
"Rion?"
Shena menganggukkan kepalanya lalu menggeser minuman milik Sky yang tinggal setengah itu dan menghabiskannya.
"Haus? Aku pesankan minuman lagi ya?"
Shena mengangguk lagi. "Sama makanan ya, aku lapar."
Sky tersenyum sambil mengusap rambut Shena. Kemudian dia berdiri dan memesan makanan berserta minuman untuk Shena. Setelah itu dia kembali duduk.
"Kamu belum jelasin, gimana kamu bisa sama Rion?" tanya Sky lagi. Tentu saja dia sangat penasaran.
Shena terdiam beberapa saat. Dia kini melihat Arion yang mengantar minuman dan makanan untuknya.
"Makasih," kata Shena setelah makanan dan minuman itu tersaji di atas meja.
"Kamu kerja di sini?" tanya Sky.
Arion hanya menganggukkan kepalanya lalu dia kembali ke belakang.
Shena segera memakan spageti itu dengan lahap karena perutnya sangat lapar.
"Kamu lapar banget? Tadi gak bawa bekal?" tanya Sky, bahkan miliknya saja baru dia makan tapi Shena sudah habis setengah.
"Bawa, tapi lapar banget," kata Shena dengan mulut yang penuh makanan.
"Ya udah kamu habiskan dulu. Banyak yang ingin aku tanyakan sama kamu."
Shena menganggukkan kepalanya. "Aku juga ada satu pertanyaan yang penting. Aku dulu yang tanya."
Kemudian tidak ada pembicaraan di antara mereka selama menghabiskan makanan. Setelah perut Shena kenyang, dia usap bibirnya dengan tisu dan menatap Sky yang ada di sampingnya. "Aku tadi sempat dengar kalau perasaan Gita belum berubah. Perasaan buat siapa?"
Sky tersenyum mendengar pertanyaan Shena. Dia justru bahagia saat Shena merasa cemburu padanya. "Jelas perasaan sama kakak kamu. Sama siapa lagi?"
"Kan Kak Sky juga mantannya."
Kemudian Sky menggenggam satu tangan Shena. "Iya, tapi dulu aku hanya sekedar berpacaran. Perasaanku tidak sedalam saat bersama kamu sekarang."
Shena mencebikkan bibirnya. "Gombal."
"Iya, beneran. Terus kenapa kamu bisa sama Rion?"
Shena mengedarkan pandangannya melihat posisi Arion saat ini. Arion sedang sibuk di dekat dapur kafe. "Jadi sepulang sekolah tadi motor Arion mogok dan dia buru-buru ke rumah sakit lalu aku mengantarnya. Gak papa kan?"
"Iya, gak papa asal niatnya memang menolong."
Shena semakin mendekatkan dirinya agar suara pelannya bisa didengar Sky di kafe yang lumayan ramai itu. "Jadi ternyata yang dirawat di rumah sakit itu adalah neneknya Arion. Cukup parah karena dirawat di ruang ICU dan Arion itu yatim piatu jadi dia hanya tinggal dengan neneknya. Makanya dia harus kerja kayak gini."
Sekarang Sky bisa memahami kondisi Arion. Pantaslah jika Arion sangat sensitif saat menyangkut status sosial.
"Dia tadi cerita sambil nangis, aku sampai tersentuh dengar ceritanya." Shena menghapus air mata yang mengembun di ujung matanya saat mengingat cerita Arion.
Satu tangan Sky merengkuh bahu Shena dan mengusapnya.
Shena masih melihat Arion dari kejauhan takut jika pembicaraannya didengar Arion. "Arion juga sakit parah, Kak."
"Sakit? Sakit apa?"
"Leukimia. Meskipun masih stadium dua tapi jika dibiarkan pasti akan bertambah parah."
"Astaga, lalu kenapa dia masih bekerja seperti ini."
"Karena tidak ada lagi yang bisa dia andalkan selain dirinya sendiri. Neneknya juga sudah setengah sadar, meskipun biaya rumah sakit gratis, tapi untuk keperluan lainnya pasti butuh uang."
