
"Ciee, yang baru jaga Kak Gita semalaman." Sampai di rumah, Arnav justru disambut Shena yang menggodanya.
"Apaan sih, jangan ganggu dulu aku ngantuk." Arnav masuk ke dalam kamarnya lalu menghempaskan tubuhnya di atas ranjang.
"Gimana? Udah balikan?" tanya Shena. Dia duduk di tepi ranjang Arnav.
"Gita masih sakit, gak mungkin bahas soal hubungan."
"Tapi Kak Arnav udah bilang kan kalau masih cinta sama Kak Gita?"
"Udah. Aduh, aku mau tidur tiga jam aja, nanti mau balik ke rumah sakit mau nungguin Gita operasi."
"Gitu dong, biar gak ada yang dipendam lagi. Aku do'ain moga operasinya lancar."
Arnav hanya mengaminkan dalam hati karena dia sangat mengantuk.
Kemudian Shena keluar dari kamar Arnav dan bersiap untuk berangkat ke sekolah.
...***...
Akhirnya operasi Gita selesai dan berjalan dengan lancar. Selama operasi berlangsung Arnav menunggu Gita di depan ruangan operasi dengan kedua orang tua Gita. Sampai Gita sadar dari obat bius, Arnav masih setia menunggunya.
Gita hanya tersenyum lemah menatap Arnav yang berada di dekatnya.
Arnav juga menatap Gita yang kini membuka kedua matanya. Rasanya sangat lega melihat Gita yang telah berhasil melalui operasi itu.
"Syukurlah kamu sudah sadar. Sebentar lagi aku mau ke kampus, ada kelas siang."
Gita menganggukkan kepalanya. "Makasih sudah menemani aku."
"Iya, lekas sembuh ya. Nanti setelah kuliah aku ke sini lagi sama Shena."
Gita mengangguk lagi.
Setelah mengusap puncak kepala Gita sesaat, Arnav keluar dari ruangan Gita. Dia kini bisa menjalani harinya dengan tenang.
Setelah menaiki motornya, Arnav melajukan motornya menuju kampus. Saat berhenti di lampu merah, dia melihat mobil Ayahnya. Dia membuka kaca helmnya untuk menyapa Ayahnya tapi terhenti ketika melihat seorang wanita di dalam mobil Ayahnya.
"Ayah sama siapa?" Arnav kembali menutup kaca helmnya lalu mengikuti mobil Ayahnya yang mulai melaju.
Dia menghentikan motornya saat mobil Ayahnya berhenti di depan sebuah restoran. Dia melihat Ayahnya yang berbicara akrab dengan wanita itu sambil masuk ke dalam restoran.
"Mau aku ikuti tapi jam udah mepet banget." Akhirnya Arnav kembali melajukan motornya menuju kampus. Ingin dia menepis pikiran buruknya pada Ayahnya tapi sesuatu yang buruk itu bisa saja terjadi karena saat ini memang marak drama perselingkuhan di dalam rumah tangga, dia tidak mau jika hal itu terjadi di dalam keluarganya.
...***...
Shena menghentikan langkahnya saat melihat Arnav dan Sky sedang menunggunya di depan gerbang sekolahnya. Dia memang sengaja tidak membawa motor dan membuat janji dengan Sky untuk menjenguk Gita di rumah sakit tapi mengapa kakaknya juga datang menjemputnya.
"Kak Arnav kok ke sini juga sih. Ih, aku mau sama Kak Sky."
"Sini dulu, ikut aku." Arnav menarik tangan Shena agar mendekat.
"Shena kamu mau ikut kakak kamu aja? Gak papa," tanya Sky.
"Nggak, aku sama Kak Sky lah. Udah aku bela-belain gak bawa motor, masa iya ujung-ujungnya dibonceng Kak Arnav."
"Sebentar ini ada masalah internal."
"Masalah internal?" Sky membiarkan Shena bicara dengan Kakaknya.
"Aku tadi lihat Ayah ke restoran sama seorang wanita dan mereka terlihat akrab. Keluar dari mobil aja wanita itu tertawa sambil sesekali memukul lengan Ayah," cerita Arnav pada Shena.
"Kak Arnav, Ayah gak mungkin kayak gitu."
"Iya, aku juga gak mau mikir terlalu jauh tapi aku curiga."
