Love From The Sky

Love From The Sky
BAB 94



Nike menatap kedua orang tua Vicky lalu beralih menatap Kakaknya. "Kak, sebenarnya ini kesalahan aku. Aku yang menggoda Vicky terlebih dahulu. Kalau mau marah, marah saja sama aku. Jangan marah sama Vicky."


"Iya, Kakak memang marah sama kamu. Kenapa kamu gak cerita sama Kakak. Sampai kamu mau melakukan aborsi. Aborsi itu bahaya, bisa mengancam nyawa. Kakak sudah janji sama Mama untuk menjaga kamu."


Nike menganggukkan kepalanya. "Iya Kak, maaf."


"Lain kali kamu harus bisa berpikir jernih. Kakak tahu, ini juga bukan sepenuhnya salah kamu. Tapi salah pacar kamu dulu. Ibaratnya kamu keluar dari kandang singa, masuk ke kandang buaya."


Vicky hanya tersenyum kaku. Tentu saja dirinya bukan lelaki buaya, hanya lelaki normal yang pasti akan tergoda dengan tubuh Nike.


"Iya, oleh karena itu putra saya akan bertanggung jawab. Biarkan mereka menikah besok, semakin cepat semakin baik. Untuk surat dan sebagainya biar diurus oleh istri saya," kata Virza. "Bapak tenang saja, meskipun Vicky masih mahasiswa baru tapi dia pasti bisa bertanggung jawab dengan hidup Nike. Dia seorang atlet renang dan merangkap sebagai pelatih juga."


"Iya, saya juga sudah dengar tentang prestasi Vicky. Saya akui keberanian Vicky untuk bertanggung jawab pada Nike. Kalau begitu besok kita akan mempersiapkan semuanya. Biar pernikahan mereka dilakukan di rumah ini. Setelah itu terserah Nike mau tinggal di sini atau ikut Vicky. Mulai besok tanggung jawab saya sebagai seorang Kakak sudah digantikan oleh Vicky." Nantok menyusut ujung matanya yang tiba-tiba mengembun. Selama ini Nike terlalu mandiri hingga dia hanya menjaga sesaat dan sekarang Nike akan dia lepas seutuhnya pada keluarga barunya.


"Kakak..." Nike mendekat dan memeluknya Kakaknya. "Jangan sedih."


"Kakak hanya menjaga kamu sebentar sekali. Sedari dulu kamu sangat mandiri." Kemudian Nantok mengusap rambut Nike. "Semoga kamu selalu bahagia dan diberi kesehatan."


Nike menganggukkan kepalanya. "Iya, Kak."


"Sudah, jangan sedih-sedih lagi. Kita makan malam sama-sama dulu sambil mengobrol."


"Kita jadi ngerepotin."


"Nggak repot. Untungnya tadi Mila bilang dulu. Kalau tidak justru saya yang bingung."


Kemudian acara mereka berlanjut dengan acara makan malam bersama.


"Mila, sini ikut makan sekalian," panggil Nantok pada putrinya yang sedari tadi di kamar.


"Malu sama calon Om," teriak Mila dari kamarnya.


"Mila, sini keluar dulu. Gak sopan."


Akhirnya Mila keluar dari kamarnya dan duduk bersama mereka.


"Dulu sewaktu SMA kelas dua, Mila sering ke rumah. Terus udah lama banget gak ke rumah."


Mila tersenyum kecil. "Itu karena Vicky gebetan Mila tante. Karena Vicky gak mau ya udah tinggal aja."


Laras tertawa mendengar jawaban Mila yang sangat jujur.


"Jadi kamu suka sama Vicky?" tanya Nike pada Milq. Dia juga baru tahu jika Mila pernah menyukai Vicky.


"Iya, dulu waktu kelas dua. Tante Nike tenang aja, aku udah gak suka sama Vicky. Sekarang aku udah punya Kak Ferdi. Eh, mulai sekarang aku harus belajar panggil Om Vicky."


"Jangan panggil gitu. Apalagi kita masih satu kampus. Panggil kayak biasanya saja," kata Vicky.


"Udah sah jadi Om ya harus panggil Om."


Mereka semua tertawa. Kini sudah tidak ada lagi rasa marah. Mereka mulai mengbrol santai untuk merencanakan acara untuk esok.


...***...


