
"Kalau merasa gak enak badan, langsung ke ruang kesehatan ya dan panggil aku," pesan Sky pada Shena setelah sampai di kampus.
Shena menganggukkan kepalanya kemudian dia memasang kartu tanda pengenal yang lengkap dengan kartu pembatasan fisik.
Sky mengantar Shena sampai kelas dan menunggunya hingga apel pagi dimulai dari kejauhan. Karena sudah ada kartu pembatasan fisik, Shena hanya duduk di depan kelas. Beberapa senior kini mendekati Shena.
"Kamu sakit apa?" tanya salah satu senior.
"Sakit asam lambung," jawab Shena karena memang tidak ada alasan lain selain itu yang masuk akal dan sesuai kondisinya saat ini.
Para senior itu percaya dan memberikan Shena tugas lain yang tidak berat dan tidak terkena terik matahari.
Setelah dipastikan kondisi Shena aman, Sky pergi meninggalkan Shena.
Shena mendapat tugas tulis sedangkan teman-temannya berjemur di lapangan dan menyampaikan orasi serta membuat yel-yel per fakultas.
Kelihatannya seru banget. Apalah daya aku hanya bisa lihat keseruan mereka.
"Gimana kondisi kamu? Kemarin sempat dibawa ke rumah sakit?" tanya Ervin yang kini duduk di dekat Shena.
"Sudah membaik."
"Memang pas asam lambung naik bisa sesak napas dan pingsan. Kamu jaga pola makan kamu, biar gak kambuh lagi."
Shena hanya menganggukkan kepalanya.
"Oiya, Sky itu pacar kamu?"
Shena hanya mengangguk lagi. Dia sebenarnya merasa risih saat ada Ervin di dekatnya.
"Pantes Sky sangat menutup diri buat cewek lain. Banyak yang mengidolakan dia tapi Sky gak peduli."
Shena hanya tersenyum dalam hatinya. Sky memang tidak mungkin dekat dengan wanita lain.
Ervin semakin menggeser dirinya mendekati Shena. "Kamu udah lama pacaran sama Sky?"
"Sudah satu tahun."
"Apa tidak bosan?"
Shena meletakkan bulpoinnya. Dia semakin merasa risih dengan Ervin yang terus mendekatinya. Ditambah perutnya sekarang terasa mual karena mencium aroma tubuh Ervin. Shena segera berdiri dan berlari menuju toilet karena rasa mualnya sudah tidak tertahankan lagi.
"Shena, kenapa?" tanya Sky dari luar toilet. Dia juga bisa mendengar suara muntahan dari dalam toilet. "Aku masuk ya?"
"Jangan, aku gak papa."
Beberapa saat kemudian Shena keluar sambil mengusap bibirnya dengan tisu.
"Kamu gak papa?" Sky sangat khawatir dengan kondisi Shena. Dia mengusap pipi Shena yang terlihat pucat. "Kalau gak enak banget aku izinin pulang."
Shena menggelengkan kepalanya. "Sebentar lagi istirahat. Aku cuma risih didekati terus sama Kak Ervin."
"Ervin! Dimana dia?" Sky berjalan mencari Ervin. Dia jelas tidak akan membiarkan Ervin mendekati Shena. Saat dia berhasil menemukan sosok Ervin di kejauhan, langkahnya terhalang oleh maba yang baru saja bubar barisan dan akan beristirahat.
"Kak Sky, udah biarin aja. Aku lapar mau makan bekal sama Kak Sky." Shena kini menahan tangan Sky.
"Ya udah, ayo." Sky berjalan mengantar Shena untuk mengambil tasnya terlebih dahulu di kelas, tapi langkah mereka berhenti saat ada keributan di depan kelas.
"Ada apa?" Shena melihat Mila yang sedang dikerumuni senior dan beberapa teman barunya.
"Ini tespek siapa? Kamu hamil? Hamil diluar nikah?"
"Bukan, itu bukan punya aku," kata Mila.
"Tespek?" Shena dan Sky saling tatap lalu mereka masuk dalam kerumunan itu.
"Ini tespek aku yang aku cari, pasti tadi jatuh." Shena meraih tespek itu lalu menggenggamnya.
Semua pandangan kini tertuju pada Shena.
"Kamu hamil? Pantesan pakai kartu pembatasan fisik."
