Love From The Sky

Love From The Sky
BAB 72



Shena akhirnya terbangun dari tidur nyenyaknya. Dia menoleh ke sisi kanannya, Sky sudah tidak ada di sampingnya.


"Ini jam berapa?" Shena mengambil ponselnya yang berada di atas nakas. Dia melebarkan kedua matanya saat melihat sudah pukul delapan. "Udah jam delapan. Kak Sky kok gak bangunin aku." Lalu Shena membuka pesan dari Sky.


Sayang, aku udah berangkat kuliah. Kamu libur saja, nanti kalau ada apa-apa di sekolah biar diurus sama Arion. Cepat sarapan, pasti kamu lapar.


Shena memanyunkan bibirnya lalu meletakkan ponselnya di atas nakas. "Ih, harusnya bangunin aku dulu baru berangkat. Gini kan aku bingung mau ngapain di rumah mertua. Untungnya Mama baik, coba kalau kayak mertua yang di film-film itu. Bisa langsung dipecat jadi menantu atau kalau gak disiksa suruh kerjain ini itu."


Kemudian Shena turun dari ranjang dan berdiri di depan cermin. "Ya ampun Kak Sky buat tanda merah sampai tiga gini." Shena mengusap tanda merah yang berada di lehernya. "Ini gak bisa dihilangkan. Terus gimana tutupinnya, di depan lagi."


Lalu Shena mengeluarkan alat make up yang dia bawa. "Ditutup pakai foundation kayaknya bisa. Mandi dulu aja."


Shena mengambil baju gantinya lalu masuk ke dalam kamar mandi. Setelah membuka piyamanya, dia juga terkejut melihat tanda merah di sekitar dada dan perutnya. "Kak Sky ganas banget. Pantas badan aku pegal semua."


Kemudian Shena segera membasuh dirinya. Setelah selesai, dia memakai pakaiannya dan keluar dari kamar mandi.


Dia kini duduk di depan cermin, lalu menyisir rambut basahnya. Tiba-tiba saja Shena teringat kejadian semalam yang membuat pipinya bersemu merah.


"Kok aku jadi kepikiran Kak Sky." Shena mengambil ponselnya dan berniat menghubungi Sky tapi dia urungkan. "Kak Sky kan ada kelas pagi. Nanti siang juga udah pulang." Lalu dia meletakkan ponselnya lagi.


Shena mengambil foundation lalu mengoles tanda merah di lehernya. "Untung bisa tertutup. Awas kalau nanti Kak Sky buat lagi."


Setelah itu Shena keluar dari kamar dan menuju ruang makan.


"Shena, akhirnya bangun. Kamu makan dulu, pasti udah lapar banget." Bu Ida menyiapkan untuk Shena lalu menemaninya makan.


"Biar Shena sendiri, Ma."


"Gak papa. Makan yang banyak ya." Bu Ida meletakkan sepiring nasi yang sudah lengkap dengan lauk di depan Shena.


Shena langsung melahapnya karena memang perutnya terasa sangat lapar. Beruntungnya dia memiliki mertua yang sangat baik.


"Nanti siang kamar Sky akan dipasang peredam suara."


"Peredam suara?" Shena baru teringat jika semalam dia tidak menahan suaranya pasti Arion yang tidur di sebelah kamar Sky bisa mendengar suaranya.


"Iya, biar Rion gak dengar. Kasihan dia masih jomblo." Bu Ida tersenyum menatap Shena yang terlihat malu-malu. "Gak papa, namanya juga pengantin baru. Mama dulu juga seperti itu. Kamu nikmati ya momen bersama Sky. Sebentar lagi kalian juga bulan madu ke Jepang."


Shena hanya mengangguk karena mulutnya penuh dengan nasi. Dia juga sudah tidak sabar pergi ke Jepang bersama Sky.


...***...


"Ar!" Gita mengimbangi langkah Arnav saat keluar dari kelas. "Dua hari gak masuk, aku pinjam catatan kamu ya."


"Oke, sorry aku gak bisa ke tempat saudara kamu yang nikahan," kata Arnav sambil mengambil buku catatannya di dalam tas dan dia berikan pada Gita.


