Love From The Sky

Love From The Sky
BAB 105



"Gimana keadaan Kak Ferdi?" tanya Mila saat menjenguk Ferdi pagi hari itu. "Kepala, tangan, dan kaki kenapa di perban semua?" Mila kini duduk di dekat brankar Ferdi.


"Namanya orang kecelakaan ya di perban. Makasih ya udah ke sini."


"Sebenarnya semalam aku mau ke sini, tapi gak boleh sama Papa."


"Nggak papa, ini aku juga masih hidup."


"Ih." Mila mencubit lengan Ferdi. "Bisa bercanda kayak gitu. Aku beneran khawatir."


"Iya, makasih sudah khawatir. Ma, ini calon mantu, lamarin dong. Sky dan Vicky saja udah nikah," kata Ferdi pada Mamanya.


"Ferdi, kamu aja masih minta uang sama Mama, mau nikah. Mau kasih makan apa? Teman-teman kamu itu kan udah pintar cari uang," kata Mamanya yang memang menjaga Ferdi di ruangan itu.


"Iya, ngapain sih buru-buru. Tunggu lulus kuliah dulu." Mila mengusap rambut Ferdi. "Aku gak akan kemana-mana kok."


Ferdi tersenyum sambil menatap Mila. Kesabarannya selama ini menunggu cinta Mila akhirnya telah bersambut.


"Kak, aku mau jenguk Shena dulu ya. Sebentar saja, nanti balik ke sini lagi."


"Iya, kasihan Shena sampai sekarang belum sadar."


Kemudian Mila berdiri dan berpamitan pada Mama Ferdi, lalu dia berjalan menuju ruangan Shena. Di dalam ruangan Shena ada Sky dan juga Gita yang bersama Arnav sedang menggendong si kembar.


"Shena belum sadar juga?"


Sky menggelengkan kepalanya. "Belum. Sudah melewati masa kritis tapi belum sadar juga."


"Shena cepat sadar ya. Si kembar lucu banget loh. Udah aku beliin jumpsuit beruang sama kelinci," kata Mila di dekat Shena. Dia merasa kasihan melihat kondisi sahabatnya sekarang. Harusnya Shena berbahagia atas kelahiran dua buah hatinya.


Mila menyusut air matanya yang hampir terjatuh lalu dia melihat si kembar yang berada di gendongan Gita dan Arnav.


"Siapa panggilannya?"


"Ares dan Ara."


"Ih, lucu." Mila menggendong Adara yang sedang tertidur. "Yang cewek mirip Mamanya yang cowok mirip Papanya. Adil banget."


"Iya, lucu banget. Mau aku culik dan bawa ke rumah," kata Gita yang masih menggendong Antares.


Sky tak menyahuti candaan dan obrolan mereka, dia hanya duduk termenung menatap Shena.


...***...


Hingga empat hari telah berlalu, Shena belum juga sadarkan diri. Kata dokter, kondisinya sudah stabil dan otaknya juga sudah merespon, hanya tinggal menunggu Shena tersadar.


"Sayang, cepat sadar. Gak capek? Sudah empat hari kamu hanya terbaring seperti ini." Sky menggenggam tangan Shena dan menciumnya. Di setiap malamnya, dia tidak bisa tidur dan terus memikirkan Shena.


Hari itu, dia hanya sendiri di rumah sakit menjaga Shena dan juga buah hatinya karena Mamanya sedang tidak enak badan dan Ibunya Shena juga terkena flu. Hanya ada suster yang siap sedia membantu Sky saat Sky membutuhkan bantuan.


"Sayang, aku kangen sama kamu. Cepat bangun. Aku janji, aku gak akan buat kamu kayak gini lagi. Aku sayang sama kamu, Shena. Aku mohon cepat sadar. Ares dan Ara butuh kamu." Sky semakin menangis di tangan Shena. Sudah empat hari itu dia menahan sesak di dadanya, dan kali ini dia tumpahkan segala kesedihannya.


"Shena, bangun. Aku gak bisa tanpa kamu." Kemudian Sky terdiam. Hanya isak tangis yang sesekali terdengar.


"Kak Sky..."


Mendengar suara lemah itu, seketika Sky menatap Shena. Dia tersenyum dalam tangisnya saat Shena membuka kedua matanya.


"Shena..." Dia peluk tubuh Shena dengan erat. "Aku takut sekali kehilangan kamu. Akhirnya kamu sadar."


"Empat hari." Sky meregangkan pelukannya lalu mengusap air matanya. "Empat hari kamu gak sadar. Aku takut kehilangan kamu."


