
"Sayang, kok belum tidur?" tanya Sky saat dia melihat Shena masih saja belum memejamkan matanya. Padahal mereka sudah terbaring di atas ranjang sejak satu jam yang lalu.
"Gak bisa tidur." Shena kini mendongak menatap Sky.
"Mikirin apa?"
"Hmm, Kak Sky sejak aku hamil kenapa gak pernah sentuh?"
Sky tersenyum dan mengusap rambut Shena. "Kamu gak dengar penjelasan Dokter?"
Shena menggelengkan kepalanya. "Aku cuma fokus sama USG."
"Karena kehamilan kembar itu sangat beresiko. Jadi di bulan pertama ini kita harus tahan dulu agar kandungan kamu benar-benar kuat. Kamu lagi ingin? Atau lagi ngidam?"
"Ih, nggak. Cuma tanya aja." Kemudian Shena memeluk tubuh Sky.
"Pasti kamu lagi mikirin Vicky."
Shena tersenyum kecil. "Iya. Sekarang ngapain ya Kak Vicky?"
"Ya pasti malam kedua. Kan udah lama mereka gak bertemu."
"Akhirnya Kak Vicky menemukan kebahagiaannya. Aku sempat merasa bersalah karena dulu gak bisa balas perasaan Kak Vicky."
Sky mengusap punggung Shena sambil menatapnya. "Justru perasaan Vicky yang salah. Kan kalian masih saudara."
"Iya sih. Bisa ya ada perasaan ke saudara gitu."
"Ya mungkin karena Vicky dulu merasa nyaman sama kamu. Tapi sebenarnya perasaan itu bukan cinta hanya rasa sayang yang datang karena terbiasa ."
Shena menguap panjang lalu memejamkan matanya. "Ngantuk."
"Sekarang kamu tidur. Kalau gerah, gak aku peluk."
"Peluk aja, soalnya malam ini lumayan dingin."
"Ya udah. Met tidur ya." Sky sedikit mengeratkan pelukannya. Dia usap punggung Shena agar Shena segera terlelap dalam tidurnya.
...***...
Pagi hari itu terasa berbeda bagi sepasang pengantin baru ini. Vicky terbangun terlebih dahulu tapi dia tak juga beranjak dari tempat tidur. Dia justru menatap paras cantik istrinya yang masih tertidur dengan nyenyak di sampingnya. Kemudian dia telusuri hidung mancung itu dengan jemarinya.
Ternyata seperti ini rasanya pengantin baru. Aku benar-benar tidak mengira akan merasakannya secepat ini.
Beberapa saat kemudian Nike mengerjapkan kedua matanya merasakan jemari Vicky di hidungnya. "Udah bangun?"
"Pagi sayang."
Nike tersipu malu mendengar panggilan sayang dari Vicky. "Sayang?"
"Iya, kenapa? Gak boleh kalau aku panggil sayang." Satu tangan Vicky menyingkirkan rambut yang ada di kening Nike.
"Malu."
"Malu? Kalau di kampus kita tetap dosen dan mahasiswa. Kalau di rumah, baru kita suami istri." Vicky meraih tubuh Nike dan memeluknya. "Aku ada kelas siang. Hari ini aku bantu berkemas."
"Iya, kebetulan hari ini aku juga gak ada kelas. Tapi bawaannya masih mager." Nike semakin menempelkan wajahnya di dada Vicky. Rasanya dia ingin terus dimanja oleh Vicky.
"Ya udah, kamu lanjut tidur saja. Biar aku yang beresin barang kamu."
"Memang ini jam berapa?"
"Jam 5."
"Tiga puluh menit lagi ya bangun. Masih nyaman gini."
Vicky tersenyum lalu mencium rambut Nike. "Jadi gini enaknya nikah. Untung aku cepat merasakannya."
Nike juga ikut tersenyum. "Aku juga baru tahu enaknya punya suami berondong."
