Love From The Sky

Love From The Sky
BAB 66



Waktu yang dinantikan itu akhirnya telah tiba. Shena yang sedari tadi hanya terdiam dengan dada yang berdebar tak karuan, hanya duduk di samping Sky yang sedang melakukan prosesi ijab qabul bersama Ayahnya.


Dia tidak mengira akan menikah secepat ini dengan pangeran impiannya sejak kecil yang telah menyelamatkan hidupnya. Iya, dia Sky. Sky yang mampu menjungkir balik perasaannya.


"Sah!"


Mulai detik itu, Shena dan Sky telah sah menjadi sepasang suami istri. Keluarga besar Shena dan Sky beserta sahabat dekat menjadi saksi perjalanan kisah cinta mereka.


Shena meraih tangan Sky dan mencium punggung tangannya dengan tersipu malu. Tapi tidak dengan Sky, dia merangkum kedua pipi Shena lalu mencium keningnya lalu menatapnya dengan penuh cinta.


"Bikin envy aja woy!" teriak Ferdi. Tepuk tangan dan sorakan juga memenuhi ruang tamu yang luas itu.


Pipi Shena semakin bersemu merah. Dia hanya menundukkan kepalanya.


"Shena selamat ya..." Naya kini memeluk tubuh putrinya. "Sekarang sudah sah menjadi seorang istri. Semoga kamu selalu bahagia bersama Sky."


"Ibu, makasih." Shena semakin mengeratkan pelukannya.


"Putri kecil Ayah, sudah dewasa dan menikah. Sekarang tanggung jawab Ayah sudah digantikan oleh Sky. Do'a terbaik Ayah untuk kamu dan Sky. Tapi ingat, jangan terlalu posesif agar rumah tangga kamu adem, kamu jangan curigaan terus." Arsen mencubit kecil hidung Shena.


"Iya, Ayah." Shena kini beralih memeluk Ayahnya.


"Shena, selamat ya." Arnav juga memeluk adik tersayangnya itu.


"Maaf ya, Kak. Aku mendahului Kak Arnav menikah."


"Gak papa." Kemudian Arnav menepuk bahu Sky. "Sky, jaga Shena baik-baik. Sampai kapanpun aku masih menjaga dan mengawasi Shena. Sedikit aja kamu sakiti Shena, kamu berhadapan sama aku."


Sky menganggukkan kepalanya. "Iya, Kak Arnav."


"Kak Arnav?" Shena justru tertawa mendengar Sky memanggil Arnav dengan sebutan Kak. Dulu mereka bermusuhan tapi sekarang mereka justru menjadi saudara ipar.


"Shena, kan benar Sky panggil kakak sama Arnav."


"Iya, lucu aja. Dulu berantem sekarang jadi saudara."


Mereka semua yang menghadiri bergantian memberi selamat pada Shena termasuk Mila yang sedari tadi terharu melihat semua prosesi yang dilakukan sahabatnya.


"Shena, selamat ya. Gak nyangka lo menikah secepat ini." Mila memeluk Shena sesaat lalu mengecup kedua pipi Shena. "Meskipun lo udah jadi ibu rumah tangga, lo tetap main sama gue."


"Iyalah, status ibu rumah tangga cuma di rumah aja," kata Shena dengan pelan.


"Cuma di rumah aja?" Sky meraih pinggang Shena agar dia mendekat.


Shena menggigit bibir bawahnya karena ternyata Sky mendengar ucapannya. "Iya, sembunyikan dulu ya status kita pas kuliah nanti."


"Gak janji."


"Ih, Kak Sky."


"Yaelah, lo udah dempet aja. Haduh, udah pengen bawa ke kamar aja kelihatannya."


Sky menjotos lengan Ferdi. "Lo datang juga ternyata. Thanks udah datang."


"Iyalah, sahabat gue selama bertahun-tahun masak iya gak datang di acara sakral seperti ini." Ferdi mendekatkan dirinya dan berbisik di telinga Sky. "Gas kan nanti malam."


"Lihat situasi dulu."


"Hilih, lo udah tahan selama berbulan-bulan, yakin masih mau nahan lagi?"


Sky mendorong Ferdi agar menjauh darinya. "Jangan mencemari otak gue."


"Kebalik woy, lo yang mencemari otak gue."


Shena dan Mila hanya tertawa melihat Ferdi. "Mil, lo betah sama Kak Ferdi?"


"Betah kok."


