Love From The Sky

Love From The Sky
BAB 86



"Mulai sekarang kamu harus makan yang banyak. Mengandung banyak protein dan juga makan sayur. Makan buah juga. Minum susu dan vitamin juga harus rajin. Karena ada dua janin yang membutuhkan nutrisi cukup agar perkembangannya bagus. Semoga saja minggu depan detak jantungnya sudah terdeteksi," kata Sky panjang lebar sambil mengambil alih sendok yang berada di tangan Shena karena sedari tadi Shena hanya mengaduk makanannya.


"Gak enak makan. Perut aku rasanya penuh banget."


"Dikit-dikit dulu." Sky berusaha menyuapi Shena. Akhirnya Shena mau membuka mulutnya dan menelan makanan itu. Tapi saat menyuapinya lagi, Shena menutup rapat mulutnya sambil menggelengkan kepalanya.


Shena justru meraih mangga lalu mengupasnya. "Rasanya enak makan mangga daripada nasi."


Akhirnya Sky meletakkan sendoknya di atas piring. Dia tidak akan terlalu memaksa Shena daripada nanti Shena semakin mual. "Kamu mau buah apalagi? Nanti Mama, Papa, dan Arion ke sini."


"Buah yang segar dan agak asam aja. Mama bisa buat rujak gak? Aku pengen dibuatin Mama rujak buah."


"Iya, nanti aku bilang sama Mama. Mereka senang sekali dengar kamu hamil dan akan langsung dapat dua cucu." Kemudian Sky membereskan piring kotor dan membawanya ke dapur. Jika di rumahnya dulu, dia tidak pernah mencuci piring tapi sekarang dia sering membantu Shena mencuci piring. Dia juga mengerjakan pekerjaan rumah lainnya dan bangun lebih pagi.


"Sayang, kamu mau minum susu rasa apa?" tanya Sky setelah selesai mencuci piring.


"Strawberry, Kak."


Sepulang dari periksa, Sky memang langsung membelikan Shena susu untuk ibu hamil dengan tiga rasa agar Shena tidak bosan dan juga beberapa cemilan yang bagus untuk ibu hamil. Biasanya dia memang sudah protektif dengan Shena tapi kali ini dia akan semakin protektif pada Shena dan juga kandungannya.


Kemudian Sky membuatkan satu gelas susu untuk Shena. Lalu dia meletakkan di atas meja makan. "Minum susu dulu, terus kamu istirahat sebelum keluarga kita datang ke sini."


Shena menganggukkan kepalanya lalu dia meminum segelas susu itu sampai habis.


"Ayo, istirahat dulu." Kemudian Sky merengkuh pinggang Shena dan menuntunnya ke kamar. "Sekarang gimana yang kamu rasakan? Masih mual? Atau pusing?"


"Sudah gak terlalu. Tadi sinar mataharinya terik banget aku jadi pusing dan lemas," kata Shena sambil merebahkan dirinya di atas ranjang.


Satu tangan Sky kini mengusap perut Shena. "Makanya kamu semakin berisi. Aura kamu beda, makin sexy. Ternyata ada dua generasi penerus Sky di dalam sini. Ampuh banget ternyata tembakanku."


"Ih, bisa gitu ya. Kirain gak langsung jadi. Aku masih mikir gimana kuliah aku."


Sky kini merebahkan dirinya di samping Shena dan memeluknya. "Jangan terlalu dipikirkan. Kalau memang badan kamu kurang fit untuk kuliah, kamu tunda saja kuliahnya. Masih banyak waktu untuk belajar."


Shena menggelengkan kepalanya. "Nggak, aku harus tetap kuliah."


"Ya sudah kalau itu mau kamu." Sky kembali mengusap perut Shena lalu mendekatkan wajahnya. "Jadi anak yang pintar ya, kalau Mama lapar, biarkan Mama makan. Jangan menyusahkan Mama saat diluar rumah. Biarkan Mama beraktifitas dengan tenang, nanti Papa manjain di rumah."


Seketika Shena tersenyum mendengar celoteh Sky. "Kak Sky bisa aja."


