Love From The Sky

Love From The Sky
BAB 26



"Tapi Pak saya..." Sky ragu dengan tawaran itu. Lagipula dia juga sudah lama tidak ikut pertandingan. Apakah dia masih bisa bersaing?


"Ini kesempatan kamu untuk kembali meraih semua kemenangan kamu. Bapak yakin kamu bisa, meskipun kamu sudah lama tidak ikut kejuaraan. Jika menang, kamu bisa lanjut ikut di beberapa kejuaraan. Kalau kamu terus lolos, kamu bisa ikut kejuaraan akuatik Internasional yang akan diselenggarakan di Jepang sekitar tahun depan."


Sky terdiam beberapa saat. Apakah sekarang waktunya dia berjuang lagi?


"Iya Pak. Saya mau mengikutinya. Saya akan berusaha." Akhirnya Sky memutuskan untuk mengikuti pertandingan itu.


"Bagus, Bapak yakin kamu menjadi juara lagi. Masih ada waktu untuk kamu berlatih."


"Iya Pak. Saya permisi dulu sudah bel masuk." Sky menganggukkan kepalanya lalu dia berdiri dan keluar dari ruang guru.


Aku harus semangat. Ini kesempatan aku untuk meraih kembali cita-cita yang sempat aku hentikan.


...***...


Sore hari itu Sky berlatih di kolam renang milik angkatan laut yang biasa digunakan atlet renang untuk berlatih. Tanpa sengaja dia bertemu dengan Vicky yang juga berlatih berenang di tempat itu.


"Ngapain lo di sini?" tanya Vicky sambil melakukan pemanasan.


Sky tersenyum miring. "Latihan. Jadi lo juga ikut pertandingan?" Sky kini juga memulai pemasanannya. Sebenarnya tubuhnya belum pulih sepenuhnya tapi dia harus tetap berlatih agar dia bisa memenangkan pertandingan itu.


Vicky kini berjalan mendekat dan menatap tajam Sky. "Iya, jadi lo juga ikut?"


"Iya, memang kenapa?"


"Gue gak pernah lihat lo ikut pertandingan apapun. Baru kali ini gue bertemu lo. Lo gak mungkin menang."


Sky hanya tersenyum miring. Justru sebenarnya dia lebih senior daripada Vicky. "Kita lihat saja nanti." Sky melangkahkan kakinya dan berdiri di pinggir kolam. Kemudian dia membungkukkan badannya dengan kedua tangan yang lurus ke depan. Setelah hitungan ketiga dalam hatinya, dia menceburkan dirinya di kolam dan berenang dengan cepat.


Vicky mengernyitkan dahinya melihat Sky berenang. Sky sangat ahli, bahkan teknik berenangnya sangat bagus. Durasi waktu yang dicapai ke ujung lalu kembali lagi ke start sangat cepat.


"Sky..." panggil seorang pelatih renang sambil melambaikan tangannya. Kemudian dia menghampiri Sky lalu menarik tangannya agar keluar dari kolam renang.


"Pak Remon, apa kabar?"


"Baik. Sudah lama sekali tidak melihat kamu. Selamat datang kembali di dunia akuatik."


"Iya, Pak. Saya vakum selama dua tahun."


"Vicky," panggil Pak Remon pada Vicky. "Perkenalkan ini Sky, dia juara bertahan di musim 10 dua tahun lalu. Sudah sangat lama dia vakum dan mulai sekarang dia akan kembali ikut pertandingan."


Vicky hanya menatap Sky yang mengulurkan tangannya ke arahnya, seolah-olah mereka tidak saling kenal.


"Sky, ini Vicky. Dia juga sangat hebat. Skillnya hampir sama dengan kamu. Dia yang menggantikan posisi juara bertahan sejak kamu vakum. Kalau begitu silakan kalian latihan dan bersaing secara sehat."


"Baik, Pak."


Kemudian Pak Remon pergi meninggalkan mereka berdua.


"Oke, gue akui lo lebih senior dari gue, tapi kali ini gue yang akan memenangkan pertandingan nanti," kata Vicky.


"Iya, kita lihat saja nanti."


Mereka berdua kini sama-sama menceburkan diri ke kolam dan beradu cepat. Ketepatan dan kecepatan mereka sama, teknik juga sama bagus, bahkan proporsi tubuh mereka juga hampir sama. Mereka kembali ke garis start dengan waktu yang hampir bersamaan. Lebih dahulu Sky, hanya selisih dua detik dari Vicky.


Ternyata kondisi gue masih belum full.


Vicky menatap Sky sesaat lalu dia pergi dari tempat itu. Dalam kondisi belum sehat saja Sky mampu mengalahkannya, bagaimana jika nanti Sky sudah sehat.


Perlahan Sky berdiri dan berjalan sambil memegangi perutnya. Dia kini mengambil sebotol minuman di dalam tasnya lalu meneguknya sampai habis. Setelah itu dia berganti pakaian dan segera pulang ke rumah untuk beristirahat karena dia tidak mungkin latihan lagi dengan kondisi perutnya yang sakit seperti itu.


...***...


Malam itu, Shena duduk di dekat meja belajarnya. Dia melihat sebuah kardus besar yang berisi beberapa barang pemberian Sky. "Ini pasti Ibu yang taruh sini. Ih!"


Shena mengambil kardus itu lalu membawanya keluar dari kamar. "Ibu, kenapa barang ini ada di kamar Shena." Shena berpapasan dengan Ibunya di depan kamar.


"Kan itu buat kamu."


"Tapi Shena gak mau terima ini. Shena kan udah buang barang ini."


"Ssstt, biarkan barang ini tersimpan." Naya mengambil kotak kardus itu lalu mengembalikan ke dalam kamar Shena. "Ibu taruh di atas lemari saja biar kamu gak makin kepikiran."


Setelah meletakkan kardus itu di atas lemari, Naya kini menggandeng tangan putrinya dan mengajaknya berjalan menuju ruang makan.


"Ibu, tapi Shena gak mau terima barang itu. Lain kali langsung buang aja." Shena duduk di kursi, dia masih saja menggembungkan pipinya.


"Shena nanti bisa kamu baca pesannya pas kamu lagi gabut. Sky romantis loh. Ayah kamu aja kalah."


"Loh, kok bawa-bawa Ayah nih," sahut Arsen yang sedari tadi sudah duduk di ruang makan. "Kalau Ayah langsung, gak pakai surat."


"Ih, Ibu sama Ayah sama aja." Shena kini mengambil nasi. "Kak Arnav kemana?"


"Arnav lagi ngumpul sama teman basketnya."


"Oiya, besok Shena mau lihat Kak Vicky lomba renang," kata Shena meminta izin.


"Sama Vicky saja?" tanya Arsen. Sebenarnya dia juga mulai curiga dengan kedekatan Vicky, karena Vicky terlalu memperlakukan Shena sangat spesial.


"Sama teman sekelas. Mereka semua mendukung Kak Vicky. Besok Shena berangkat sama Kak Vicky."


"Ya sudah hati-hati. Setelah selesai langsung pulang dan jangan dekat-dekat kolam renang," pesan Arsen.


"Iya Ayah."


"Makan yang banyak biar gemuk." Naya menambah lauk di piring Shena.


"Ibu aja gak mau gemuk, tapi nyuruh anaknya gemuk."


Kedua orang tua Shena hanya tertawa. Untunglah keceriaan Shena berangsur mulai kembali. Semoga saja Shena bisa berdamai dengan keadaan.


💕💕💕


.


Like dan komen ya...