
Satu tangan Arnav kini memilih sederetan buku tebal yang berisi sajak lama. Sebelum istirahat, Arnav dan teman satu kelasnya mencari buku kumpulan sajak lama sebagai contoh dari tugas pelajaran Bahasa Indonesia di perpustakaan.
Tak jauh dari Arnav, ada Gita yang mendongak dan berusaha mengambil buku tapi tangannya tidak sampai. Dia sedikit melompat dan berhasil meraih buku pilihannya. Saat dia menarik buku itu, beberapa buku tebal ikut terjatuh dan akan mengenai kepalanya.
Dengan cepat Arnav melindungi kepala Gita dengan tangannya.
Gita hanya mendongak lalu menatap Arnav. Sejak putus dengan Arnav, dia sama sekali tidak bisa bicara dengan Arnav karena Arnav selalu menghindarinya.
Arnav mengambil buku yang terjatuh lalu dia kembalikan ke rak paling atas.
"Makasih," kata Gita.
Arnav hanya diam tak menyahut ucapan terima kasih dari Gita. Kemudian dia duduk di dekat Rendi sambil melihat buku yang dia ambil.
Gita berjalan pelan, tidak ada lagi tempat duduk yang kosong kecuali di samping Arnav. Akhirnya dia duduk dan menatap Arnav sesaat. Dia tahu Arnav sangat membencinya, tapi dia tidak bisa berhenti mencintai Arnav.
"Ar, aku..." Gita mencoba mengajak Arnav berbicara.
Seketika Arnav menutup bukunya dan berdiri. Tanpa berkata apapun dia pergi.
"Woy, Ar. Lo udah nemu bukunya?" Rendi juga berdiri dan menyusul Arnav.
Mereka menghampiri petugas perpustakaan dulu untuk meminjam buku pilihan mereka. Setelah itu mereka keluar dari perpustakaan dan berjalan menuju kelas.
"Lo sengaja banget menghindar dari Gita," kata Rendi yang berjalan di samping Arnav.
"Iya, gue gak mau berurusan dengan dia lagi."
"Tapi lo tuh kelihatan kalau sebenarnya lo masih cinta sama Gita."
"Sekali dia bohongi gue, gue gak akan bisa maafin dia. Biarkan gue lupain aja cinta itu."
"Waduh, sakit hati lo bener-bener udah stadium akhir." Rendi menepuk bahu Arnav. "Singkirin rasa gengsi lo biar dada lo plong, toh sekarang Gita juga gak ada hubungan apa-apa sama Sky."
"Gak akan. Gue gak akan terima Gita lagi."
Setelah memasukkan buku ke dalam tas, Arnav keluar lagi dari kelas. "Gue mau ke kelas Shena." Dia harus melihat keadaan adik kesayangannya untuk memastikan Shena baik-baik saja.
Saat sampai di depan kelas Shena, dia melihat Shena yang sudah berjalan dengan Vicky ke kantin. Dia segera menyusul mereka berdua.
"Shena." Arnav kini berjalan di samping Shena sampai di kantin.
Setelah mereka membeli makanan, mereka duduk di kursi kantin.
Shena hanya meminum air mineralnya sambil melamun.
"Shena, gak beli bakso?" tanya Arnav sambil menyantap baksonya.
Shena hanya menggelengkan kepalanya tanpa menjawab Kakaknya
"Tumben gak sama Mila?" tanya Arnav. Dia sama sekali tidak tahu masalah yang dialami Shena dengan Mila.
Shena hanya menggelengkan kepalanya lagi.
Vicky menyenggol lengan Arnav agar berhenti bertanya. Kemudian tidak ada pembicaraan di antara mereka bertiga.
"Kamu sebenarnya kenapa? Ada yang gangguin kamu?" tanya Arnav lagi.
Lagi-lagi, Shena hanya menggelengkan kepalanya.
"Ada yang tahu masalah Shena. Dari tadi pagi Shena disindir," kata Vicky.
"Siapa yang berani lakuin itu pada Shena?" Seketika Arnav berdiri tapi Shena menahan tangan Arnav.
"Kak, udah biarkan saja. Aku gak papa karena itu kenyataannya."
"Tapi Shena..."
Shena menggelengkan kepalanya dan menarik tangan Kakaknya agar kembali duduk.
