
Siang hari itu, Arnav menghentikan motornya di dekat gerbang karena dia melihat Gita yang sedang berdiri di pinggir jalan sambil memegangi perutnya. Selama ini, di setiap harinya, diam-diam Arnav terus mengamati Gita. Rasa cinta yang berselimut gengsi itu benar-benar menyiksanya.
Tiba-tiba saja Gita jatuh pingsan. Seketika Arnav turun dari motornya dan berlari menahan tubuh Gita.
"Gita, kamu kenapa? Gita?"
Sky yang baru saja keluar dari gerbang seketika menghentikan motornya. "Kenapa, Ar?"
"Gita pingsan."
"Bawa ke rumah sakit aja. Bentar gue cegat mobil dulu." Sky turun dari motor dan berusaha mencegat mobil.
Arnav menyibak rambut Gita yang menutupi wajahnya. Dia usap pelipisnya yang berkeringat.
"Arnav, bawa Gita masuk!" kata Sky setelah berhasil mencegat mobil. "Nanti biar gue bawa pulang motor lo."
"Iya." Arnav segera membawa masuk Gita ke dalam mobil. Setelah mobil melaju, Arnav terus mendekap tubuh Gita. "Gita kamu kenapa? Apa sakit kamu semakin parah?"
Setelah sampai di rumah sakit, Arnav segera membawa Gita ke IGD.
Dokter segera melakukan pemeriksaan pada Gita, sedangkan Arnav kini menunggunya dengan cemas.
"Dengan keluarga pasien?"
Arnav segera mendekati suster yang memanggilnya. "Saya temannya."
"Tolong segera hubungi keluarganya karena pasien harus segera di operasi."
Arnav melebarkan matanya. "Operasi?"
"Iya, karena kista pasien semakin besar dan sudah sangat menganggu kesehatan pasien."
Arnav meraih tas Gita dan mengambil ponselnya tapi Gita menahan tangan Arnav. "Orang tua aku lagi diluar kota, butuh waktu 8 jam perjalanan. Biar aku saja yang bicara." Gita mengambil ponselnya lalu menghubungi orang tuanya.
Arnav hanya berdiri di dekat Gita. Dia tidak mungkin meninggalkan Gita di rumah sakit.
Setelah selesai berbicara dengan orang tuanya, Gita mematikan ponselnya. "Dokter, apa tidak bisa menunggu sampai orang tua saya datang besok pagi?"
"Ya sudah, akan saya beri obat penghilang nyeri dan kita pindah ke ruang rawat terlebih dahulu."
Setelah selesai mengurus administrasi, Arnav hanya mengikuti brankar Gita yang didorong menuju ruang rawat. Setelah masuk ke dalam ruang rawat dan Dokter telah memberi obat penghilang nyeri, Dokter kini berpesan pada Arnav. "Nanti jika terasa sakit lagi, bisa dibantu kompres dengan air hangat. Kantong kompres bisa dibeli di apotek."
"Baik, Dok."
Setelah Dokter dan suster keluar dari ruangan itu, Arnav kini mendekat dan duduk di dekat brankar Gita.
"Makasih kamu sudah menolong aku, kalau kamu mau pulang tidak apa-apa. Aku bisa sendiri, biar aku hubungi Vivi."
Arnav hanya terdiam, tak menimpali perkataan Gita lagi. Dia hanya menatap Gita yang sedang menghubungi Vivi.
"Hallo, Vi, lo temani gue ya di rumah sakit. Iya, gue opname."
Gita hanya menekuk wajahnya mendengar penolakan di ujung sana. "Lo gitu amat sama gue! Ya udahlah, gue bisa sendiri di rumah sakit!" Gita meletakkan ponselnya di atas nakas dengan kesal.
"Biar aku yang menemani kamu," kata Arnav sambil mengusap puncak kepala Gita.
Gita hanya menatap tak percaya pada Arnav. "Serius?"
Arnav menganggukkan kepalanya. "Aku gak mungkin ninggalin kamu sendiri di sini."
"Kamu pulang aja gak papa. Mama sama Papa sampai di sini besok pagi."
"Gak papa, aku tunggu sampai orang tua kamu datang."
Sebenarnya Gita sangat senang ditemani Arnav seperti ini tapi dia juga merasa tidak enak, jangan-jangan Arnav hanya terpaksa karena merasa kasihan dengannya.
