Love From The Sky

Love From The Sky
BAB 83



"Ada apa kita berkumpul di sini, Pa?" tanya Sky pada Papanya. Dia kini ada di klub aquatik bersama Papanya dan juga Shena. Semua orang-orang penting dalam klub itu juga menghadiri pertemuan itu. Beberapa atlet yang bergabung juga ikut hadir.


Pak Alex tidak menjawab pertanyaan Sky. Dia justru membuka acara pertemuan hari itu.


"Selamat siang semua, terima kasih sudah berkenan hadir dalam pertemuan kali ini. Saya selaku pemilik klub ini ingin menyampaikan sesuatu yang cukup penting."


Mendengar hal itu, seketika Sky menatap Papanya. "Papa yang punya klub ini?"


"Iya, jadi sebenarnya Papa pemilik saham terbesar. Papa memang sengaja memberikan kepemilikan klub ini pada pemilik saham kedua yang dulunya dipegang Pak Steven lalu berganti Pak Albert. Karena Pak Albert terkena kasus suap, Papa membeli saham dia juga dan mulai sekarang klub ini Papa serahkan sama kamu."


Dan lagi, Sky dibuat terkejut oleh Papanya. "Tapi, Pa. Aku belum bisa."


"Papa yakin kamu bisa. Kamu masih belum bisa berenang lagi, dan masa penyembuhan kamu masih sangat lama."


Sky akhirnya menerima pemberian berharga dari Papanya. Meski sebenarnya dia masih ragu dengan kemampuannya untuk menjadi seorang pemimpin. "Baik Pa, aku akan mencoba. Tapi aku masih butuh banyak belajar dari Papa."


"Iya, kamu pasti bisa. Kamu akan dibantu oleh Bu Clara dan Pak Riki. Setelah kamu sukses memimpin klub ini, itu berarti kamu sudah siap memegang perusahaan Papa. Kamu sudah mempunyai keluarga sendiri, jadi sepak terjang kamu harus kuat."


Sky menganggukkan kepalanya. Iya, dia mengerti dengan tanggung jawabnya yang semakin besar. Dia harus bisa membahagiakan Shena selain dengan cintanya.


Semua orang yang menghadiri pertemuan itu memberi selamat pada Sky. Begitu juga dengan Shena. "Selamat Pak Sky."


Satu cubitan mendarat di hidung Shena karena dia sangat gemas. "Aku mau lihat teman-teman latihan dulu, gak papa kan?"


"Iya, gak papa. Pasti Kak Sky kangen. Biar aku tunggu di sini saja." Shena kini duduk tak jauh dari kolam renang dan bisa melihat Sky yang sekarang tengah tertawa lepas.


Akhirnya, Kak Sky bisa tersenyum bahagia lagi meski sekarang


...***...


Beberapa minggu telah berlalu, akhirnya Shena telah resmi menjadi seorang mahasiswi di kampus negri. Hari pertama masuk kuliah, Shena sudah heboh sejak pagi dengan Sky. Menyiapkan semua perlengkapan ospek yang dia cek berulang kali agar tidak ada yang tertinggal.


"Sayang, sudah aku cek, semua udah lengkap. Jangan dicek lagi. Sarapan dulu, lalu berangkat."


Mereka berdua kini sarapan bersama di ruang makan.


"Kak Sky, aku gak sempat masak."


"Iya, gak papa. Besok saudara Bibi akan kerja di sini. Dia juga bisa menemani kamu kalau aku tidak ada di rumah dan bantu pekerjaan rumah."


Shena menganggukkan kepalanya. Dia mulai menyantap sarapannya pagi itu dengan cepat karena dia tidak ingin terlambat ke kampus. Apalagi sejak kecelakaan itu, Sky selalu menggunakan mobil saat berpergian.


"Jangan cepat-cepat nanti tersedak."


"Takut kena macet, Kak."


"Masih satu jam lagi sebelum apel pagi."


