Love From The Sky

Love From The Sky
BAB 79



Vicky dan Nike berjalan perlahan tanpa melepas tautan bibir itu hingga tubuh mereka berdua terjatuh di tengah ranjang. Mereka semakin bergulat di atas ranjang. Bahkan kedua tangan Vicky sudah berani menyentuh dada Nike yang sedari tadi menyembul setengah bulatannya itu.


Tersadar, Vicky menjauhkan dirinya tapi Nike semakin menahan Vicky.


"Tolong aku, rasa ini menyiksaku."


Vicky terdiam beberapa saat. Jiwa lelakinya benar-benar sedang diuji saat ini. "Tapi aku gak mau melakukan ini."


Nike kembali menarik Vicky. Ciuman Nike membuat otak Vicky tidak bisa bekerja dengan baik. Apalagi saat Nike membuka pakaiannya sendiri dan menjamah tubuhnya.


Gairah Vicky semakin memuncak, yang ada dipikirannya saat ini adalah ingin menuntaskan hasratnya. Dia tidak peduli lagi dengan umurnya yang masih muda, bahkan baru saja lulus sekolah. Godaan saat ini benar-benar besar. Kali ini setan berhasil memenangkannya saat Vicky akhirnya menyatukan dirinya.


Dia terlena dengan kehangatan yang baru pertama kali dia rasakan. Suara de sah itu saling bersahutan dengan keringat yang semakin membanjiri tubuh mereka.


"Maaf, aku melakukan ini." Vicky semakin mempercepat gerakannya. Tenaganya sangat besar hingga dia membuat Nike melemas sampai beberapa kali.


Mereka men de sah sepanjang malam. Vicky yang berjiwa muda, tentu saja memiliki tenaga yang kuat dan mampu mengimbangi Nike yang sedang berada di bawah pengaruh obat.


...***...


Pagi hari yang cerah itu, Nike baru saja terbangun. Dia membuka kedua matanya saat merasakan ada sesuatu yang menindih perutnya.


"Tangan?" Kemudian dia menoleh Vicky yang masih tertidur dengan nyenyak. Seketika rasa kantuk menghilang di dirinya. "Jadi aku semalam sama Vicky udah..." Nike menggigit bibir bawahnya. Meskipun semalam di bawah pengaruh obat tapi dia ingat betul jika dia yang menggoda Vicky terlebih dahulu.


"Maaf ya." Perlahan Nike menggeser tangan Vicky lalu dia turun dari ranjang. "Aku harus cepat-cepat beli obat, jangan sampai aku hamil anak dia. Aduh, sakit banget."


Nike menekan perutnya sambil mengambil gaunnya tapi gaunnya basah dan kotor. Lalu dia berjongkok dan mengambil satu setel pakaian Vicky dari koper. "Maaf ya, aku ambil. Nanti kalau kita bertemu lagi aku kembalikan."


Nike masuk ke dalam kamar mandi dan membilas tubuhnya dengan cepat lalu dia memakai celana dan kaos Vicky yang kebesaran di tubuhnya. Setelah menyisir rambutnya, dia memakai topi Vicky.


"Kalau kayak gini pasti gak ada yang kenal sama aku." Lalu dia menulis pesan untuk Vicky di selembar kertas dan meninggalkannya di atas nakas. Buru-buru dia memakai tasnya dan keluar dari kamar itu.


Mendengar suara pintu tertutup membuat Vicky terbangun. Dia melihat sudah tidak ada Nike di sampingnya.


"Nike!" Vicky turun dari ranjang dan akan mengejar Nike tapi terhenti. "Astaga, aku gak pakai apa-apa." Kemudian Vicky mengambil bajunya dan memakainya.


Setelah itu dia membuka pintu dan mengejar Nike tapi dia sudah kehilangan jejak.


"Capek." Vicky menghentikan langkah kakinya. Tenaganya sudah dikuras habis semalaman, dia sudah tidak sanggup berlari lagi.


Akhirnya dia berjalan kembali ke kamarnya. "Aku jadi merasa bersalah gini," gumam Vicky sambil masuk ke dalam kamar.


Dia kini duduk di tepi ranjang yang sangat berantakan itu. Bahkan bercak-bercak pergulatan semalam terlihat di atas sprei.


"Harusnya aku gak lakuin itu semalam." Vicky mengacak rambutnya lalu dia mengambil secarik kertas yang ada di atas nakas.


Lupakan kejadian semalam. Aku tahu kamu pria baik-baik dan ini semua salahku. Maaf, aku pinjam baju kamu. Nanti aku kembalikan jika kita bertemu.


Vicky melamun beberapa saat. Dia tidak menyangka akan melakukan one night stand di usia 18 tahun, bahkan baru saja lulus SMA. Dia sudah dilarang kedua orang tuanya untuk melakukan hal diluar batas.


"Meskipun hanya sekali tapi aku gak akan bisa melupakan rasanya." Lalu Vicky mengambil gaun yang tergeletak di lantai.


"Sepertinya aku memang harus pulang agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan lagi. Sebentar lagi aku beli tiket pesawat aja, kalau bisa penerbangan malam ini."


"Nike, apa kita bisa bertemu lagi?"


...***...


"Akhirnya selesai juga bongkar koper. Beberapa baju baru belum dipakai, sayang nih sebenarnya." Shena mengambil salah satu jumpsuit yang bermotif bunga, harusnya dia pakai saat jalan-jalan di pantai. "Liburan musim panas terlewat sudah."


Sky masuk ke dalam kamarnya dan melihat Shena sedang menggelar beberapa baju baru yang baru keluar dari koper. "Nanti aja kita pakai liburan. Di dalam negeri aja biar kita bisa berangkat sewaktu-waktu."


"Iya, setelah tangan Kak Sky sembuh aja."


"Ini sudah lumayan bisa gerak. Sebulan lagi kamu udah mulai kuliah."


"Iya, satu minggu lagi pengumuman, terus daftar kuliah. Cepat banget ya," kata Shena sambil memasukkan baju-bajunya ke dalam lemari.


"Sayang, ini apa?" Sky mengambil tiga lingerie yang tertinggal di atas ranjang.


"Eh," Shena akan mengambil lingerie itu tapi Sky menjauhkannya. "Sebenarnya itu buat dipakai di Jepang tapi kan gak jadi."


"Oo, ya udah dipakai sekarang aja."


Shena menggelengkan kepalanya. "Kak Sky belum sembuh benar."


"Nih, tangan kiri aku udah bisa nyubit." Kemudian Sky mencubit kecil pinggang Shena.


"Kak Sky, ini masih siang."


"Oke, ntar malam ya."


Shena tersenyum menggoda Sky. "Gak janji."


Sky menarik Shena hingga Shena duduk di pangkuannya. "Aku baru satu kali merasakannya setelah menikah sama kamu. Nanti malam ya." Sky menempelkan dagunya di bahu Shena.


"Tapi kalau bahu Kak Sky masih sakit gimana?"


"Kamu yg di atas."


"Aku gak bisa."


"Bisa." Sky mengendus telinga Shena lalu menggigitnya kecil. "Nanti aku bantu."


"Ih, Kak, aku jadi merinding." Shena berdiri dan mengambil lingerie dari tangan Sky dengan cepat.


"Aku mau nanti malam kamu pakai yang warna putih." Sky berdiri lalu mencium pipi Shena. Kemudian dia keluar dari kamar.


Baru membayangkannya saja sudah membuat dada Shena berdebar tak karuan.


"Malam ini?"


💞💞💞


Like dan komen ya.. 🤭