"Ares dan Ara bagaimana?"


"Mereka sangat sehat. Aku panggil Dokter dulu untuk periksa kondisi kamu sebelum lihat anak kita." Sky menekan tombol emergency agar dokter segera datang.


Beberapa saat kemudian Dokter datang dan segera memeriksa kondisi Shena. "Bagus, semua sudah stabil. Tinggal masa pemulihan saja. Istirahat yang banyak, jika memang kondisi masih belum bisa mengasihi tidak apa-apa lanjut pakai sufor saja karena kesehatan ibu juga sangat penting setelah kehilangan banyak darah dan koma."


"Baik, Dok."


Setelah Dokter keluar, Sky langsung menggendong putranya dan meletakkan di samping Shena. "Ini Ares. Ganteng kan? Kayak Papanya."


Shena tersenyum dan mengusap pipi yang sudah terlihat bulat itu. "Udah chubby. Ganteng banget." Shena mencium pipi itu hingga putranya bergeliat. "Maaf ya, Mama gak kasih ASI. Mama juga sama sekali belum pernah mengurus kamu."


"Tidak apa-apa Mama, ada Papa dan ada dua oma cantik yang merawat." Sky kini meletakkan putrinya di sisi satunya. "Ara, yang cantik. Dia sering menangis, sepertinya ingin dipeluk Mama soalnya dia mirip banget sama kamu."


Senyum di wajah Shena mengembang melihat wajah cantik Adara. "Ara, cantik. Lebih cantik kamu daripada Mama. Jangan rewel ya, ada Mama yang akan selalu peluk Ara setiap saat." Shena mencium pipi putrinya hingga membuatnya terbangun. Kedua mata kecil itu kini menatap Shena.


"Ara, ini Mama sayang." Shena semakin mendekap tubuh mungil itu. "Sejak kamu lahir baru sekarang Mama lihat dan sentuh kamu."


"Jangan nangis." Sky mengusap ujung mata Shena.


"Aku bahagia. Ares dan Ara sehat dan sempurna."


"Sepertinya Ara senang berada di dekat kamu. Biasanya tiap bangun menangis, sekarang dia lihat kamu tuh. Lucu banget, kayak udah ngerti."


"Cantik, haus ya?" Shena mengusap bibir Adara yang bergerak mencari sesuatu.


"Aku buatkan susu. Sudah waktunya mereka minum."


"Kak Sky bisa mengurus mereka sendiri?"


"Ya, dibantu Ibu sama Mama empat hari ini. Aku masih butuh banyak belajar untuk jadi Papa yang baik." Setelah membuat susu, Sky memangku Adara dan memberinya susu. "Pintar gak nangis. Mama sudah bangun, jadi Ara gak boleh rewel."


Shena tersenyum melihat Sky yang sedang memberi putrinya susu. Lalu dia kembali mendekap putranya yang masih ada di sampingnya. "Mirip banget sama Papa. Pasti besarnya kayak Papa." Shena kembali menciumi pipi bulat itu hingga putranya akhirnya terbangun dan menangis. "Sayang, kok nangis. Maaf ya, Mama ganggu."


"Ares, sebentar ya. Adik biar Papa sendawain dulu."


"Ih, lucu kalau nangis. Pipinya sampai merah. Mau gendong Mama." Shena akan bangun tapi dicegah oleh Sky.


"Jangan bangun dulu. Biar aku saja." Setelah meletakkan Adara di dalam box, Sky berganti membuatkan susu untuk putranya. "Ares minum susunya lebih kuat dibanding Ara. Pipinya langsung chubby padahal baru berumur empat hari."


Shena kini menatap nanar Sky yang sedang memberi susu untuk putranya. "Kak Sky gak tidur? Ada lingkar hitam di mata Kak Sky."


"Gimana aku bisa tidur, lihat kamu lemah gak berdaya di atas brankar. Setiap hari aku terus mikirin kamu."


"Kalau gitu sekarang Kak Sky tidur biar aku yang jaga Ares dan Ara."


Sky menggeleng lagi. "Kamu baru sadar. Kamu saja yang istirahat biar cepat pulih. Biar aku jaga mereka. Kamu, Ares, dan Ara adalah prioritas aku."


"Kak Sky..." Kedua mata Shena semakin berkaca-kaca menatap Sky. "Makasih Kak Sky selalu ada buat aku..."


💞💞💞


Udah pada bosan ya soalnya retensi semakin menurun.. 🤧 Sebentar lagi tamat ya... Tetap stay...