"Ya udah yuk, kita ke pelaminan sendiri yuk." Ferdi menggandeng tangan Mila dan mengajaknya bergabung dengan keluarga Shena.


"Mau makan dulu?" tanya Sky.


Shena hanya mengangguk kecil. Status baru itu membuatnya menjadi malu-malu.


"Nanti kamu mau tidur dimana? Di rumah aku atau di sini?" tanya Sky.


"Hmm, di rumah aku dulu ya, Kak."


"Oke, tapi sebelum berangkat ke Jepang Mama juga ingin kita menginap di rumah."


"Iya, dua hari lagi ya."


"Iya." Satu tangan Sky kini menggenggam tangan Shena. "Akhirnya aku bisa selalu bersama kamu."


Jauh dari tempat Shena, ada Vicky yang menatap sendu Shena. Dia berusaha untuk merelakannya tapi dadanya masih saja sesak.


"Ciee, yang ditinggal nikah sama Kak Shena."


Vicky hanya menatap kesal adiknya yang seringkali menggodanya itu. "Jangan bilang kayak gitu lagi. Awas ya, nanti aku laporin kalau kamu pacaran terus."


"Ih, aku udah kelas sepuluh." Verli menjulurkan lidah pada kakaknya lalu bergabung dengan Mila.


Semua orang berbahagia saat itu, tapi tidak dengan Vicky. Akhirnya dia memutuskan untuk pulang terlebih dahulu, karena awalnya dia memang tidak ingin menghadiri acara itu.


...***...


"Sky, Mama pulang dulu ya," kata Bu Ida saat malam mulai larut. "Shena udah ke kamarnya sepertinya sudah mengantuk."


"Iya, Ma."


"Jangan lupa, ajak Shena menginap di rumah dahulu sebelum berangkat ke Jepang," imbuh Bu Ida.


"Iya, Ma." Kemudian Sky mengantar kedua orang tuanya ke depan rumah Shena.


Sedangkan di kamar Shena, Naya sedang merapikan beberapa kado pernikahan untuk Shena di atas meja.


"Shena, kok udah ngantuk?" Naya menarik selimut Shena yang menutupi tubuh putrinya.


"Ibu, Shena capek." Shena justru mengambil guling dan memeluknya.


"Shena tunggu Sky dulu. Nanti dia malu masuk ke kamar kamu."


"Kak Sky?" Seketika Shena membuka kedua matanya. Iya, dia melupakan Sky. Dia kini bangun dan turun dari ranjang. "Iya aku lupa kalau mulai sekarang aku sama Kak Sky. Kak Sky masih sama orang tuanya?"


"Kayaknya udah pulang. Susulin gih, kayaknya malu mau masuk kamar kamu."


"Ih, masa iya Kak Sky malu. Nanti juga masuk sendiri." Shena justru berkaca dan menyisir rambutnya.


"Ciee, dandan dulu mau malam pertama."


"Ih, nggak, ini rambut Shena memang berantakan." Kemudian Shena dan Ibunya keluar dari kamar. Mereka berpapasan dengan Sky yang memang berjalan menuju kamar Shena.


"Udah ditungguin Shena nih," kata Naya sambil berlalu.


Shena hanya berdiri mematung. Dia tidak tahu harus berkata apa.


"Aku boleh masuk kamar kamu?" tanya Sky karena Shena sedari tadi hanya terdiam. Sky memang belum pernah masuk kamar Shena, berberda dengan Shena yang sudah beberapa kali masuk ke dalam kamarnya.


"Tentu boleh."


Bukan Shena yang menarik tangan Sky, tapi justru Sky yang menarik tangan Shena dan masuk ke dalam kamar. Pintu itu kini tertutup dan Sky kunci.


Dada Shena semakin berdebar, detak jantungnya kian melonjak. Tiba-tiba keringat dingin membasahi pelipisnya.


Gue akan ambil sesuatu yang paling berharga agar lo hancur dengan sendirinya.


Tiba-tiba bayangan buruk itu melintas di kepala Shena. Apa yang terjadi dengan dirinya? Kejadian itu sudah satu tahun berlalu, harusnya dia sudah tidak trauma dengan Sky. Bahkan dia juga sudah jatuh cinta dengan Sky, mengapa trauma itu kembali muncul?


Nggak! Lepasin!


Gue mohon, jangan...


Shena menutup kedua telinganya dan berjongkok. Dia sangat ketakutan dan tidak bisa mengendalikan diri.


"Shena kamu kenapa?"


💞💞💞


Like dan komen ya..