Love From The Sky

Love From The Sky
BAB 40



"Pasti, aku akan selalu mengingat kamu setiap saat."


Mendengar suara itu seketika Shena menoleh. Dia mengucek kedua matanya saat melihat Sky berdiri tak jauh darinya.


Sky berjalan mendekat dan membantu Shena berdiri. "Maaf, sudah buat kamu sedih." Kemudian Sky menghapus air mata yang mengalir di pipi Shena.


"Ini maksudnya apa? Katanya kamu kuliah di Inggris dan barusan pesawat sudah lepas landas."


Sky tertawa sambil mengusap rambut Shena yang berantakan. "Kata siapa? Aku gak bilang kan?"


Seketika Shena menggembungkan pipinya dan menghentakkan kakinya. "Ih, Kak Rey. Kesel banget!" Shena melepas tangan Sky lalu beranjak pergi karena dia merasa malu.


"Shena..." Sky justru menarik Shena dan memeluknya. "Makasih kamu sudah memaafkan aku."


"Ih, siapa bilang?" Shena melepas pelukan Sky. Gengsi itu kembali muncul.


"Gak papa kalau kamu gak mau mengakui." Sky menangkup kedua pipi Shena. "Aku setiap hari tetap datang ke rumah kamu dan aku tahu kalau kamu sering lewat di depan sekolah aku."


Pipi Shena semakin memerah. "Terus, kenapa kamu cuek?" Shena menundukkan pandangannya. Dia tidak berani menatap sorot mata Sky saat ini.


"Jujur saja aku memang sudah putus asa dan sudah tidak mau berjuang lagi. Tapi ternyata, saat aku menjauh, kamu malah nyariin aku."


"Ih, aku gak nyariin kamu. Ge-eR."


Sky semakin tertawa karena Shena masih saja gengsi mengakuinya. Kemudian dia menggandeng lengan Shena dan mengajaknya keluar dari bandara.


"Hmm, kamu beneran gak kuliah diluar negeri?"


Sky masih saja tersenyum kecil. "Aku memang ikut tes, tapi sayang aku gak sepintar Rey. Aku gak lolos masuk Oxford dan kampus lainnya di luar negeri. Aku cuma bisa masuk di kampus negeri di dalam negeri."


Shena berdecak kesal. Tenaganya terbuang sia-sia untuk mengejar Sky. "Njir, gue kena prank." Lagi-lagi Shena melepas tangan Sky. Rasanya dia sangat kesal dan ingin cepat pulang.


"Shena, jangan marah. Iya, iya, aku minta maaf. Apa perlu aku datang lagi setiap hari dan menulis surat buat kamu?"


Shena tersenyum malu lalu dia menggandeng lengan Sky. "Makasih ya semuanya. Ternyata kamu juga masih menyimpan kuncir rambut aku."


"Udah baikan?" Setelah memarkir motornya, Arnav menyusul Shena tapi ternyata mereka berdua sudah keluar dan berpapasan di pintu keluar.


"Kak Arnav juga tahu?"


"Ini kan rencana Rey. Rey itu berangkat ke London sekalian mengurus pekerjaan. Makanya jadwalnya dimajukan banget. Aku juga terpaksa lakuin ini. Aku kasihan sama kamu yang tiap hari melamun dan cemberut aja. Kalau gak gitu baca surat sok sweet itu sampai berulang kali."


Seketika Shena berlari mendekati Arnav dan memukul lengannya. "Ih, Kakak. Siapa yang sedih, siapa yang cemberut."


"Kamuuu..." Arnav mencubit gemas hidung Shena. "Sebenarnya aku berat banget ngerelain kamu sama Sky, tapi apa yang dikatakan Rey itu benar. Ya, harusnya aku memberi solusi yang terbaik buat kamu bukan malah membuat hati kamu panas dan membenci Sky."


"Kakak..." Shena memeluk kakaknya dari samping.


"Thanks lo udah beri gue kesempatan untuk bersama Shena dan menebus kesalahan gue."


"Tapi kalau sekali lagi lo sakiti Shena, gue orang pertama yang akan hajar lo lagi." Kemudian Arnav mengusap puncak kepala Shena. "Kalau ada apa-apa bilang sama aku. Sekarang kamu pulang sama aku atau sama dia?"


Shena menggigit bibir bawahnya. Dia masih saja malu mengatakannya.


"Pulang sama aku." Sky menarik tangan Shena agar mengikutinya karena menunggu jawaban dari Shena akan memakan waktu lama.


"Sky, kalau gak mau jangan dipaksa! Awas ya lo!"