"Aku akan ke kantor Ayah sekarang." Kemudian Shena naik ke boncengan Sky. "Kak Arnav ke rumah sakit saja. Biar aku sama Kak Sky. Nanti kalau masih ada waktu aku ke rumah sakit."
"Tapi Shena..."
"Kak Arnav aku harus selidiki ini. Tenang, aku nanti sembunyi-sembunyi." Kemudian dia berpegangan ke pinggang Sky. "Kak Sky jalan!"
"Iya."
Kemudian Sky melajukan motornya. "Shena, mungkin saja itu hanya rekan bisnis Ayah kamu. Ayah kamu terlihat setia, kayaknya gak mungkin selingkuh," kata Sky berusaha menenangkan Shena.
"Aku harus buktiin sendiri, Kak. Kak Sky tenang aja, nanti tunggu di depan pos satpam aja biar Kak Sky gak terlibat masalah ini."
"Gak papa kamu masuk sendiri?"
"Itu kan kantor Ayah aku, gak ada yang berani ganggu aku."
"Iya, iya. Kalau ada apa-apa langsung WA ya."
"Iya."
Beberapa saat kemudian Sky menghentikan motornya di pinggir jalan tepatnya di dekat gerbang masuk ke perusahaan Ayah Shena.
Shena turun dari motor Sky dan melepas helmnya. "Tunggu sini ya."
"Kalau ada apa-apa langsung WA."
"Iya."
Kemudian Shena masuk ke dalam perusahaan itu dengan mudah. Mulai dari resepsionis yang berada di depan sudah mengenal Shena dan mengantarnya menuju lift. "Nona Shena, Pak Arsen sedang meeting dengan staf."
"Iya, biar saya tunggu di ruangan Ayah, tapi jangan bilang kalau saya ke sini."
"Baik."
Kemudian Shena masuk ke dalam lift. Dia menuju lantai lima.l, dimana ruangan Ayahnya berada. Setelah sampai di lantai lima, dia keluar dari lift dan berjalan menuju ruangan Ayahnya.
"Untung Ayah masih meeting." Shena masuk ke dalam ruangan Ayahnya yang tidak ada siapa-siapa itu, lalu dia bersembunyi di bawah meja. "Sembunyi dulu di sini, siapa tahu ada info penting yang bisa aku dapat."
Setelah lima menit bersembunyi, pintu ruangan itu terbuka. Terlihat kaki Ayahnya masuk yang diikuti oleh sepasang kaki yang mulus dan memakai heels.
"Reva, kamu pelajari kontrak kerjasama kita dengan Pak Robert."
"Iya, Pak."
Shena sedikit menahan napasnya saat melihat kaki Ayahnya sangat dekat dengannya.
"Ini berkas-berkasnya. Poin-poin penting yang harus kamu presentasikan ini." Arsen menunjukkan poin-poin penting di dalam berkasnya pada Reva sambil duduk di kursi kebesarannya.
Shena melihat kaki Reva yang berdiri di dekat Ayahnya. Apa memang mendengar penjelasan harus sedekat itu. Rasanya dia ingn sekali keluar dan melihat seperti apa wajah wanita itu.
"Saya jadi grogi, ini pertama kalinya saya persentasi proyek penting."
"Tidak apa-apa, meskipun kamu baru bekerja beberapa minggu tapi saya yakin kamu bisa handle."
Kayaknya sekretaris baru Ayah, tapi sepertinya mereka sangat dekat.
"Pak Arsen nanti malam ada acara? Saya setuju dengan tawaran Pak Arsen tadi siang."
"Bisa, saya free."
Shena semakin berpikir yang tidak-tidak mendengar percakapan itu. Ternyata benar apa yang dikatakan kakaknya.
"Ya sudah, kamu kembali ke ruangan kamu."
Shena terus mengamati pergerakan kaki Reva. Sepertinya Reva sedang mengemasi berkas yang ada di atas meja. Lalu entah bagaimana ceritanya Reva bisa terjatuh di pangkuan Ayahnya. Entah disengaja atau tidak, kesabaran Shena sudah habis. Dia keluar dari bawah meja dan mengejutkan Ayahnya.
"Apa yang Ayah lakukan?!"
💞💞💞
Like dan komen ya...
Percaya gak kalau Arsen selingkuh? Kalau othor sih gak percaya.. 😅