Sky menghela napas panjang. Dia merasa kasihan dengan hidup Arion yang seperti ini. Andai saja dia bisa membantu dan meringankan beban Arion. "Aku ingin bantu dia, tapi sepertinya dia tidak bisa menerima bantuan begitu saja."
"Tadi Arion juga sempat bilang, neneknya sangat berat meninggalkannya karena Arion tidak punya siapa-siapa lagi."
"Tidak punya siapa-siapa?" Seketika Sky tersenyum lebar. Dia menghabiskan minumannya lalu mengajak Shena pergi dari kafe. "Shena, ikut aku ke rumah ya."
"Tapi aku belum izin sama Ibu."
"Mana hp kamu. Kamu VC, aku izinin."
"Sudah diizinkan. Yuk."
Shena menganggukkan kepalanya lalu mereka keluar dari kafe sambil bergandengan tangan.
Arion hanya melihat mereka berdua dari kejauhan. Tentu saja, terkadang dia merasa iri dengan hidup mereka.
"Lupa kalau kamu bawa motor sendiri." Sky tertawa sambil melepas tangan Shena. "Ya udah, pelan-pelan aja kita riding sama-sama."
Beberapa saat kemudian motor mereka melaju menuju rumah Sky. Sky sengaja memelankan laju motornya dan terkadang berada di belakang Shena. Dia harus memastikan keselamatan Shena. Setelah sampai di rumah Sky, mereka berdua turun dari motor.
"Nanti pulangnya aku antar aja ya pakai motor kamu," kata Sky sambil melepas helmnya.
"Aku berani pulang sendiri."
"Nggak, pokoknya aku antar."
"Ih, protektif banget."
"Iya, ini sudah sore. Nanti kalau hari udah gelap, aku gak mau kamu di jalan sendiri." Sky menggandeng tangan Shena dan mengajaknya masuk ke dalam rumah.
"Banyak pengendara lain, aku gak sendirian."
"Gak usah bawel. Pokoknya nanti aku antar."
Shena tersenyum dan bergelayut di lengan Sky. "Sampai nanti tetap perhatian gini ya. Jangan pernah bosan, karena kadang manja aku keterlaluan."
"Pasti." Sky mengajak Shena ke ruang tengah. Ada mamanya yang sedang duduk bersantai di sana.
Shena bersalaman dengan mamanya Sky lalu duduk di dekatnya.
"Shena, kalau tahu kamu ke sini Mama masakin tadi."
"Shena sudah makan di kafe sama Kak Sky, Ma."
Sky kini juga duduk di samping mamanya. "Ma, Papa belum pulang?"
"Papa ada meeting sampai malam. Kenapa?" tanya Bu Ida sambil melihat wajah serius putranya.
"Sebenarnya butuh pendapat Papa juga."
"Gak papa bilang sama Mama dulu aja. Apa? Kalian berdua mau menikah?"
Seketika Shena menatap tajam Sky. "Kak Sky mau bilang itu?"
"Bukan. Hmm, Mama mau gak kalau punya anak lagi?"
"Mama sudah berumur, udah gak bisa. Dulu aja sulit program kamu dan Gala. Atau jangan-jangan kamu yang mau punya anak?"
"Eh, bukan gitu Ma. Mama salah paham."
Shena hanya tersenyum kaku mendengar tuduhan mamanya Sky. Tapi sebenarnya dia juga penasaran, apa yang ingin Sky katakan pada Mamanya.
"Jadi gini, aku pernah gak sengaja menabrak seseorang dan kebetulan dia sekelas sama Shena, namanya Arion." Sky mulai bercerita.
"Kamu nabrak orang?"
"Iya, udah lama dan aku udah ganti rugi. Dia ini anak yatim piatu dan hanya tinggal sama neneknya. Neneknya sakit parah dan Arion juga sakit leukimia. Kasihan setiap hari dia bekerja sampai malam setelah pulang sekolah karena tidak ada yang membiayainya. Tubuhnya udah sakit tapi berusaha kuat."
"Aduh, kasihan. Kalau kamu mau bantu dia gak papa. Mama senang banget."
"Aku ingin Mama mengadopsi Arion. Aku ingin dia jadi adik aku," kata Sky.
Seketika Shena menatap Sky begitu juga dengan Mamanya.
💕💕💕
.
Like dan komen ya...