Love From The Sky

Love From The Sky
BAB 102



Hari-hari pun berlalu dengan cepat, usia kandungan Shena kini sudah jalan sembilan bulan. Tinggal satu minggu lagi jadwal sesar akan dilakukan. Dia juga sudah mempersiapkan segala keperluan untuk buah hatinya.


"Kak Sky pulangnya jangan malam-malam ya," kata Shena pada Sky yang akan berangkat ke klub renangnya sore hari itu.


"Iya, aku cuma mau lihat anak-anak latihan karena akan ada pertandingan. Vicky juga sedang jadi suami siaga di rumah jadi tidak bisa ikut latihan dan bertanding untuk sementara waktu." Kemudian Sky mencium kedua pipi Shena lalu mencium perut Shena. "Berat banget kelihatannya. Kamu duduk yang anteng saja. Kalau perlu apa-apa bilang sama Bibi. Jangan ambil sendiri."


Shena hanya mengangguk.


"Biar Bibi temani kamu di sini. Kebetulan Arion juga akan ke sini mau pinjam buku."


"Iya, Kak. Kak Sky juga hati-hati ya."


Kemudian Sky keluar dari rumah dan mengendarai mobilnya menuju klub renang miliknya.


Setelah sampai di klub renang, dia mengawasi latihan sesaat lalu mengevaluasinya dan memberi kiat-kiat khusus untuk menambah kecepatan dan ketepatan mereka.


Beberapa saat kemudian ponsel Sky berbunyi, dia segera mengangkat panggilan dari Ferdi itu.


"Iya, ada apa Fer? Lo lihat Rafka? Iya, gue ke sana sekarang." Sky segera berjalan menuju tempat parkir. Dia mengendarai mobilnya dan segera menuju tempat yang dimaksud Ferdi.


"Kali ini gue harus bisa menangkap Rafka. Sudah delapan bulan dia berkeliaran diluar." Sky semakin menambah laju mobilnya lalu dia menghentikan mobilnya di tempat balapan. Sudah ada Arnav dan Ferdi yang berada di tempat itu dan beberapa anak langit serta phoenix.


"Dimana dia?" tanya Sky setelah turun dari mobil.


"Anak-anak tadi lihat dia ikut balapan. Masih belum sampai."


"Gue harus segera pastiin, sebelum dia kabur lagi." Sky mengambil helm Arnav lalu memakainya. "Kak Arnav, gue pinjam motor!"


"Biar gue saja yang kejar."


Sky menggelengkan kepalanya. "Kali ini gue gak akan lepasin dia." Sky memakai helm dan menaiki motornya. Dia segera melajukan motor itu dengan kencang.


"Fer, kejar Sky!"


"Iya." Ferdi dan teman lainnya segera mengejar Sky.


Sky membuka kaca helmnya dan mencari keberadaan Rafka. Kali ini dia harus menemukannya dan membawanya lagi ke penjara.


"Iya, itu Rafka!" Sky semakin menambah laju motornya. Dia kini hampir menyalip Rafka. "Rafka lo berhenti sekarang! Lo gak akan lolos dari gue!"


Rafka menoleh Sky sesaat. Dia tidak menghentikan motornya dan justru semakin menambah laju motornya.


Sky tidak akan menyerah mengejar Rafka. "Fer, lo cegat di kiri!" suruh Sky pada Ferdi yang berada di dekatnya.


Ferdi ke sisi kiri dan juga teman lainnya berpencar mengepung Rafka.


Rafka tidak memiliki celah, akhirnya dia menabrak motor yang menghalanginya dengan keras hingga terpental.


...***...


"Kak Shena kenapa gelisah?" tanya Arion saat mengambil buku di kamar Sky. Dia duduk di kamar Sky sesaat karena melihat Shena yang nampak gelisah, bahkan terlihat pelipisnya berkeringat.


"Tiba-tiba saja perasaanku gak enak. Perut aku rasanya juga gak enak banget. Kak Sky sedari tadi aku telepon juga gak diangkat."


"Sebentar coba aku hubungi dulu." Arion mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Sky tapi sampai beberapa kali panggilan tak diangkat.


"Kak Sky biasanya kemana? Kamu tahu? Tadi memang ke klub renang, tapi biasanya gak sampai lama gini." tanya Shena. Dia semakin tidak tenang dan ingin segera memastikan kondisi Sky.