"Iya, gak papa. Aku juga gak bisa ke nikahannya Shena. Nanti kadonya menyusul ya," kata Gita. Dia mengambil buku itu dari tangan Arnav dan memasukkan ke dalam tasnya.


Mereka kini duduk di taman kampus dekat pohon untuk menikmati udara sejuk di siang hari itu.


"Hmm, Gita, aku udah lama gak bahas ini lagi."


"Apa?" Gita kini menatap Arnav.


"Kamu mau balikan sama aku?" tanya Arnav sambil menatap Gita.


Satu tangan Arnav merengkuh bahu Gita. "Akhirnya, aku bisa jujur sama kamu. Gara-gara lihat Shena dan Sky menikah, aku jadi membayangkan menikah sama kamu." Arnav tersenyum kecil, apakah kisah cintanya nanti berakhir bahagia seperti Shena.


Gita tersenyum sambil mencubit lengan Arnav. "Aku gak boleh nikah sebelum lulus kuliah."


"Iya, aku juga mau fokus sama kuliah dulu. Ya, aku cuma berandai saja dan semoga menjadi kenyataan."


"Iya, amin." Beberapa saat kemudian Gita mengambil ponselnya yang berbunyi. "Mama telepon. Bentar ya." Gita mengangkat telepon itu dan mengiyakan permintaan Mamanya untuk menjemput di sebuah supermarket.


"Ar, aku duluan ya. Mama minta jemput di supermarket."


"Ya udah, kalau gitu aku juga mau pulang. Kapan-kapan saja kita jalan."


Mereka berdua berdiri dan berjalan menuju tempat parkir. Setelah sampai di tempat parkir, Gita menaiki motornya lalu mendahului Arnav karena dia sudah ditunggu Mamanya.


"Belum pulang?" tanya Sky yang juga sedang mengambil motornya.


"Nih, mau pulang. Udah beres tugasnya?" tanya Arnav.


Sky yang akan cuti selama dua minggu membereskan semua tugasnya terlebih dahulu. "Udah, besok aku udah mulai libur." Sky memakai helmnya lalu menghidupkan mesin motornya. "Mau ke rumah?"


"Iya, besok aja sebelum kamu berangkat."


"Ya udah aku duluan ya." Kemudian Sky melajukan motornya.


"Astaga, aku lupa." Arnav menepuk dahinya sendiri. "Aku kan dititipi paspor dan visa Shena yang sudah jadi sama Ayah." Arnav segera mengendarai motornya dan menyusul Sky.


Arnav bisa melihat motor Sky yang akan berbelok di pertigaan. Dia melebarkan kedua matanya saat dari arah kanan ada mobil yang melaju kencang dan menabrak Sky dengan keras. "Sky!" Arnav menambah laju motornya. Dia menepikan motornya dan segera menolong Sky yang jatuh terpental ke sisi kiri. Pengguna jalan yang lain juga mulai bergerombol.


"Sky! Kamu gak papa kan?" tanya Arnav dengan panik. Dia membantu Sky melepas helmnya.


Sky berusaha untuk bangun, tapi bahunya terasa sangat sakit akibat benturan keras ke aspal jalan. "Sakit sekali." Dia tidak bisa menahan rasa sakitnya. Pandangannya semakin kabur dan tubuhnya terasa melemas. Kemudian dia jatuh pingsan di pangkuan Arnav.


"Tolong cepat cegat mobil!" teriak Arnav karena mereka semua hanya menonton dan merekam.


"Kita tunggu ambulans dan polisi."


"Kelamaan!"


Untunglah ada seseorang yang berbaik hati menghentikan mobilnya dan membantu Arnav menggotong Sky masuk ke dalam mobil.


"Terima kasih, Pak. Kita langsung ke rumah sakit." Arnav menahan tubuh Sky dan melonggarkan jaket Sky. "Sepertinya tulang selangka Sky patah. Bagaimana dia bisa mengikuti pertandingan kalau seperti ini?"


Kemudian Arnav mengambil ponselnya. Sebenarnya dia tidak tega menghubungi Shena. Tapi mau bagaimana lagi, dia harus segera memberi kabar pada Shena.


"Hallo, Shena..."


💞💞💞


Like dan komen ya...


Kemarin golden scene komennya dikit banget.. 😪 Aku kasih bawang lagi nih. 😒