
"Akhirnya kita pulang ke rumah." Naya mengecek kembali tas dan barang bawaannya sebelum keluar dari ruangan Shena. Selama lima hari itu, Naya menjaga putrinya di rumah sakit hampir 24 jam.
"Shena pakai kursi roda saja ya?" tanya Arsen.
"Nggak usah Ayah. Shena bisa jalan sendiri," kata Shena. Lalu dia turun dari brankar dan menggandeng lengan Ibunya. Sedangkan Ayah dan Kakaknya membawa tas beserta barang lainnya dan berjalan mendahului.
Di koridor rumah sakit itu mereka berpapasan dengan Sky dan keluarganya.
"Sudah boleh pulang juga?" tanya Naya pada Ida yang kini berjalan di sampingnya sambil mendorong kursi roda Sky.
"Iya, sebenarnya masih belum boleh pulang tapi Sky sudah tidak betah di rumah sakit jadi kita memilih berobat jalan saja."
"Ma, kan aku sudah bilang gak perlu pakai kursi roda," kata Sky yang merasa malu dia duduk di kursi roda dan berjalan di samping Shena.
"Sky, kamu belum bisa jalan jauh."
"Memang masih belum sembuh lukanya?" tanya Naya.
Shena berdengus kesal lalu berpindah ke sisi lain Ibunya agar jauh dari Sky. Bisa-bisanya Ibunya mengobrol akrab sama Mamanya Sky.
"Belum sepenuhnya. Sama Dokter masih belum boleh bergerak bebas dan harus makan makanan halus."
Kedua Ibu itu asyik mengobrol sambil berjalan, sedangkan Sky menatap Shena yang sedang menggembungkan pipinya.
Lucu! Sky tersenyum kecil menatapnya.
Tanpa sengaja Shena menatap Sky dan melihat senyuman manis itu, buru-buru dia mengalihkan pandangannya.
Sky hampir melupakan sesuatu. Dia mengambil tas kecil selempangnya lalu mengeluarkan satu coklat berpita cantik lengkap dengan secarik kertas yang berisi permintaan maafnya.
Kemudian dia mengulurkan tangannya dan memberikan coklat itu pada Shena. "Terhitung mulai hari ini, aku akan minta maaf sampai aku mendapatkan maaf dari kamu."
Naya menghentikan langkahnya agar Shena berhenti.
Shena menerima coklat itu lalu membuangnya ke lantai lagi. Dia kini melepas lengan Ibunya dan berjalan menuju tempat parkir tanpa berkata apapun.
"Shena..." panggil Naya sambil mengambil coklat yang sudah dibuang Shena. "Maaf ya, Shena memang belum bisa memaafkan. Gak papa, kamu berusaha saja."
"Iya Tante, saya mengerti."
Sky hanya menatap Shena yang sekarang masuk ke dalam mobil. Masih ada hari esok dan seterusnya untuk aku minta maaf sama kamu.
"Shena, kemarin kamu dikasih bunga sama Sky kamu buang. Terus sekarang kamu buang juga. Gak mau baca pesan dari Sky?" Naya membuka secarik kertas yang terselip di antara pita itu. Dia tersenyum membaca kata manis yang Sky tulis.
"Gak mau, Bu. Buang aja!"
"Ya udah. Ibu simpan ya, biar nanti kamu gak nyesel."
"Kenapa Ibu sama Ayah jadi dukung Sky sama Shena?" tanya Arnav yang duduk di samping Ayahnya.
"Iya, aku benci sama Sky," sahut Shena. "Udah untung aku gak tuntut dia."
"Sky memang salah tapi tidak ada salahnya kita memaafkan dan memberi dia kesempatan lagi. Dia juga sudah menyesal, dan kamu juga sudah puas memukulinya kan, Ar," kata Arsen.
"Jangan-jangan Ayah memaafkan Sky karena Papanya Sky bekerja sama dengan Ayah?"
"Loh, jadi karena urusan bisnis?" imbuh Shena juga. "Shena memang tidak menuntut Sky, tapi bukan berarti Shena memaafkan dia."