"Iya, hamil anak siapa itu? Baru juga maba udah buat kasus."
"Aku suaminya. Kita udah dua bulan menikah." Sky merengkuh pinggang Shena dengan santai.
Sky melepas tasnya dan mengambil buku nikah yang sengaja dia bawa untuk mengatasi situasi seperti ini. "Kalian lihat tanggalnya. Sudah dua bulan lebih. Terhitung sejak Shena selesai ujian akhir."
Beberapa senior dan teman-temannya melihat buku nikah itu.
"Shena baru hamil 8 minggu. Tidak masalah kan jika Shena masih ingin menuntut ilmu dalam kondisi seperti ini."
"Yah, Sky udah nikah ternyata."
"Iya, kita udah gak ada kesempatan." Beberapa senior perempuan akhirnya pergi. Kerumunan itu juga sudah bubar.
Termasuk Ervin yang sangat kecewa mendengar berita itu. Aku kira masih pacaran ternyata sudah menikah. Kemudian dia juga pergi dari tempat itu.
"Mila, tespek itu punya siapa?" tanya Shena dengan pelan. "Bukan punya lo kan?"
"Dimana Ferdi?" Sky langsung mencari Ferdi dan menyeretnya agar mengikutinya.
"Lo apaan sih?"
"Lo hamili Mila?" tanya Sky setengah berbisik.
"Kak Sky apaan sih? Jangan asal tuduh." Mila melerai mereka berdua. "Aku gak pernah ngapa-ngapain sama Kak Ferdi."
"Terus tespek itu milik siapa, Mil?" tanya Shena lagi.
"Mila, jangan bilang kalau itu milik tante kamu," kata Ferdi. Dia kini duduk di samping Mila. Untunglah di depan kelas saat itu telah sepi sehingga tidak ada yang mendengar pembicaraan mereka.
Mila hanya mengangguk pelan.
"Siapa?" Shena juga ikut duduk di sebelah Mila.
"Tante Nike, aku ambil di kamarnya. Tiba-tiba tadi ada pemeriksaan bekal dan tespek itu ikut jatuh. Mereka semua ngira aku yang hamil. Untung ada Shena dan Kak Sky yang bantuin."
"Tante Nike itu siapa?" tanya Shena. Dia sama sekali belum tahu masalah itu.
"Itu, anu, sebenarnya Tante Nike itu..." Mila bingung mau menjelaskan bagaimana.
"Jadi beneran Bu Nike hamil? Kalau begitu Vicky harus tanggung jawab."
"Vicky?" kata Sky dan Shena secara bersamaan.
"Ada apa?" Arnav juga mendekat saat melihat mereka berbicara serius.
"Aduh, Kak Ferdi mereka jadi tahu semua kan?"
"Ini masalah serius, Mil. Kalau memang Vicky udah hamili Tante lo, dia harus bertanggung jawab," kata Ferdi.
"Ini maksudnya gimana?" tanya Arnav. Dia semakin bingung dengan perkataan Ferdi.
"Jadi sebenarnya gini, aku juga belum tahu pasti sih, ini masih dugaan. Tante Nike itu juga Dosen di sini di fakultas sastra. Kemarin Vicky tanyain masalah Tante Nike sama aku. Katanya dia bertemu di Jepang. Aku sih gak mengira kalau mereka itu udah..."
"Gue sebagai cowok tahulah gelagat Vicky tuh kayak gimana," sambung Ferdi.
"Biar gue tanya Vicky langsung." Arnav segera mencari Vicky.
"Kak Sky, gimana kalau masalah ini beneran. Om Virza bisa marah besar."
Sky tidak bisa berkomentar tentang masalah ini. Dia menjadi merasa bersalah telah menyuruh Vicky tidur di hotel dengan paket bulan madu miliknya.
"Ada apa lo tarik gue kayak gini?"
"Apa benar lo udah hamili Bu Nike?"
Seketika kedua mata Vicky melebar. Dia sangat terkejut dengan pertanyaan Arnav. Apalagi saat Mila memberikan alat tes kehamilan itu pada Vicky.
"Gue ambil itu di kamar Tante Nike."
Vicky mengambil alat tes itu dengan tangan yang gemetar. "Positif."
💞💞💞
Like dan komen ya...