ada sesuatu yang akan aku bicarakan sama Vicky," kata Sky pada Shena sambil memakai jaketnya malam hari itu.


"Iya, ada Mbak Asih di rumah jadi aku gak takut. Tapi kamu pulangnya jangan malam-malam nanti aku gak bisa tidur."


"Iya." Sky mencium kening Shena lalu mengusap perut Shena. "Baik-baik ya sama Mama."


Shena selalu bahagia mendengar Sky yang sering mengajak calon buah hatinya berbicara. Kemudian dia mengantar Sky sampai depan rumah.


Setelah Sky masuk ke dalam mobil, dia segera melajukan mobilnya menuju klub renang miliknya.


Beberapa saat kemudian, Sky telah sampai di depan tempat latihan renang. Dia segera turun dari mobil dan berjalan masuk untuk menemui Vicky.


Terlihat Vicky sedang berenang dengan semangat lalu dia menepi saat Sky melambaikan tangan ke arahnya.


"Ada apa?" Vicky naik lalu mengeringkan tubuhnya dengan handuk.


"Gimana masalah lo sama Bu Nike?" tanya Sky sambil duduk di kursi.


Vicky hanya terdiam. Dia kini mengalihkan pandangannya dari Sky.


"Sorry, bukannya gue ikut campur masalah lo. Gue cuma ingin membantu."


Vicky menggeleng pelan lalu dia duduk di samping Sky. "Nike gak mau gue tanggung jawab."


"Maksudnya?"


"Nike akan menggugurkan kandungannya."


Sky terkejut mendengar hal itu. "Terus lo setuju? Jangan! Nanti lo sangat menyesal kayak gue dulu."


Vicky menggelengkan kepalanya lagi. "Gue juga gak mau tapi mau gimana lagi. Nike sangat keras kepala."


"Lo udah bilang sama orang tua lo?"


"Gue mau bilang tapi gue masih takut."


"Lo harus cepat bilang, dan langsung saja lamar Bu Nike. Kalau Bu Nike sudah tahu keseriusan lo, Bu Nike pasti mau menerima lo."


Vicky menganggukkan kepalanya. "Iya, lo benar. Gue emang pengecut. Tidak bisa bertindak tegas."


"Untuk selanjutnya lo gak usah bingung. Klub ini membutuhkan atlet seperti lo. Kita kembangkan sama-sama klub ini menjadi lebih maju dari sebelumnya. Lo bisa menjadi pelatih dan lo juga bisa ikut bertanding di setiap ada pertandingan besar."


Vicky tersenyum dan memeluk Sky sesaat. "Thanks, lo udah beri gue pencerahan." Kemudian Vicky mengambil baju gantinya. "Gue pulang dulu ya."


"Iya."


Vicky segera berlari menuju ruang ganti dan berganti pakaian. Setelah itu, dia buru-buru ke tempat parkir dan menaiki motornya.


"Gue harus segera bilang sama Papa."


Vicky segera melajukan motornya menuju rumahnya. Setelah sampai di depan rumah, Vicky masuk ke dalam rumah. Ada kedua orang tuanya yang sedang duduk santai di ruang tengah.


Vicky kini duduk di dekat mereka lalu menoleh ke kamar adiknya yang sudah tertutup rapat.


"Verli sudah tidur?" tanya Vicky. Dia tidak ingin adiknya mendengar masalahnya.


"Sepertinya sudah, kenapa?" tanya Virza. Dia bisa menangkap wajah cemas putranya.


"Hmm..." Vicky masih ragu untuk mengatakannya. Dia terdiam beberapa saat.


"Ada masalah apa?" tanya Laras karena putranya tak juga memulai pembicaraannya.


"Ma, Pa, aku minta maaf. Aku sudah melakukan kesalahan besar."


Vicky mengangguk pelan. "Aku sudah menghamili Nike." Vicky hanya menundukkan pandangan matanya. Dia tidak berani menatap wajah marah Papanya.


"Apa? Kamu menghamili Nike? Nike siapa? Pacar kamu?!" Virza mengeraskan suaranya. Dia tidak menyangka putranya berani melakukan ini.


"Nike, dosen di kampus."