"Iya, umur aku di KUA aja masih kurang. Untung Mama bisa urus semua dengan mudah."
"Salah satu keuntungan punya Mama aparatur sipil nih."
Nike masih saja menatap Vicky. Dia masih belum mau Vicky melepas pelukannya.
"Mau apa?" satu kecupan mendarat di bibir Nike.
Nike hanya menggeleng pelan.
Tapi Vicky sepertinya mengerti dengan tatapan Nike ini. "Mau lagi?" bisiknya.
Nike hanya tersenyum malu. Dia juga tidak mengerti mengapa rasanya sangat kecanduan dengan Vicky, apa memang keinginannya atau keinginan anak yang berada dalam perut?
"Oke, dengan senang hati..." Vicky kembali menarik selimut hingga menutupi tubuh mereka berdua. Menciptakan momen hangat di pagi hari yang dingin itu.
...***...
Siang hari itu di kantin kampus, Sky dan Shena sedang duduk berdua sambil memakan bakso karena Shena tiba-tiba ingin makan bakso.
"Kak Arnav, gabung sini," ajak Shena saat melihat Arnav dan Gita baru saja datang.
Mereka berdua akhirnya duduk di dekat Shena sambil membawa dua minuman dingin.
"Shena, di rumah mangganya belum ada yang matang lagi jadi belum bisa bawain lagi," kata Gita.
"Nggak papa Kak, nanti biar Kak Sky beli saja. Aku udah gak terlalu mual."
Gita tersenyum menatap Shena. "Aku sendiri jadi gak sabar loh mau lihat si kembar nanti. Cepat gede yang dalam perut."
"Kak Arnav, kode nih!" kata Sky pada Arnav.
Arnav hanya tertawa. "Aku santai dulu. Selesaiin kuliah dulu, lalu belajar di perusahaan Papa. Nanti kalau memang Gita ingin, biar aku culik si kembar kalau udah lahir."
"Ih, Kak Arnav, enak aja, buat sendiri." Shena mengambil minum Kakaknya dan menghabiskannya.
"Sayang, kok ambil minuman Kak Arnav. Mau beli lagi?"
"Aku mau punya Kak Arnav."
Arnav hanya tersenyum sambil mengacak rambut Shena. "Dulu aku yang habisin minuman kamu, sekarang malah kebalik. Tambah gendut aja sekarang."
"Ar, orang hamil ya pasti gemuk. Itu berarti sehat."
"Gak papa Kak Gita, udah biasa kalau dikatain Kak Arnav."
Beberapa saat kemudian terlihat Vicky berjalan mendekati mereka. Wajahnya terlihat sangat segar dan bahagia.
"Waduh, pengantin baru kirain gak kuliah. Seger banget."
Vicky duduk di dekat Sky sambil menjotos lengannya. "Baru mulai semester satu, masak iya mau izin."
"Gimana semalam? Gak nyangka dari gue dan Rey, lo yang paling waras ternyata lo yang paling berani."
"Semalam jelas malam kedua." Sky menepuk bahu Vicky. "Jangan terlalu sering, masih hamil muda."
Vicky hanya tertawa. Baru semalam menikah saja sudah dua kali. Apalagi Nike yang meminta, jelas dia tidak akan menolaknya.
"Kak Sky, masih ada pasangan belum halal. Jangan diiming-iming," kata Shena.
"Tenang, kalau gue tahan godaan."
Mereka semua tertawa lalu melanjutkan obrolan unfaedah mereka.
Beberapa saat kemudian, Ferdi menghampiri Sky dengan tergesa. "Sky, gawat!"
"Ada apa?"
"Gue dengar Rafka udah dibebaskan dari penjara!"
Seketika Sky berdiri dan mengepalkan tangannya. "Darimana lo tahu? Dia mendapat hukuman 10 tahun. Itu aja menurut gue hukumannya terlalu kecil, mana bisa masih satu tahun sudah bebas."
💞💞💞
Like dan komen ya...