Love From The Sky

Love From The Sky
BAB 67



"Shena kamu kenapa?" Sky berjongkok dan memeluk Shena. Dia mengusap keringat dingin yang mengalir di pelipis Shena. Dia tahu Shena sedang ketakutan. Apakah Shena teringat dengan peristiwa satu tahun yang lalu dan membuat rasa trauma itu kembali muncul?


Shena tak merespon pertanyaan Sky. Dia hanya menggertakkan giginya dengan badan yang bergetar.


"Shena, tenangkan diri kamu." Sky semakin mendekap Shena dan mengusap rambutnya. "Shena, maafin aku..."


Perlahan rasa takut itu menghilang lalu dia memeluk Sky dengan erat. "Kenapa tiba-tiba aku ingat kejadian itu dan merasa ketakutan seperti ini?"


"Karena kenangan itu sangat buruk buat kamu. Aku yang sudah membuat kamu seperti ini." Sky mencium dalam puncak kepala Shena. Andai saja waktu bisa berputar kembali, dia tidak ingin membuat luka yang membuat Shena trauma sampai seperti ini. "Kalau kamu takut, gak papa aku tidur diluar saja."


Shena menggeleng pelan. "Aku harus bisa menghilangkan rasa trauma ini."


"Pelan-pelan saja. Aku akan bantu kamu." Sky melepas pelukannya lalu merangkum kedua pipi Shena. "Maafin aku...."


"Kak Sky, jangan minta maaf lagi."


"Tapi ini semua salahku."


"Kak Sky sudah menebus semua kesalahan. Aku juga sudah memaafkan Kak Sky tapi entah kenapa rasa takut dan trauma itu tiba-tiba muncul. Mungkin karena Kak Sky menutup pintu dan mengunci itu sama persis dengan kejadian satu tahun yang lalu."


Sky membantu Shena berdiri dan menuntunnya duduk di tepi ranjang. "Kamu minum dulu. Lain kali kamu saja yang menutup dan mengunci pintunya agar kamu gak merasa deja vu." Sky mengambil sebotol air minum lalu membantu Shena minum.


Setelah itu, Shena merebahkan dirinya di atas ranjang. "Kak Sky kalau mau tidur, tidur aja di sini."


"Aku mau mandi dulu." Sky mengambil baju gantinya di tas lalu masuk ke dalam kamar mandi.


Shena hanya menatap langit-langit kamarnya. "Harusnya malam ini menjadi malam yang indah sama Kak Sky. Kenapa trauma ini muncul lagi?" Shena akhirnya memiringkan dirinya dan memeluk guling.


Hingga Sky keluar dari kamar mandi dan menyisir rambutnya, Shena masih saja berkutat dengan lamunannya.


"Shena, kamu cepat tidur, ini sudah malam. Kamu besok ke sekolah?" Sky duduk di sebelah Shena dan mengusap rambut Shena.


Seketika Shena mendongak dan menatap Sky. "Aku besok libur, lusa baru ke sekolah. Kenapa Kak Sky duduk saja, tidur sini gak papa."


Perlahan Sky merebahkan dirinya di samping Shena. Sebenarnya dia juga tak kalah grogi dengan Shena, ditambah setelah mengetahui jika Shena masih trauma dengannya, dia harus membatasi dirinya.


Perlahan tangan Sky memeluk pinggang Shena. Meskipun tidak terlalu erat tapi sudah membuat dada mereka semakin berdebar.


"Kak Sky maaf, aku belum bisa... Hmm, itu..."


"Iya, gak papa. Aku ngerti. Yang terpenting satu prosesi sakral sudah berhasil kita lewati."


"Aku juga masih bingung, kok bisa ya trauma aku tiba-tiba muncul gitu."


"Itu karena dulu aku keterlaluan sama kamu. Kamu tenang aja, rasa trauma itu pasti akan menghilang. Aku akan bantu kamu." Kemudian Sky mencium kening Shena. "Aku sayang kamu."


"Aku juga sayang sama Kak Sky." Kemudian Shena mengeratkan pelukannya.


Sky menarik napas panjang lalu membuangnya. Tentu saja, dia akan bersabar menunggu rasa trauma Shena hilang. Meskipun sekarang pikirannya sudah travelling jauh hanya karena mendapat pelukan dari Shena yang sangat erat itu.