Sky justru mengajak Shena keluar dari tempat parkir dan masuk ke area taman milik bandara. "Hati aku rasanya plong banget sekarang."


Kedua mata Shena melirik Sky. "Tetap ya, beban hidup kamu masih ada. Aku belum memaafkan kamu sepenuhnya."


Lalu Sky mengajak Shena duduk di bawah pohon yang rindang. "Belum sepenuhnya? Terus apa yang harus aku lakukan buat kamu agar maaf dari kamu bisa 100 persen."


Shena tersenyum dan duduk di samping Sky. "Bantu aku menghilangkan trauma pada kedalaman air."


Sky melipat tangannya dan membuang pandangannya. "Wah, aku gak janji soalnya trauma kamu udah stadium akhir."


"Baru aja baikan, udah ditagih janji. Oke, nanti aku ajari. Pasti buat persiapan ujian praktek tahun depan. Selamat ya, udah kelas dua belas."


Shena menganggukkan kepalanya. "Iya, tiap tahun pasti ada ujian praktek renang tapi bukan cuma itu saja. Dari dulu aku sangat ingin renang. Sebenarnya aku bisa tapi aku selalu ketakutan."


"Iya, nanti aku bantu pelan-pelan." Sky kini menatap Shena. Akhirnya dia bisa bicara dengan Shena sedekat ini dan tak perlu bertengkar. "Jadi kamu sudah baca semua surat aku?"


Shena menganggukkan kepalanya. "Maaf, aku..."


"Iya, aku mengerti. Memang tidak mudah memaafkan kesalahanku." Satu tangan Sky kini menggenggam tangan Shena. "Terus bagaimana kita selanjutnya?"


"Bagaimana apanya?"


"Kita nikah aja yuk!"


"Ih, gak mau! Aku masih sekolah. Lagian gak boleh nikah sambil sekolah."


"Terus?"


Shena mengangkat bahunya.


"Kamu mau gak jadi pacar aku?"


Seketika Shena teringat pertanyaan Sky yang saat itu menyamar jadi Gala. Shena melepas genggaman tangan Sky dan menjauh. "Nggak! Aku nggak mau."


"Shena, kenapa?"


Shena kini memunggungi Sky. "Aku takut. Kamu kayak dulu. Aku takut."


Sky melihat tangan Shena yang bergetar. Ternyata Shena masih trauma dengannya. "Shena, maafin aku." Kedua tangannya menggenggam tangan Shena. "Ternyata bukan menghilangkan rasa trauma kamu terhadap air yang harus aku dahulukan, tapi aku harus bisa menghilangkan trauma kamu pada aku."


Perlahan Shena menatap Sky. "Iya, aku gak tahu kenapa tiba-tiba aku ketakutan gini. Pertanyaan kamu yang sama mengingatkan aku lagi sama kejadian itu."


"Iya, aku ngerti. Pelan-pelan aku akan hilangkan rasa trauma kamu." Kemudian satu tangan Sky merengkuh bahu Shena. "Kalau begitu biarkan orang tua aku saja yang tanya sama kamu."


Seketika Shena menatap Sky. "Orang tua kamu. Mau tanya apa?"


Sky hanya tersenyum lalu mencubit kecil hidung mancung Shena. "Ada deh. Kamu mau pulang atau mau lanjut jalan?"


"Pulang aja. Aku tadi gak sempat dandan bahkan sisiran juga. Lihat nih, rambut aku berantakan gini."


"Oke, ayo kita pulang sekarang saja."


Shena menganggukkan kepalanya lalu mereka berdua berjalan menuju tempat parkir.


"Untunglah helm kamu ditinggal di sini." Sky mengambil helm Shena yang tergantung di motornya lalu membantu memakaikannya di kepala Shena. Tak lupa pengait helm itu dia kaitkan di bawah dagu Shena.


Dada Shena berdebar tak karuan. Bahkan Sky lebih perhatian dari Arnav. Arnav mana mau memasangkan helm padanya.


"Ayo." Sky juga memakai helmnya lalu naik ke atas motor.


Setelah Shena naik ke boncengannya, Sky melajukan motornya dengan kecepatan sedang.


Tangan Shena hanya berpegangan pada pinggang Sky. Dia ragu untuk memeluk Sky. Tapi Sky menarik satu tangan Shena agar melingkar di perutnya, lalu mengusap tangan Shena sesaat.


Shena hanya tersenyum kecil. Perasaan apa ini yang terasa semakin meletup-letup di dadanya?


.


💕💕💕


.


Like dan komen ya ..


Mereka gak LDR loh ya... 🤣🤣