
Pagi hari itu, Sky akhirnya membuka kedua matanya. Dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar rawat inap yang dia tempati. Pergelangan tangannya sudah terinfus dan kedua orang tuanya yang sedang tertidur di sofa.
"Aku ngerepotin Mama dan Papa lagi." Sky memijat pelipisnya yang terasa sangat pusing. Dia berusaha menggerakkan badannya tapi perutnya terasa sangat sakit. Hingga akhirnya dia hanya terdiam sambil menatap langit-langit kamar rawatnya.
"Mulai hari ini aku gak akan lagi menemui Shena. Mungkin dengan seperti ini, Shena tidak akan merasa terganggu lagi," gumam Sky.
Beberapa saat kemudian, Ida terbangun dan tersenyum menatap Sky yang sudah membuka kedua matanya. "Syukurlah, kamu sudah sadar Sky." Dia berdiri dan menghampiri Sky.
"Ma, maaf ya. Aku merepotkan Mama lagi."
"Jangan bilang seperti itu." Ida menyugar rambut putranya lalu duduk di dekat brankar Sky. "Mama tidak akan merasa repot saat merawat kamu."
"Sky, kamu jangan minum alkohol lagi," kata Alex yang kini juga berada di dekat Sky. "Lambung kamu kambuh lagi setelah kamu minum alkohol."
Sky menganggukkan kepalanya. "Iya, semalam yang terakhir kalinya. Aku gak akan minum lagi."
"Kemarin Papa tahu kamu membuat kejutan pesta ulang tahun buat Shena, Pak Arsen juga minta maaf karena Shena tidak mau menerima kejutan dari kamu."
Sky hanya menganggukkan kepalanya.
"Papa mengerti kamu pasti sangat kecewa makanya kamu sampai mabuk."
"Ma, Pa, aku mau kuliah diluar negeri ya?" kata Sky meminta izin.
"Sky, kamu mau meninggalkan Mama. Kamu anak Mama satu-satunya. Jangan pergi jauh-jauh," kata Ida. Dia tidak ingin Sky pergi jauh darinya.
"Ma, nanti setelah aku lulus pasti akan pulang. Aku ingin menjadi lelaki yang lebih baik dari sekarang."
"Ya sudah kalau itu mau kamu, yang penting kamu memang benar-benar kuliah di sana," kata Ida yang akhirnya memberi izin pada Sky.
Sky menganggukkan kepalanya.
Tinggal dua bulan lagi sebelum ujian, aku harus fokus agar bisa diterima di kampus luar negeri.
...***...
"Shena, udah siang. Bangun!" teriak Naya dari luar kamar putrinya.
Di dalam kamar, Shena sama sekali tak mendengar teriakan ibunya bahkan dia kini masih tidur di atas meja belajarnya.
Kemudian Naya masuk ke dalam kamar putrinya. Dia menggelengkan kepalanya melihat kamar Shena yang sangat berantakan.
"Astaga, Shena semalam gak tidur karena baca semua surat dari Sky." Kemudian dia mendekati Shena dan melihat buku diary yang sudah terisolasi. "Tuh kan, pasti juga luluh. Gini harus ada drama besar dulu."
Naya mengusap rambut putrinya dan membangunkannya. "Shena, bangun udah siang. Kamu sekolah gak?"
Shena hanya bergeliat. Kedua matanya sangat enggan untuk terbuka.
"Shena, kamu sekolah gak?" tanya Naya lagi.
"Iya Ibu, sekolah." Shena akhirnya menegakkan dirinya dan mengucek matanya lalu dia berdiri dan berjalan ke kamar mandi.
Naya hanya menggelengkan kepalanya lalu membantu Shena membereskan kamarnya.
Sampai Shena selesai mandi, Ibunya masih ada di dalam kamar. "Ibu, nanti Shena bereskan sendiri."
"Akhirnya kamu baca semua surat dari Sky." Naya tersenyum dan memeluk putrinya. "Kamu sudah memaafkan Sky?"
"Gak tahu, Ibu."
"Shena, kalau mau memaafkan itu gak usah gengsi. Tapi semalam Ayah dapat kabar buruk dari Papanya Sky."
Seketika Shena mengernyitkan dahinya. "Apa?"