"Hmm, kamu ngelakuin ini pasti karena kasihan denganku kan?"
Arnav menggelengkan kepalanya. "Gita, sebenarnya aku..." Arnav menghentikan kalimatnya sesaat. Dia usir rasa gengsi dari dirinya. "Sebenarnya aku juga masih cinta sama kamu. Aku udah berusaha lupain perasaan itu tapi gak bisa. Aku justru menyiksa diri aku sendiri selama satu tahun karena menahan rasa ini."
"Ya sudahlah. Semua sudah berlalu, Sky saja sudah bahagia bersama Shena. Nanti setelah kamu sembuh, kita bicarakan ini lagi. Lebih baik sekarang kamu istirahat."
Gita menganggukkan kepalanya. Obat yang diberikan Dokter memang sudah bekerja dan rasa nyeri itu telah mereda.
Setelah Gita tertidur, Arnav menghubungi orang tuanya untuk meminta izin tidak pulang hari itu. Setelah memberi alasan yang kuat dan melakukan video call barulah Arnav mendapatkan izin.
"Ayah sama Ibu protektif banget sama anak cowok." Setelah itu Arnav keluar untuk membeli makanan dan kantong kompres untuk berjaga-jaga jika nanti Gita mulai kesakitan lagi.
...***...
Saat hari mulai malam, Gita semakin merasa kesakitan. Dia hanya bisa berdiam sambil menggigit bibir bawahnya.
"Kalau sakit bilang." Arnav yang telah mengisi kantong kompres itu dengan air hangat lalu mengompres perut Gita.
"Aku..."
"Gak papa, gak usah malu. Dokter sudah memberi obat pereda nyeri lagi tapi memang sudah tidak bisa bereaksi maksimal, kamu harus bisa menahannya sampai besok pagi. Aku temani."
Gita hanya terdiam sambil menatap Arnav.
"Kamu pasti bisa melalui ini." Arnav mengusap rambut Gita yang berkeringat karena menahan sakit.
"Makasih."
"Sama-sama."
Hampir semalaman itu Gita tidak bisa tidur karena rasanya sangat sakit. Menunggu pagi datang saja rasanya sangat lama. Untunglah, Arnav setia menemaninya dan membantu mengompres perut Gita berulang kali.
Saat menjelang pagi, akhirnya Gita tertidur. Begitu juga dengan Arnav, dia meletakkan kepalanya di dekat tangan Gita. Sampai kedua orang tua Gita kini datang dan masuk ke dalam ruangan Gita.
"Kok gak dijaga Vivi?" gumam Bu Risa karena dia sudah berpesan pada Vivi untuk menjaga Gita di rumah sakit.
"Iya, anak satu itu memang bandel." Perlahan Pak Didit membangunkan Arnav agar dia berpindah karena tidurnya terlihat sangat tidak nyaman. Pak Didit sudah mengenal Arnav sejak mereka SMA karena Arnav memang sering menjemput atau mengantar Gita ke rumah.
Arnav kini membuka kedua mata merahnya.
"Arnav, kamu pindah tidur di sofa saja. Biar kita yang jaga di sini."
"Om, Tante, sudah lama?" Arnav justru balik bertanya.
"Baru saja."
Arnav menutup mulutnya saat menguap panjang. Sepertinya dia baru tidur satu jam dan rasanya sangat mengantuk.
"Semalaman kamu gak tidur? Kamu pindah ke sofa saja."
"Saya mau pulang saja."
"Jangan berkendara dalam keadaan mengantuk."
"Tidak apa-apa, saya pesan grab car. Nanti saya ke sini lagi. Operasi akan dilakukan tiga jam lagi. Biarkan Gita tertidur. Tadi dia sudah makan dan minum dan sudah mulai berpuasa pra operasi," jelas Arnav. Lalu dia berdiri dan berpamitan pada kedua orang tua Gita. Setelah itu, dia membawa tasnya keluar dari ruang rawat Gita.
"Pa, Arnav pria yang baik. Mama ingin sekali Gita tetap bersama Arnav."
"Iya, semoga saja. Siapa tahu mereka memang bisa kembali bersama."
πππ
.
Like dan komen ya... Masih setia di sini kan? Maaf masih belum bisa double update. Dukung terus sampai 100 bab lebih ya... βΊοΈ
.
Sambil menunggu mampir ke sini dong. Sedihnya, masih sepi..