
Arnav menghentikan motornya sesaat lalu menghubungi Ibunya. Siapa tahu saja Shena pulang ke rumah.
"Bu, apa Shena pulang ke rumah?" Arnav hanya terdiam mendengar perkataan Ibunya jika Shena tidak pulang ke rumah. Beragam pertanyaan justru didapat Arnav dari Ibunya. "Nanti aku jelaskan sama Ibu, aku mau cari Shena dulu." Arnav mematikan panggilannya lalu dia membaca beberapa pesan dari Reynan dan melihat kiriman video yang di rekam Fadli.
"Jadi Sky udah tahu semuanya, pantas aja dia cariin Shena. Sekarang saatnya gue buat perhitungan sama Sky." Arnav kembali melajukan motornya menuju taman, siapa tahu saja Shena berada di taman karena biasanya Shena sangat suka duduk di bawah pohon saat udara panas.
Arnav sudah memutari taman itu tapi Shena tidak ada di sana, lalu dia beralih ke tempat-tempat yang sering dikunjungi Shena tapi dia masih juga belum menemukan Shena.
Kemudian dia menghubungi Vicky. "Vicky lo udah nemuin Shena?" Arnav menghela napas panjang. "Kira-kira dimana Shena? Ya udah, kalau sampai sore belum ketemu, kita lapor polisi."
Setelah mematikan panggilannya, Arnav kembali melajukan motornya mencari Shena tanpa arah tujuan.
...***...
Sky menghentikan motornya setelah berjalan tanpa tujuan. Dia sudah mencari Shena di sekitar tempatnya membuat janji tadi pagi tapi dia sama sekali tidak melihat Shena.
"Kira-kira Shena dimana?" Sky berpikir sambil menatap langit biru yang tak berawan itu. "Harusnya gue gak kasih obat bahaya itu, kalau sampai diminum semuanya sama Shena, akibatnya bisa fatal."
Sky membuang napasnya kasar. "Pokoknya gue harus nemuin Shena. Gue akan tebus semua kesalahan gue. Meskipun nantinya gue di penjara ataupun dihajar habis-habisan sama keluarga Shena, gue gak peduli, yang terpenting Shena berhasil gue temukan dan selamat."
Sky memejamkan matanya sambil menekan hidungnya. Tiba-tiba dia teringat dengan rumah kosong itu. "Apa jangan-jangan Shena ke rumah itu."
Sky kembali menghidupkan motornya lalu melajukan motornya dengan kencang menuju rumah kosong itu. Tidak ada salahnya jika dia memeriksa rumah kosong itu karena hanya di tempat itu tidak akan ada yang tahu keberadaan Shena kecuali dirinya.
Setelah sampai di depan rumah itu, Sky segera masuk ke dalam rumah. Detak jantungnya semakin kencang, lututnya bergetar, dia seperti tidak mempunyai hati lagi melihat kondisi Shena saat ini.
"Shena!!!" Sky berteriak lalu duduk dan meraih tubuh Shena yang sudah sangat lemas. "Shena, bangun!" Dia melihat bungkus obat yang dia berikan dan telah kosong. "Kenapa lo minum semuanya!" l
Mata Sky memerah melihat banyaknya darah di sekitar kaki Shena. Efek obat itu bisa berakibat fatal jika dikonsumsi melebihi dosis. "Shena, maafin gue."
Sky mengecek denyut nadi Shena yang terasa sangat lemah, kemudian dia mengangkat tubuh Shena dan membawanya keluar dari rumah itu. Dia berusaha mencegat mobil yang lewat.
Untunglah ada mobil yang mau berhenti dan menolong Sky membawa Shena ke rumah sakit.
Di dalam mobil Sky menghubungi orang tuanya. "Ma, tolong ke rumah sakit Medika sama Papa... Aku gak kenapa-napa, tapi... Nanti aku jelaskan di rumah sakit."
Satu tangannya mendekap kepala Shena, dia pandangi wajah yang sangat pucat itu. "Dengan apa gue harus menebus semua ini?" Dia singkirkan rambut yang menutupi kening Shena. "Lo harus bertahan, agar lo bisa menghukum gue semau lo."