"Iya, harus di sounding sejak dini." Kemudian Sky mencium kening Shena. "Sekarang kamu istirahat. Kalau besok kamu memang masih ingin ikut ospek, Kak Arnav sudah urus kartu pembatasan fisik buat kamu."


"Nanti kalau ada yang tanya, aku jawab apa?"


Sky semakin mendekap tubuh Shena. "Kamu sudah punya suami. Jangan malu."


Shena akhirnya tersenyum dan menyembunyikan wajahnya di dada Sky. "Maaf ya, aku sempat sedih dengan kehamilan ini. Aku juga malu mengakuinya. Iya, Kak Sky benar. Aku punya suami ngapain harus malu. Kak Sky pasti juga akan selalu menemani aku."


Kemudian Sky mencium puncak kepala Shena dan mengusap punggungnya. "Aku pasti akan selalu menjaga kamu. Sekarang kamu istirahat, biar badan kamu lebih enakan."


Shena akhirnya memejamkan matanya di dalam dekapan Sky.


Aku harus bisa menjadi suami yang diandalkan Shena...


...***...


"Shena, selamat sayang..." Naya datang ke rumah Shena dan langsung memeluk putrinya. "Ini sejarah pertama di keluarga kita ada keturunan kembar. Ibu sangat bahagia. Semoga pertumbuhannya bagus dan sehat sampai melahirkan nanti."


"Iya, Bu. Shena juga tidak menyangka akan memiliki dua anak sekaligus."


"Kamu harus benar-benar jaga kondisi kamu. Kalau memang tidak sanggup, jangan kuliah dulu."


"Iya, benar apa kata Ibu kamu. Dulu waktu Ibu kamu hamil, Ayah yang merasakan morning sickness, dan rasanya benar-benar nikmat sampai Ayah masuk rumah sakit karena dehidrasi," cerita Arsen. Dia kini duduk di sebelah Sky di ruang tamu.


"Ayah yang merasakan ngidam? Apa tipsnya biar merasakan ngidam? Kasihan lihat Shena pusing dan mual, meskipun gak sampai muntah," tanya Sky. Dia tidak menyangka jika Ayah mertuanya dulu yang merasakan morning sickness.


Arsen justru tertawa. "Nggak ada tipsnya. Memang merasakannya gitu aja waktu hamil Arnav dan Shena."


"Tapi gak sampai muntah-muntah kan?" tanya Naya, dia kini juga duduk di samping Shena.


Shena menggelengkan kepalanya. "Cuma mual aja."


Beberapa saat kemudian Arnav dan Gita juga datang yang disusul oleh kedua orang tua Sky dan juga Arion.


"Shena, Mama sudah buatkan rujak buah sesuai pesanan kamu."


"Wah, semua sudah datang, Ibu siapkan makanan dulu ya di meja makan," kata Naya. Dia kini berdiri dan berjalan menuju dapur.


"Saya bantu, Tante." Sebelum Gita menyusul langkah Naya, dia memberi selamat dulu pada Shena. "Shena, selamat atas kehamilannya. Aku bawa mangga yang baru petik di halaman rumah aku. Kak Arnav yang petik sendiri khusus buat ponakan."


"Iya? Makasih ya."


"Iya, semoga selalu sehat sampai melahirkan nanti. Udah ya, aku mau bantu canmer dulu." Gita tersenyum kecil lalu dia masuk ke dalam rumah.


"Kak Arnav, Kak Vicky gak ikut?"


"Katanya masih ada urusan, besok mau ke sini sama orang tuanya. Vicky sekarang juga sibuk dengan dunianya sendiri. Entahlah, apa yang ada dipikiran dia sekarang," kata Arnav lalu dia berjalan ke dapur untuk membantu Ibunya.


"Shena, nih cobain rujak buah Mama. Kalau kamu mau, setiap hari bisa Mama buatkan." Bu Ida mulai menyuapi Shena.


"Enak, Ma."


"Besok Mama buatkan lagi kalau suka. Ini juga gak pedas."


Shena menganggukkan kepalanya. Sekarang dia merasa menjadi wanita yang istimewa dan beruntung sekali banyak yang menyayanginya.


💞💞💞


Like dan komen ya...