"Dia dosen di kampus! Kamu..." Virza mengangkat tangannya akan menampar Vicky tapi terhenti. Dia menarik napas panjang dan berusaha meredam emosinya lalu menurunkan tangamnya lagi.


"Papa, dengarkan cerita Vicky dulu," kata Laras. Dia kini menahan lengan suaminya agar tidak memukul Vicky.


"Aku bertemu dengan Nike di Jepang dan waktu itu Nike minta bantuan sama aku karena dikejar seseorang. Dia mau dijual. Aku tidak tahu kalau dia sudah diberi obat dan..." Vicky mulai bercerita. Dia menghentikan kalimatnya dan dipotong oleh Papanya.


"Kamu melakukan one night stand sama dia?"


Vicky mengangguk pelan. "Aku mau bertanggung jawab meskipun sebenarnya dia menolak. Dia juga ingin menggugurkan kandungannya tapi aku gak mau. Aku ingin Papa dan Mama ke rumahnya untuk melamarnya besok sebelum dia benar-benar akan menggugurkan kandungannya."


Virza menarik napas panjang. Dia terdiam beberapa saat.


"Vicky, kamu harus segera menikahi dia. Jangan sampai kandungannya digugurkan. Anak yang ada di dalam kandungan itu tidak salah apa-apa," kata Laras.


"Vicky, menikah itu bukan soal yang mudah. Kamu harus siap menghidupi istri kamu dan anak kamu nanti. Hidup kamu sudah tidak lagi mengandalkan Mama dan Papa," kata Virza.


Vicky mengangguk pelan. "Iya, aku mengerti. Aku pasti akan berusaha memenuhi semuanya sendiri. Aku sudah mempunyai tabungan yang cukup untuk menikah dan selanjutnya aku akan menjadi atlet dan juga pelatih renang."


"Apa orang tuanya sudah tahu?"


"Dia tidak memiliki orang tua dan tinggal dengan kakaknya. Dia adalah Tantenya Mila."


"Mila? Mila yang dulu sering ke sini?" tanya Laras. Dia memang pernah bertemu dengan Mila beberapa kali dan dia juga tahu jika Mila pernah menyukai putranya itu.


Vicky menganggukkan kepalanya. "Iya."


"Ya sudah, besok kita akan ke rumahnya. Papa juga tidak mau kamu melakukan dosa lagi karena tidak bertanggung jawab terhadap anak itu."


"Makasih, Pa, Ma. Papa dan Mama sudah mau mengerti masalah ini dan aku ingin setelah menikah nanti, Nike tinggal di sini selama aku mengumpulkan uang untuk membeli rumah."


"Iya, Nike tanggung jawab kamu. Biarkan dia tinggal di sini."


Beban dalam dada Vicky telah berkurang setengah. Kini tinggal menghadapi keluarga Nike.


...***...


Malam hari itu, Nike menatap layar laptopnya. Dia sedang mencari rumah sakit yang bisa menangani aborsi secara ilegal.


"Ini dia, coba aku hubungi dulu Dokter yang menangani." Nike segera menghubungi Dokter yang menangani dan membuat janji.


"Besok pagi? Iya, saya akan datang besok pagi."


Setelah janji temu dibuat, Nike mematikan panggilan itu. Dia kini duduk di tepi ranjang sambil mengusap perutnya.


"Maaf..." Setetes air mata jatuh di pipinya. Dia tahu perbuatannya ini salah. Dia sebenarnya juga tidak tega membunuh calon anaknya sendiri. Tapi dia tidak sanggup menanggung ini semua. Dia tidak ingin membuat malu dan merepotkan Kakaknya.


"Besok pagi aku akan berangkat. Aku harus membuat alasan agar aku bisa menginap semalam di rumah sakit."


Nike kini merebahkan dirinya di atas ranjang. Dia teringat lagi dengan kalimat Vicky tadi sore.


Aku akan menikahimu. Aku akan tanggung jawab sama kamu.


"Vicky, aku tahu kamu pria baik-baik. Aku yakin kamu bisa mendapatkan wanita yang lebih baik dari aku. Aku tidak pantas untuk kamu dan aku juga tidak mau merusak masa depan kamu."


Walau sebenarnya tidak mudah bagi Nike melupakan kenangannya bersama Vicky. Kenangan satu malam yang mungkin tidak bisa dia lupakan seumur hidupnya.