Love From The Sky

Love From The Sky
BAB 15



"Kenapa gue kepikiran Shena terus?" Sky duduk di balkon kamarnya sambil menghisap rokoknya. Hingga malam telah larut dia tak juga bisa tidur.


"Kenapa tiba-tiba gue merasa bersalah gini? Gimana kalau Shena sampai hamil? Apa yang harus gue lakukan?"


Sky kini menatap langit hitam yang bertabur bintang itu. Dia tidak mengerti dengan perasaannya yang tiba-tiba gundah dan cemas. "Gue harus antisipasi sebelum Shena minta pertanggung jawaban sama gue."


Sky kembali menghisap rokoknya dengan pikiran yang jauh berkelana.


"Sebenarnya siapa yang menabrak Gala?" Sky menghela napas panjang lalu dia mematikan putung rokoknya dan masuk ke dalam kamarnya.


Dia mengambil ponsel Gala yang masih dia bawa lalu menatap Shena yang dia jadikan wallpaper di ponsel itu. "Shena..."


Sky menghubungi Shena tapi baru satu kali nada panggil, dia matikan kembali panggilan itu lalu menjauhkan ponselnya. "Ngapain gue telepon Shena!"


Sky merebahkan dirinya di atas ranjangnya dan masih saja menatap langit-langit kamarnya. "Apa gue kena kutukan Shena? Otak gue terus membayangkan Shena."


Akhirnya Sky membalikkan badannya dan berusaha tidur dengan posisi tengkurap.


...***...


"Shena, akhir-akhir ini kenapa kamu muram? Ada masalah? Cerita sama Ibu kalau kamu ada masalah, jangan dipendam sendiri." tanya Naya yang melihat Shena bersedih dan sudah beberapa hari ini Shena selalu muram.


Shena hanya menggelengkan kepalanya. "Lagi banyak tugas, Shena capek banget."


Arnav yang sedang menyantap sarapannya hanya menatap Shena. Lalu dia menatap Ayahnya yang beberapa hari ini terlihat sangat sibuk. Bahkan sekarang Ayahnya sedang sarapan sambil menatap layar laptop.


"Ayah duluan ya. Ada meeting penting hari ini." Setelah menutup laptopnya, Arsen berdiri lalu mencium kedua pipi istrinya terlebih dahulu.


"Hati-hati ya, Mas."


Arsen menganggukkan kepalanya lalu dia mendekati Shena yang sedang minum susu. "Shena, Ayah berangkat dulu."


Shena menganggukkan kepalanya lalu mencium punggung tangan Ayahnya.


"Arnav, jaga adik kamu."


"Iya, Ayah." Arnav juga mencium punggung tangan Ayahnya.


Kemudian Arsen berjalan jenjang keluar dari rumah.


Beberapa saat kemudian Shena dan Arnav juga telah selesai sarapan. Mereka berpamitan pada Ibunya lalu keluar dari rumah.


Arnav membantu Shena memakai helmnya. "Shena, jangan sedih terus."


Shena menganggukkan kepalanya. "I'm fine."


Setelah mereka naik ke atas motor, Arnav segera melajukan motornya menuju sekolah. Di jalan, dia berpapasan dengan Sky yang sengaja memelankan motornya di samping motor Arnav.


"Ngapain lo! Pergi! Gue gak mau lihat lo!" Shena memeluk pinggang Kakaknya dengan erat karena dia merasa takut melihat Sky.


Arnav juga menoleh Sky beberapa saat. "Ngapain lo!" Dia tidak bisa menghindar karena kendaraan pagi itu sangat padat.


Sky terus menatap Shena. Dia sengaja memelankan motornya agar dia berada di belakang motor Arnav persis. Entah apa yang ada di pikirannya saat ini, yang jelas dia sangat ingin menemui Shena. Setiap hari yang ada di pikirannya hanya Shena.


Bahkan sampai di depan sekolah Shena, Sky masih saja mengikutinya.


"Shits lo! Mau apa ngikutin kita?" Arnav menjagrak motornya lalu turun dan bersiap menghajar Sky tapi Sky menutup kaca helmnya dan melajukan motornya dengan kencang.


"Mau apa tuh anak! Gue pengen banget hajar dia!" Vicky yang baru sampai juga sempat melihat Sky yang melajukan motornya dengan kencang setelah mengikuti Arnav dan Shena.