"Sebentar aku hubungi Arnav atau Ferdi dulu." Arion kini menghubungi Arnav dan beberapa saat kemudian Arnav mengangkatnya.


"Hallo, tahu Kak Sky ada dimana?"


"Sky ada di sini, dia sedang kejar Rafka."


Mendengar hal itu seketika Shena duduk. "Kak Sky dimana? Kak Sky gak balapan kan?"


Arion mendengar pembicaraan Arnav dan teman lainnya lewat ponsel. Mereka terdengar panik.


"Kecelakaan?"


"Siapa yang kecelakaan?" Seketika Shena berdiri. "Rion, siapa yang kecelakaan?"


"Aku juga gak tahu. Kamu tenang dulu." Arion berusaha menenangkan Shena karena panggilannya justru terputus.


"Rion, gimana kalau Kak Sky kecelakaan?" Shena semakin panik. Dia sangat takut jika Sky terluka lagi seperti dulu. "Bahunya baru saja sembuh total, aku gak mau Kak Sky kenapa-napa lagi." Shena tidak bisa mengontrol emosinya. Dia mengalami panik yang berlebih.


"Kak Shena tenang dulu ya. Barusan teleponnya gak jelas." Arion berusaha menghubungi Arnav lagi tapi tidak diangkat.


"Aduh!" Shena memegang perutnya yang tiba-tiba terasa kencang dan mulas.


"Kak Shena kenapa?" Arion semakin panik saat melihat Shena yang meringis kesakitan.


"Perut aku mulas."


"Kak Shena duduk dulu, jangan panik." Saat Arion akan membantu Shena duduk, tiba-tiba ada air yang mengalir dari kaki Shena. "Kak Shena?"


"Kayaknya ketubannya pecah. Aduh, gimana ini?"


"Kak Shena duduk dulu, kita ke rumah sakit. Biar aku cari mobil." Arion memanggil Bibi agat mempersiapkan perlengkapan Shena yang akan dibawa ke rumah sakit. Meskipun dia panik, tapi dia harus tetap tenang dan berpikir jernih.


"Kak Sky, ayo angkat." Arion berulang kali menghubungi Sky tapi Sky tidak mengangkat panggilannya. Akhirnya dia menghubungi kedua orang tuanya.


"Hallo, Ma. Aku di rumah Kak Shena, Kak Shena mulas dan ketubannya udah pecah tapi Kak Sky gak ada di rumah. Aku hubungi juga gak bisa. Iya, ini aku cari mobil. Mama langsung ke rumah sakit ya."


Untunglah Arion segera mendapatkan mobil. Dia segera membawa Shena masuk ke dalam mobil dan mobil itu segera melaju menuju rumah sakit.


"Sakit." Shena terus meringis kesakitan dengan tangan yang mencengkeram lengan Arion.


"Sabar, Kak. Aku juga terus menghubungi Kak Sky." Arion semakin panik karena Shena semakin terlihat kesakitan.


Beberapa saat kemudian, mobil itu berhenti di depan IGD. Arion segera memanggil suster agar mendekatkan brankar dorong untuk Shena. Setelah itu Shena segera dibawa menuju IGD tepat saat Sky datang yang sedang mendorong brankar Ferdi.


"Shena!" Sky segera mendekat dan memastikan kondisi Shena.


"Kak Sky, sedari tadi aku hubungi kenapa gak diangkat!"


"Hp aku ada di mobil. Shena kenapa?" Sky mengusap rambut Shena yang sudah basah karena keringat.


"Kak Sky kenapa jaketnya banyak darah? Kak Sky gak papa kan?" Shena justru bertanya tentang kondisi Shena. Dia tidak peduli dengan rasa sakitnya. "Aku khawatir banget sama Kak Sky."


"Aku gak papa, Ferdi yang jatuh. Maaf udah buat kamu khawatir. Kamu kenapa? Perut kamu sakit?"


Shena hanya menganggukkan kepalanya.


"Ketubannya udah pecah, Kak."


"Astaga, maafin aku." Sky terus menggenggam tangan Shena saat Dokter melakukan pemeriksaan dalam.


"Sudah ada pembukaan dan bisa dilakukan persalinan secara normal."


"Tapi anak kami kembar, Dok." Mendengar hal itu Sky semakin khawatir. Dia takut terjadi apa-apa pada Shena.


💞💞💞


Like dan komen ya...