Love From The Sky

Love From The Sky
BAB 38



Sedari tadi Shena tersenyum melihat plester yang menempel di tangannya. Entahlah, mengapa perasaannya berubah drastis seperti ini. Rasa benci dan kesal pada Sky telah menghilang setelah dia membaca semua surat dari Sky.


"Aduh, teman gue udah gak waras senyum-senyum sendiri dari tadi," kata Mila sambil memasukkan bukunya ke dalam tas karena sudah waktunya istirahat. "Udah ketemu sama Kak Sky?"


Seketika senyum Shena lenyap. "Tadi pagi gue lewat depan sekolahnya."


"Terus? Lo ketemu?" tanya Mila. Dia sangat ingin mengertahui kelanjutan hubungan Shena dan Sky.


"Ya awalnya sih nggak ketemu. Kan gue cuma lewat aja. Tapi gue malah jatuh kena jalan lubang dan ternyata Sky yang nolong gue. Aduh, malu banget gue." Shena juga memasukkan buku ke dalam tasnya.


Seketika Mila tertawa lepas. "Pantes tuh plester sedari tadi dipandangi terus. Pasti yang masangin Sky. Aduh, hati adek sampai kesetrum bang."


"Ih, tapi Sky sekarang dingin banget. Kayaknya dia beneran marah sama gue. Senyum aja nggak." Shena berdiri lalu berjalan keluar dari kelas sambil menggandeng tangan Shena.


"Kalau gitu gantian lo yang nyamperin dan minta maaf selama 70 hari dan tulis surat romantis sebanyak itu juga." Mila tertawa dengan keras di ujung kalimatnya. Begitulah hidup, cepat sekali semua terbalik ke diri sendiri.


Mereka tidak sadar jika ada sepasang telinga yang mendengar pembicaraan mereka sedari tadi. Vicky hanya menghela napas panjang sambil melipat tangannya dan berjalan di belakang Mila dan Shena.


"Gila! Gue gak sesabar itu. Udahlah biarin aja, yang penting gue udah ada niat buat maafin dia."


"Bener gak nyesel? Kalau sampai nanti Sky gak mau nemuin kamu gimana?"


"Ih, Mila. Nggaklah." Mereka kini masuk kantin dan membeli bakso beserta es jeruk lalu duduk bersebelahan.


Tiba-tiba Vicky juga ikut bergabung dengan mereka berdua.


"Eh, Kak Vicky. Kirain gak ke kantin," kata Shena sambil menuang saos, kecap, dan sambal di mangkok baksonya.


"Aku sedari tadi jalan di belakang kalian berdua," kata Vicky. Dia hanya mengambil air mineral dan meminumnya.


Seketika Shena menggigit bibir bawahnya. Itu berarti Vicky sedari tadi mendengar pembicaraannya tentang Sky. "Berarti Kak Vicky dengerin aku ngobrol sama Mila."


Vicky menganggukkan kepalanya. "Kenapa kamu nyamperin Sky ke sekolahnya? Kamu sampai jatuh di depan sekolahnya juga?" Vicky melihat luka Shena di tangannya. "Sampai lecet gini."


Mila hanya melihat mereka berdua sambil menikmati baksonya. Memang sakit melihatnya tapi dia sudah mulai terbiasa dan tahan banting.


"Ini cuma luka kecil," kata Shena.


"Kamu habis jatuh?" Arnav yang baru saja mendekat dan mendengar kalimat terakhir Vicky seketika melihat tangan Shena. "Benar kamu ke sekolahnya Sky? Ngapain?"


Shena hanya terdiam. Jelaslah Arnav dan Vicky pasti melarangnya. "Aku..."


Arnav kini duduk di samping Vicky sambil menatap Shena.


"Memang aku gak boleh nemuin Sky?" tanya Shena sambil mengaduk baksonya.


"Shena, udah benar Sky itu menjauh dari kamu. Gak usah kamu cari lagi."