Akhirnya Arnav kembali duduk. "Kira-kira siapa yang menyebar berita itu?"
"Kalau mereka keterlaluan bilang sama aku. Vicky, kamu juga harus jagain Shena. Jangan sampai ada yang ganggu Shena."
"Itu pasti. Oiya, Shena, Sabtu depan aku ikut pertandingan renang. Kamu lihat ya."
Seketika senyum kecil di bibir Shena mengembang. "Sudah lama gak ada lomba renang. Iya, aku pasti lihat Kak Vicky."
"Sabtu depan? Aku gak bisa nemenin. Aku ada latihan basket dan pergantian kapten," kata Arnav.
"Nggak papa, kan aku bisa jagain Shena. Nanti berangkat sama aku ya?"
Shena menganggukkan kepalanya.
"Jaga Shena benar-benar. Shena kan phobia kedalaman air. Nanti dia berubah jadi putri duyung kalau kena air." Arnav tertawa. Bahkan Shena tidak hanya takut dengan kedalaman air tapi Shena juga malas mandi ketika tidak ada acara keluar rumah.
"Ih, Kak, aku kan cuma lihat Kak Vicky lomba renang gak sampai ke area kolamnya."
"Tapi phobia kamu makin parah, kamu makin malas mandi." Arnav tertawa mengingat kebiasaan adiknya itu.
"Ih, Kakak jangan buka kartu di depan Kak Vicky. Malu, ih."
"Gak papa, meskipun gak mandi tetap cantik kok." Vicky tersenyum menatap Shena yang akhirnya bisa tertawa.
Mendengar kalimat Vicky seketika Arnav menghentikan tawanya. Seandainya Vicky bukan saudaranya pasti dia sangat bahagia ada yang bisa mencintai adiknya dengan tulus hingga Shena tidak perlu lagi bersama Sky.
...***...
"Widih, rajin amat lo sekarang." Ferdi menjotos lengan Sky yang sedang duduk di dalam kelas sambil membaca buku. "Penampilan juga rapi. Udah kayak mau jadi murid teladan aja."
Sky menutup bukunya dengan keras sambil berdecak. "Teman mau berubah menjadi yang lebih baik itu didukung gak dikatain."
Ferdi hanya tertawa. "Udah lama lo gak nongkrong? Ditunggu anak-anak."
"Iya Sky. Pengkhianat kan udah ditangkap, kenapa lo masih gak mau ke basecamp?"
Sky menggelengkan kepalanya. "Gue berhenti. Kalau kalian mau pakai basecamp gue silakan, tapi jangan pakai nama Langit."
"Kalau gitu gue yang daftar jadi ketua," kata Ferdi. "Nanti nama gengnya gue ubah jadi khayangan."
Seketika Ferdi mendapat jitakan dari teman-temannya. "Lo kira kita bidadari."
Sky hanya tertawa melihat tingkah konyol Ferdi. "Kalian pakai aja basecamp-nya, tapi ingat, jangan lagi melanggar hukum. Apalagi mengatasnamakan Langit."
"Oke, beres."
Beberapa saat kemudian ada Pak Sakti yang masuk ke dalam kelas dan memanggil Sky. "Sky, ikut Bapak sebentar."
Sky mengernyitkan dahinya. Apa dia talah melakukan kesalahan sehingga dipanggil ke ruang guru?
"Sky, ada masalah apalagi lo?"
Sky menggelengkan kepalanya. Setahu dia tidak ada yang tahu tentang masalahnya selain Ferdi.
Sky hanya terdiam dan berjalan di samping Pak Sakti. Setelah sampai di ruang guru, dia duduk di hadapan Pak Sakti.
"Sky, Bapak minta tolong sama kamu, kali ini jangan menolak."
Sky hanya mengangguk pelan, dia menatap wajah serius Pak Sakti.
"Kamu ikut kejuaraan renang menggantikan Vino, Sabtu depan. Karena Vino tidak bisa diharapkan. Skill dia jauh di bawah kamu."
"Tapi Pak saya..." Sky ragu dengan tawaran itu. Lagipula dia juga sudah lama tidak ikut pertandingan. Apakah dia masih bisa bersaing?
.
💕💕💕
.
Nanti othor mau lihat mereka renang di deretan paling depan. Jangan pada ikut.. 🤣