"Shena." Mila menggandeng lengan Shena. "Ada apa?"


Seketika Shena menarik Mila agar berjalan masuk ke dalam sekolah.


"Ngapain Sky ngikutin lo? Jangan-jangan dia masih mengincar Shena," kata Vicky setelah dia memarkir motornya di samping motor Arnav.


"Gak tahu gue. Sampai sekarang gue juga belum dapat bukti." Arnav melepas helmnya lalu dia berjalan menuju kelas.


"Lo takut kalau lo juga ikut terseret ke polisi kalau laporin Sky? Shena itu adik lo. Kalau gue jadi lo, gue gak peduli yang penting Sky mendapat hukuman atas perbuatannya."


"Kenapa lo jadi nyalahin gue! Iya, gue tahu! Beri gue waktu buat buktiin kalau yang bunuh Gala itu adalah anak buah Sky sendiri! Gue batasi sampai bulan ini, kalau bukti itu masih tidak gue dapatkan, gue akan lewat jalur hukum." Kemudian Arnav melangkahkan kakinya menuju kelas.


Sedangkan Shena kini duduk di bangkunya. Sudah hampir dua minggu berlalu, tapi dia masih saja trauma.


"Shena, kalau lo ada masalah cerita sama gue. Lo setiap hari muram gini, kayak bukan Shena yang gue kenal."


Shena menggelengkan kepalanya. "Bukannya gue gak mau cerita sama lo tapi gue gak sanggup buat cerita."


"Ya udah, gak papa. Tapi jangan sedih terus gini. Apa gara-gara Vicky? Beberapa hari ini lo kayak jaga jarak sama Vicky."


Shena hanya menggelengkan kepalanya. Ya, dia memang jaga jarak dengan Vicky setelah Vicky mengungkapkan semua perasaannya. Dia takut melukai perasaan Vicky, karena dia tidak akan bisa membalas perasaan itu.


...***...


Sky menghentikan motornya saat melihat gerbang sekolahnya baru saja ditutup. Akhirnya dia melajukan motornya ke belakang sekolah dan menitipkan motornya di warung kopi yang berada di belakang sekolah. Kemudian dia memanjat tembok sekolah. Tembok sekolah yang cukup tinggi itu membuat Sky jatuh saat melompat turun.


"Lo gak papa?" Reynan yang juga baru melompati pagar mengulurkan tangannya untuk membantu Sky berdiri.


"Eh, lo Rey." Sky memegang tangan Rey lalu berdiri. "Tumben lo telat?"


"Iya, tadi ban motor gue bocor. Baru telat dua menit gerbangnya udah ditutup. Lo sendiri?" Kemudian mereka berjalan menuju kelas.


"Kalau gue udah biasa telat."


Reynan adalah murid teladan di sekolah itu. Dia sangat pintar dan selalu menjadi juara. Bahkan selama enam bulan yang lalu dia ikut dalam program pertukaran pelajar ke Jepang. Tidak ada yang tahu jika sebenarnya dia adalah saudara Arnav.


Mereka berdua masuk ke dalam kelas. Pandangan mata Reynan tertuju pada Fadli yang sedang diganggu Rafka dan teman lainnya.


"Woy, ngapain kalian!" Sky mendorong Rafka agar melepas Fadli.


"Dia gak mau kerjain PR gue."


"Kerjain sendiri! Lo jangan bully orang yang lemah. Cemen lo!" Sky kini duduk di bangkunya. Dia memang arogan tapi dia tidak membully orang yang tidak berurusan dengannya.


Reynan kini duduk di samping Fadli. Dia melihat tangan Fadli gemetar.


"Gue pasti akan buat kalian menyesal." gumam Fadli yang masih saja didengar Reynan. Dia tahu Fadli yang cupu jelas menjadi bulan-bulanan Rafka dan lainnya.


"Lo gak papa kan?" tanya Reynan.


Fadli menggelengkan kepalanya. "Gue akan balas Rafka dan lainnya." kata Fadli sangat pelan tapi penuh dengan amarah.


Reynan semakin menatap Fadli. "Dengan cara apa?"


"Nggak sekarang, tapi gue butuh bantuan lo. Gue punya rahasia besar tentang Rafka," bisik Fadli.


Rahasia? Rahasia apa yang dimaksud Fadli?