Tiba-tiba saja Shena melepas pelukannya dan sedikit menggeser dirinya.


"Kenapa?"


"Hmm, itu..."


Shena terdiam sambil menautkan alisnya. Dia sudah menjadi istri sah Sky, harusnya dia melakukannya bersama Sky malam itu tapi trauma itu merusak semuanya.


"Kak Sky maaf, aku sebagai seorang istri harusnya..."


"Udah, gak papa." Lagi-lagi Sky memotong perkataan Shena. "Masih ada banyak waktu." Kemudian Sky mengusap rambut Shena sambil menatapnya.


"Hmm Kak, apa melakukan hubungan itu rasanya sakit seperti dulu?"


Sky menggelengkan kepalanya. "Asal pemanasannya tepat, gak akan sakit. Aku dulu terlalu kasar, kamu kan baru pertama makanya sakit."


"Kalau Kak Sky sendiri, apa yang Kak Sky rasakan?"


Sky tersenyum kecil. "Kamu mau tahu apa yang aku rasakan setelah kejadian itu? Tentu saja aku merasa bersalah, tapi kamu juga membuat aku terbayang-bayang setiap malam."


"Kak Sky bayangin aku?"


"Iya."


Seketika Shena mendekap dirinya sendiri. "Aku jadi ajang fantasi Kak Sky?"


"Iya." Sky mengacak rambut Shena. "Gak papa, sekarang kan udah sah. Itulah curangnya seorang laki-laki, kalau perempuan merasakan sakitnya, laki-laki tetap merasakan enaknya." Ya, rasa itu masih saja terbayang sampai sekarang, bahkan rasanya ingin sekali mengulanginya lagi. Satu tangan Sky kini berpindah ke pipi Shena dan mengusapnya. "Nanti kamu ingin langsung punya anak atau menundanya?"


"Hmm, aku masih belum kepikiran."


"Jujur, aku tidak ingin menunda. Agar aku bisa menebus kesalahanku yang telah menyuruh kamu menggugurkan calon anak kita. Aku benar-benar menyesal telah menjadi pembunuh. Semoga saja aku cepat diberikan kesempatan untuk menebusnya."


Shena kembali memeluk Sky. "Tapi aku belum bisa jadi Ibu."


"Ada aku. Nanti kita sama-sama belajar."


Shena semakin tertawa. "Buatnya aja belum, tapi udah berangan-angan."


"Ya nanti pasti kita buat. Aku gak akan membuat kamu merasakan sakit lagi tapi aku akan membuat kamu merasakan kenikmatan seperti yang aku rasakan." Sky semakin mendekatkan dirinya lalu mencium bibir Shena.


Shena hanya memejamkan matanya merasakan bibir Sky yang bermain di bibirnya. Indera pengecap itu saling bertemu dan saling me lu mat. Kali ini bukan hanya ciuman sesaat seperti biasanya tapi Sky mengeksplor bibir Shena hingga suara decapan itu memenuhi kamar Shena.


Satu tangan Sky mengusap punggung Shena, perlahan tangan itu menyusup masuk ke dalam piyama Shena dan menelusuri kulit punggung Shena yang halus itu. Sky semakin menghimpit tubuh Shena dia mendorong tubuh Shena lalu menindihnya.


Seketika Shena menahan Sky. "Kak Sky..." Meski tak bisa dipungkiri, sentuhan Sky sudah membuatnya melambung tinggi.


Sky hanya menatap Shena. Gairahnya sudah sangat terpancing tapi dia harus bisa menahannya sampai Shena bisa menerima kehadirannya.


"Kak, aku..."


"Iya..." Sky mengecup singkat bibir Shena lalu turun dari tubuh Shena dan duduk di tepi ranjang. "Sebentar ya..." Sky berdiri dan berjalan masuk ke dalam kamar mandi.


Shena menatap pintu kamar mandi yang sekarang tertutup rapat. Kemudian dia menarik selimutnya hingga menutupi tubuhnya. "Gimana caranya agat trauma ini hilang? Ayo Shena, gak boleh takut, Kak Sky gak mungkin memaksa seperti dulu."


💞💞💞


Sabar ya... 🤭🤭🤭