Shena hanya menganggukkan kepalanya. Setelah sarapannya habis, Shena meminum air putih lalu memakai tasnya. "Ayo, Kak. Kak Sky kan gak jadi anggota BEM nanti kalau aku terlambat terus dihukum, Kak Sky gak bisa belain."


"Iya, meskipun aku bukan anak BEM, aku gak akan biarin mereka hukum kamu." Kemudian Sky meminum air putih lalu dia juga memakai tasnya.


"Kalau di kampus kita pacaran."


Sky hanya tersenyum sambil merengkuh bahu Shena. "Gak janji. Bahaya kalau ada yang godain kamu."


"Ih, gak boleh. Nanti bisa jadi bahan bullyan. Nanti aja kalau udah beberapa bulan kuliah," kata Shena sambil mengunci pintu. Kemudian dia berjalan menuju mobil Sky.


"Kak Sky, bakalan bawa mobil terus?" tanya Shena setelah masuk ke dalam mobil.


"Kayaknya iya. Selaim tangan aku yang masih sedikit sakit, sekarang setiap hari aku sama kamu, biar kamu gak kepanasan dan kehujanan." Kemudian Sky mulai melajukan mobilnya menuju kampus.


"Kenapa senyum-senyum gitu? Semalam masih kurang?"


Shena menggelengkan kepalanya lalu menempelkan pipinya di lengan Sky. "Kak Sky sekarang terlihat lebih dewasa. Makin ganteng."


Seketika Sky tertawa mendengar pujian dari Sky. "Tumben banget muji aku gini. Mau apa?"


"Ya gak mau apa-apa. Memang gak boleh bilang gitu?" Shena menegakkan dirinya dan memanyunkan bibirnya.


"Kok diam?"


"Gak papa. Katanya gak boleh muji ya udah aku diam aja."


"Ya udah, nanti jaga mata ya di kampus. Soalnya di sana juga banyak cowok ganteng. Apalagi anak BEM, ketampanannya di atas rata-rata."


"Iya, Kak Sky. Kan aku sudah punya suami."


Satu tangan Sky mengusap puncak kepala Shena. Kemudian dia menghentikan mobilnya di tempat parkir kampus.


"Aku antar sampai kelas maba ya," kata Sky setelah keluar dari mobil.


"Gak usah, Kak Sky langsung ke kelas aja. Aku udah janjian sama Mila."


"Ya udah, hati-hati."


Shena menganggukkan kepalanya lalu dia menghampiri Mila yang sudah menunggunya.


"Lo lama banget sih."


"Iya, Kak Sky bawa mobil, jadi agak kejebak macet."


Setelah meletakkan tas, mereka berdua berkumpul di lapangan bersama seluruh mahasiswa baru untuk melakukan apel pagi.


Sinar matahari semakin terik, tapi apel pagi itu belum juga dibubarkan. Bahkan sekarang mereka sudah berbaris sesuai fakultas masing-masing dan masih berjemur di lapangan.


Kenapa tiba-tiba badan aku lemas banget gini...


"Sekarang kalian perkenalkan diri kalian. Apa visi misi kalian masuk di kampus ini?"


Shena sudah tidak bisa fokus dengan perkataan salah satu seniornya. Keringat dingin juga semakin membasahi pelipisnya.


"Kamu kenapa diam saja?! Cepat perkenalkan diri kamu!" bentak senior itu pada Shena.


"Saya..." Tubuh Shena semakin lemas. Tiba-tiba saja dia jatuh pingsan.


"Ervin, dia pingsan!"


Ervin segera menahan tubuh Shena lalu menggendongnya ke ruang kesehatan.


Setelah sampai di ruang kesehatan, dia melihat name tag yang tergantung di leher Shena. "Shena." Dia tersenyum kecil. "Cantik juga."


Bukannya memanggil petugas kesehatan tapi dia justru menyentuh pipi mulus Shena dengan jemarinya.


"Cantik dan sexy." Perlahan tangan Ervin menuju kancing atas kemeja putih Shena. Lalu dia melepas kancing itu secara perlahan.


"Apa yang lo lakuin?!"


💞💞💞


Like dan komen ya..