"Kalian berdua ini bisa-bisanya menuduh Ayah. Tidak ada sangkut pautnya bisnis sama masalah Shena," kata Arsen. Kedua anaknya itu memang berpikir terlalu kritis. "Keluarga Sky itu baik. Pak Alex juga bisa terima jika memang kita menuntut Sky."
"Tapi jangan suruh Shena buat maafkan Sky. Shena juga gak mau lagi bertemu dia."
...***...
Setelah satu hari beristirahat di rumah, hari itu Shena mulai masuk sekolah. Sejak bangun tidur sampai akan berangkat, jantungnya masih berdetak tak karuan. Dia takut jika nanti di sekolah ada yang menanyainya macam-macam.
Shena kini menghentikan langkahnya di dekat pintu. Dia masih ragu-ragu untuk berangkat ke sekolah.
"Shena, kalau memang masih mau libur gak papa."
Shena menghela napas panjang. Inginnya memang tidak datang ke sekolah. "Ujian sebentar lagi, nanti Shena ketinggalan pelajaran, Bu." Shena berpamitan pada kedua orang tuanya lalu mengikuti Arnav. Dia kini berhenti di dekat motor Arnav dan memakai helmnya.
Arnav dan Shena kini menatap seseorang yang menghentikan motornya di depan gerbang. Lalu dia masuk ke dalam dan menghampiri Shena.
"Shena, sorry aku ke sini pagi-pagi. Karena kemarin aku gak ke sini, ini sebagai tanda permintaan maafku yang kedua."
Shena hanya menatap mini teddy bear yang berkalung pita dan terselip secarik kertas lagi. Dan lagi, Shena membuangnya. "Gue gak perlu barang-barang kayak gitu. Lo gak perlu susah-susah minta maaf sama gue karena sampai kapanpun gue gak akan maafin lo." Lalu dia naik ke boncengan Arnav.
"Jangan buang-buang waktu lo buat ini semua karena Shena gak mungkin maafin lo!" imbuh Arnav. Kemudian Arnav melajukan motornya.
Sky hanya bisa mengambil boneka itu lagi
"Sky, biar saya simpan. Suatu saat nanti pasti Shena mau menerima dan membaca semua pesan dari kamu."
Sky menganggukkan kepalanya. "Makasih, Tante." Kemudian dia naik ke atas motornya lagi dan melaju mengikuti motor Arnav. Dia kini berada tepat di belakang Shena.
Shena aku gak akan nyerah dapatkan maaf dari kamu.
Setelah sampai di sekolah Shena, barulah Sky melajukan motornya dengan kencang menuju sekolahnya.
Shena kini turun dari boncengan Arnav dan melepas helmnya.
"Kamu jangan sampai luluh sama Sky."
"Iya Kak, aku tahu." Shena melihat Mila yang baru saja melewati gerbang sekolah, dia kini menyusul langkah Mila. "Mila, ada PR gak hari ini?" Basa-basi Shena karena dia juga sudah tahu dari Vicky.
"Nggak ada," jawab Mila singkat bahkan Mila semakin melangkah jenjang meninggalkan Shena.
"Mengapa Mila menghindar? Apa Mila udah gak mau berteman sama gue?" Shena memelankan langkah kakinya. Dia tidak akan memaksa jika memang Mila tidak ingin bersamanya lagi.
"Shena, akhirnya kamu masuk sekolah." Kini ada Vicky yang mengimbangi langkah kakinya.
Shena hanya terdiam. Dia masih saja menatap punggung Mila sampai dia kini masuk ke dalam kelas.
"Eh, guys, makanan apa sih yang beracun dan menyebabkan pendarahan?"
"Makanan burung kali."
Beberapa teman-temannya tertawa. Mereka seolah sengaja menyindir Shena.
Shena kini duduk di bangkunya tapi Mila justru pindah tempat duduk dan menjauh darinya. Lengkap sudah penderitaannya. Ingin rasanya Shena menangis, tapi dia tahan. Apalagi di belakang Shena beberapa temannya justru bergosip dan menyindirnya.
"Apa yang kalian bicarakan?" teriak Vicky. Seketika mereka semua berhenti bergosip. Vicky kini duduk di sebelah Shena lalu menghapus air mata yang hampir saja terjatuh. "Jangan sedih. Ada aku."
💕💕💕
.
Like dan komen ya...