"Ya udahlah." Shena mulai memakan baksonya sambil sesekali menggembungkan pipinya. Kedua kakaknya itu masih saja menatapnya menyelidik.


"Kalian berdua itu beda sama Kak Rey. Kak Rey jauh lebih dewasa dan kalau beri masukan itu gak buat hati aku panas," Shena menggeser baksonya di depan Arnav yang tinggal dua biji itu.


"Sejak kapan kamu dekat sama Rey? Dulu kan kamu sendiri yang bilang kalau Rey itu kaku." Arnav mengambil garpu lalu menusuk bakso itu dan memakannya.


"Iya, tapi Kak Rey itu netral. Dia punya sudut pandang sendiri. Gak nyuruh aku menjauh dan gak nyuruh aku mendekat. Dia punya solusi yang terbaik. Pokoknya dia penengah."


"Tapi memang benar kok, Kak. Kak Rey, Kak Sky, Kak Ferdi itu baik semua," kata Mila yang kini mulai membela Shena.


Seketika Vicky menatap Mila. "Lo temenan sama mereka?"


"Iya, memang kenapa?"


"Kak Vicky, Mila sekarang dekat sama Kak Ferdi. Kak Vicky sih kelamaan, diambil orang kan jadinya."


"Apaan? Aku cuma tanya."


Arnav kini juga mengambil gelas es jeruk milik Shena yang isinya tinggal setengah itu. Memang sejak dulu dia sering memakan sisa adiknya yang tidak habis.


"Shena, pokoknya aku gak mau kamu nyemperin Sky lagi. Udah biarkan saja dia pergi jauh," kata Arnav lagi dengan jelas.


Shena hanya berdengus kesal lalu dia berdiri dengan Mila dan meninggalkan mereka berdua.


"Aduh, dasar cewek! Kena gombalan dikit aja udah luluh," kata Arnav.


"Apa yang dilakukan Sky itu gak dikit. Panteslah kalau Shena luluh. Ya, kita sebagai kakak cuma ingin Shena bahagia."


"Iya memang. Tapi gue gak izinin Shena baikan sama Sky sekarang. Gue lihat perkembangan mereka dulu. Baru gue akan memberi restu."


Seketika Vicky tertawa. "Nggak ngefek kali lo ngerestuin atau gak. Om Arsen saja sudah merestui mereka berdua."


"Ayah sama Ibu itu terlalu baik." Kemudian Arnav berdiri dan berjalan menuju kelasnya. Dia berpisah dengan Vicky dan berniat ke toilet terlebih dahulu. Tapi langkahnya berhenti saat melihat ada Gita yang baru saja keluar dari toilet sambil memegang perutnya. Gita semakin menekan perutnya lalu berjongkok.


Arnav ingin menghiraukannya tapi hati kecilnya tergerak untuk membantu Gita. Akhirnya dia membantu Gita berdiri dan memapahnya ke UKS. Selama hampir tiga tahun selalu sekelas dengan Gita dan lima bulan berpacaran meskipun sekarang sudah menjadi mantan, dia jelas tahu sakit yang diderita Gita setiap sebulan sekali itu.


"Ar, makasih."


Arnav tak menyahutinya. Setelah sampai di UKS, Arnav meninggalkan Gita karena ada Bu Prapti selaku penjaga UKS berada di sana dan langsung menghampiri Gita.


"Sakit lagi? Kamu sudah periksa karena sakit kamu ini termasuk dalam kategori parah," kata Bu Prapti sambil memberikan obat pada Gita.


Arnav menghentikan langkah kakinya di depan pintu dan mendengar pembicaraan mereka berdua.


"Sudah dan benar apa kata Ibu, ada kista yang tumbuh di ovarium."


"Lalu? Apa harus operasi?"


"Belum, masih obat jalan. Semoga saja bisa sembuh tanpa harus operasi."


"Iya, kalau cepat diketahui bisa langsung ditangani."


Arnav kini berjalan ke kelas sambil memikirkan Gita.


Jadi selama ini Gita sakit...


💕💕💕


.


Like dan komen ya...