Baru kali ini Sky merasakan penyesalan yang sangat besar dalam hidupnya. Waktu tidak bisa berputar kembali untuk memperbaiki kesalahan, mungkin dia akan menanggung rasa menyesal itu seumur hidupnya.
Setelah sampai di rumah sakit, Sky segera membawa Shena ke IGD. Dia dicecar berbagai pertanyaan oleh Dokter setelah melihat kondisi Shena.
"Dia minum obat apa?"
Sky menyebutkan obat yang diminum Shena dan dosis yang diminumnya.
"Kamu masih sekolah sudah berani melakukan ini! Kamu tahu, resiko obat itu sangat fatal, apalagi jika dikonsumsi melebihi dosis. Hubungi keluarganya, biar kasus ini sampai ke tangan hukum."
Sky kini duduk dengan lemas di depan ruang IGD. Lalu dia mengambil ponsel Gala dan menghubungi nomor Arnav yang tersimpan di ponsel itu.
Beberapa saat kemudian Arnav dan Vicky sampai di rumah sakit. Mereka berdua segera menghampiri Sky. "Apa yang udah terjadi sama Shena?"
"Shena pendarahan hebat."
Seketika Arnav menyergap Sky dan menyeretnya ke tempat parkir. Vicky juga mengikuti mereka berdua.
"Kenapa Shena bisa pendarahan? Lo apain dia?"
Sky tidak akan menyangkal semua perbuatannya. "Gue yang kasih obat agar Shena keguguran."
"Apa?" Arnav memukul pipi Sky dengan keras. "Lo gila! Kalau lo gak mau tanggung jawab, gak gini caranya!"
Sky hanya terdiam. Dia sama sekali tak membalas pukulan Arnav.
"Lo udah lihat videonya kan! Gue gak salah! Harusnya lo gak lakuin ini sama Shena!" Arnav kembali memukuli Sky.
"Kalau terjadi apa-apa sama Shena, apa lo bisa bertanggung jawab!" Vicky ikut memukul Sky dengan keras. Tak hanya sekali, mereka memukuli Sky berulang kali tapi Sky sama sekali tak membalasnya. Bahkan sampai Sky meringkuk di tanah, mereka masih menendangi Sky.
"Stop! Udah berhenti!" Melihat putranya dipukuli, Ida yang baru sampai di tempat parkir bersama suaminya langsung turun dari mobil lalu menarik Vicky dan Arnav. Dia berjongkok dan melindungi Sky. "Kenapa kalian menghajar Sky?"
Arnav dan Vicky seketika berhenti.
"Mama, ini salah aku," kata Sky.
"Kamu kenapa?"
"Aku sudah memperkosa adik mereka dan memberinya obat peluruh kandungan. Sekarang adik mereka pendarahan hebat. Ini semua salah aku, aku yang mengira Gala meninggal karena mereka tapi ternyata pembunuh Gala teman aku sendiri. Aku salah, Ma. Aku salah sudah balas dendam pada Shena yang gak tahu apa-apa."
"Apa kamu bilang!" Arsen yang baru saja keluar dari mobilnya seketika menyergap Sky saat mendengar pernyataan Shena. "Kamu sudah memperkosa putri aku dan memberinya obat." Arsen sangat emosi, dia mencengkeram kuat krah Sky. "Arnav, kenapa kamu gak bilang masalah ini sama Ayah!"
"Maafkan aku, Ayah. Aku..." Arnav menghentikan perkataannya.
"Arnav, kamu harusnya cerita sama kita tentang masalah ini. Gimana kondisi adik kamu sekarang?" Air mata Naya sudah tidak bisa berhenti mengalir. Dia segera berjalan menuju IGD bersama Vicky.
Sedangkan Arsen masih menatap Sky dengan penuh amarah. Cengkeramannya semakin kuat di krah Sky. Ingin sekali dia menghabisi Sky saat itu juga.
"Pak Arsen, Sky putra saya. Mari kita bicarakan masalah ini."
Seketika Arsen menatap Alex yang berdiri di dekat Sky.
.
💕💕💕
.
Like dan komen ya...