Keesokan harinya, Shena dan Sky ke dokter spesialis kandungan untuk melakukan pemeriksaan rutin karena satu minggu yang lalu detak jantung janin belum terdeteksi.


"Kak Sky, aku deg-deg an banget." Dada Shena semakin berdebar saat dia bersiap untuk melakukan USG.


"Sama, tapi kamu jangan terlalu tegang." Sky terus menggenggam tangan Shena saat alat USG itu diarahkan ke perut Shena. Dua janin itu terlihat semakin jelas dan kali ini detak jantung itu terdengar sangat jelas kencang.


"Detak jantungnya sudah terdengar."


Seketika senyum mengembang di bibir Shena dengan air mata haru yang mengalir di pipinya.


Seketika Sky mencium kening Shena. Dia juga sangat bahagia seperti Shena. "Si kembar kita sehat sayang."


Shena menganggukkan kepalanya.


Setelah dokter menjelaskan secara detail dan beberapa konsultasi yang Sky tanyakan, mereka keluar dari ruangan dokter itu.


"Sekarang kita langsung ke rumah Mila ya."


"Iya, aku mau dandan di mobil aja."


Setelah sampai di tempat parkir, mereka segera masuk ke dalam mobil dan beberapa saat kemudian Sky melajukan mobilnya menuju rumah Mila.


"Ayah sama Ibu baru tahu semalam. Mereka sangat tekejut saat tahu kalau Vicky mau menikah," kata Shena sambil menambah make up di wajahnya.


"Ya jelas aja. Ternyata Vicky ekspress juga buatnya. Sekali masuk langsung jadi."


"Sama kayak Kak Sky."


Sky hanya tersenyum. Satu tangannya kini mengusap perut Shena. "Udah gak sabar nunggu si kembar lahir. Pasti lucu banget."


"Iya, aku juga udah gak sabar."


Beberapa saat kemudian, Sky menghentikan mobilnya di depan rumah Mila. Kedua orang tua Shena dan kerabat lainnya sudah datang. Untunglah acara sakral itu belum dimulai.


"Shena, dari periksa dulu?" tanya Naya.


Shena menganggukkan kepalanya. "Detak jantungnya udah terdeteksi semua. Shena senang banget."


"Ibu juga." Naya juga tersenyum sambil mengusap perut Shena. "Nanti pasti seumuran sama anaknya Vicky."


"Gara-gara paket honeymoon dari Sky, Vicky langsung dapat jodoh dan anak sekaligus," kata Virza.


Sky hanya tertawa. Dia juga tidak menyangka hal ini akan terjadi pada Vicky.


Beberapa saat kemudian prosesi sakral itu dimulai yang disaksikan oleh semua sanak keluarga yang menghadirinya. Shena terus menggenggam tangan Sky, dia ingat betul saat Vicky mengatakan cinta padanya seolah cinta Vicky tidak akan bisa hilang. Tapi sekarang dihadapannya, Vicky mengikat janji suci dengan seorang wanita yang mungkin jauh lebih baik darinya. Satu rasa bersalah yang pernah membenani hatinya kini telah.


Kak Vicky, semoga selalu bahagia.


Shena menyusut air mata yang hampir terjatuh diujung matanya. Dibarengi dengan kata sah dari para saksi.


Meskipun Vicky lebih muda dari Nike tapi mereka terlihat sangat serasi. Cinta di antara mereka sangat terlihat dari tatapan keduanya.


"Kak Vicky, selamat ya..." Setelah semua prosesi selesai, Shena memberi selamat pada Vicky. Dia memeluk Vicky sesaat.


"Iya. Makasih kamu sudah datang."


Shena mengangguk pelan lalu dia beralih memeluk Nike. "Selamat, Bu Nike."


"Jangan panggil Bu, panggil Kak saja."


Shena mengangguk pelan sambil tersenyum.


"Selamat ya..." Sky menepuk bahu Vicky. "Langsung singkat dan jelas."


"Ini semua berkat kamu." Vicky tertawa mengingat paket bulan madu itu.


Sky mendekat dan membisikkan sesuatu pada Vicky. "Sekali merasakan pasti ketagihan, lanjut aja nanti malam tapi kamar sendiri."


Vicky semakin tertawa dan memukul lengan Sky.


Semua keluarga kini berbahagia. Meskipun awalnya Nike menganggap ini semua musibah tapi sekarang dia menganggap semuanya adalah anugerah.