"Sky kecelakaan, kakinya keseleo dan sakit lambungnya juga kambuh lagi karena dia semalam sempat mabuk berat. Ya, Ibu paham sih kalau Sky pasti sangat kecewa dengan penolakan kamu semalam."
Shena hanya terdiam. Dia teringat lagi dengan raut wajah kecewa Sky semalam.
"Ya sudah, kamu siap-siap ke sekolah lalu sarapan. Agak cepat, ini sudah siang nanti Kak Arnav ngomel-ngomel."
Setelah memeriksa buku pelajarannya hari itu, dia keluar dari kamar sambil membawa tasnya.
"Udah siang. Cepat sarapan," kata Arnav. Dia sudah menghabiskan sarapannya lalu menunggu adiknya.
"Iya. Nanti kalau aku udah punya motor sendiri, aku mau berangkat sendiri."
"Baru juga rencana, gak jadi dibeliin tuh sama Ayah."
"Ih, Ayah jadi kan?" tanya Shena.
"Iya jadi. Udah kamu sarapan dulu. Udah siang." kata Arsen.
Kemudian Shena cepat-cepat menghabiskan sarapannya. Setelah selesai, mereka berdua berpamitan pada kedua orang tuanya. Lalu mereka keluar dari rumah.
"Shena, video kamu semalam tersebar di grup. Mereka semua respect sama Sky," kata Arnav. Kemudian dia menaiki motornya.
"Terus? Aku yang disalahin lagi?" tanya Shena.
"Ya nggak. Aku cuma kasih tahu kamu biar kamu gak kaget." Arnav kini mulai melajukan motornya menuju sekolah
Shena hanya menganggukkan kepalanya.
Beberapa saat kemudian Arnav menghentikan motornya di tempat parkir sekolah. Shena turun dari motor Arnav dan langsung digandeng oleh Mila.
"Shena." Mila menarik tangan Shena agar cepat berjalan menuju kelas. "Lo udah dengar kabar kalau Kak Sky masuk rumah sakit. Gue dikasih tahu sama Kak Ferdi."
"Iya, gue tahu."
"Ya ampun Shena. Kasihan. Kenapa lo gak maafin aja sih. Kelihatan banget kok kalau Kak Sky itu sudah sangat menyesal."
"Iya, gue bingung, Mil." Shena kini duduk di bangkunya setelah masuk ke dalam kelas. "Setelah apa yang Sky lakukan sama gue, kadang gue masih belum bisa terima. Iya, gue ngerti. Semalam gue memang udah keterlaluan. Semalam gue juga maraton baca surat dari Sky yang berjumlah tujuh puluh itu."
"What? Tujuh puluh surat dan baru lo baca."
Shena menganggukkan kepalanya. "Gue akui, dia memang sweet banget. Ya, gue agak nyesel kenapa semalam gue gak nahan ego gue hingga dia mabuk lalu kecelakaan. Ditambah luka di lambungnya kambuh lagi karena kena alkohol."
"Lo terima aja permintaan maaf dari dia. Jenguk gih ke rumah sakit."
Shena menautkan alisnya. "Jenguk ke rumah sakit. Nggak!"
"Jenguk dong!" sahut teman lainnya.
"Ayo, jenguk. Gue tunggu vt selanjutnya."
Beberapa temannya justru mendukung Shena untuk menjenguk Sky.
"Ini bukan konten. Jangan divideoin. Gue gak mau cerita ini viral. Gue malu terkenal dengan jalur seperti ini."
"Oke, tapi kita masih menunggu kelanjutan cerita kalian berdua."
Shena menghela napas panjang lalu dia mengambil ponselnya. Dia tidak mungkin meminta antar Arnav maupun Vicky. Akhirnya dia mengirim pesan pada Reynan.
Kak Rey, nanti tolong antar aku jenguk Sky ya. Tapi jangan bilang sama Kak Arnav dan Kak Vicky. Nanti langsung ketemuan di rumah sakit saja. Aku sama Mila. Oiya, di rumah sakit mana?
Shena mengirim pesan itu pada Reynan. Dia tahu sifat Reynan, pasti Reynan mendukung keinginannya.
Beberapa saat kemudian Shena mendapat balasan dari Reynan dan dia pun tersenyum kecil.
.
💕💕💕
.
Like dan komen ya...