
Arion kini duduk di dekat brankar neneknya. Dia semakin merasa kasihan saat beberapa peralatan medis terpasang di tubuh neneknya. Kemudian tangannya memegang tangan neneknya yang keriput dan lemah itu.
"Rion, kamu sudah pulang?" tanya Nenek Sita dengan suara lemahnya.
Arion hanya menganggukkan kepalanya. Dia menahan sesak di dadanya karena meskipun neneknya bersuara tapi neneknya sama sekali tidak membuka matanya.
"Rion, nenek sudah tidak kuat tapi nenek tidak bisa meninggalkan kamu sendiri. Kamu sama siapa kalau nenek sudah tidak ada?"
Arion menekan ujung matanya karena air mata itu hampir terjatuh. "Iya, Nek. Nenek jangan memikirkan aku. Sekarang nenek istirahat agar nenek cepat membaik. Nenek pasti sembuh dan kita bisa bersama lagi di rumah."
Kemudian tak ada jawaban dari Nenek Sita.
"Aku keluar dulu ya, Nek. Nanti aku ke sini lagi." Arion keluar dari ruangan itu. Dia melihat Shena yang masih duduk di kursi duduk.
"Kenapa lo belum pulang?" tanya Arion sambil duduk di dekat Shena. Dia mengalihkan pandangannya agar Shena tidak melihat mata merahnya.
"Nenek lo sakit? Sakit apa?"
"Hipertensi dan diabetes."
"Semoga lekas sembuh ya."
Arion semakin menekan ujung matanya tapi air mata itu tak bisa dia tahan. Rasanya dia ingin menyerah saja dengan hidupnya saat ini.
"Kenapa?" Shena mengusap punggung Arion yang bergetar.
Tapi Arion semakin menangis, bahkan air mata itu sudah dihapus Arion tapi masih saja terjatuh di pipinya.
"Lo cerita saja gak papa."
"Nenek sepertinya sudah tidak ada harapan lagi untuk sembuh tapi nenek masih belum bisa meninggalkan gue. Gue memang gak mau nenek pergi, karena cuma nenek satu-satunya yang gue punya."
Shena tersentuh mendengar cerita Arion. Akhirnya dia tahu satu sisi kehidupan Arion yang menyedihkan itu.
"Tapi gue juga gak mau melihat nenek sakit terlalu lama seperti ini. Nenek yang berjuang keras untuk hidup gue sejak kecil, tapi setelah gue dewasa yang harusnya bisa mencari uang dan merawat nenek tapi fisik gue justru terbatas."
"Lo juga sakit?" tanya Shena.
Arion menarik napas panjang. Rasa sesak di dadanya sedikit mereda setelah bercerita dengan Shena. "Leukimia. Penyakit yang di derita ibu dulu dan menurun ke gue. Mungkin hidup gue juga gak bisa bertahan lama."
"Sekarang banyak alternatif pengobatan."
Arion tersenyum pahit. "Iya, tapi kalau berobat secara gratis ya begitulah. Rasanya gue ingin menyerah saja dengan hidup gue."
"Jangan bilang seperti itu. Lo harus berusha. Sakit lo udah stadium berapa?"
"Dua." Arion menarik napas panjang lagi. Baru kali ini dia bercerita tentang hidupnya pada orang lain. "Sorry gue justru cerita kehidupan gue yang menyedihkan ini. Lo pulang aja, gue mau ke kafe."
"Gue antar."
"Nggak usah, gue bisa."
"Nggak papa, sekalian gue pulang."
"Ya udah, sebentar ya." Arion berdiri. Dia melihat neneknya sesaat lalu berpesan pada suster yang bertugas kemudian dia berjalan menuju lift bersama Shena.
...***...
Sky menggaruk tengkuk lehernya saat dia harus satu kelompok dengan Gita. Sayangnya teman kelompok tidak bisa ditukar, dia harus mencari data menajemen pendapatan usaha dalam lingkup kecil dan harus dikumpulkan besok. Mau tidak mau, dia harus mengerjakan hari itu juga.
"Biar gue saja yang mengerjakan, gak papa. Di dekat rumah gue ada kafe yang lumayan ramai," kata Gita setelah keluar dari kelas.
"Gak papa, dikerjakan sama-sama saja. Kamu bawa motor?"
Gita menggelengkan kepalanya.
"Ya udah sama gue aja." Kemudian mereka berdua berjalan menuju tempat parkir kampus.
Sedari tadi, Arnav terus mengintai mereka. Akhirnya Arnav menghampiri Sky yang sedang memakai helmnya. "Kalau mau keluar bilang sama Shena. Gue gak mau dia salah paham sama lo."
"Iya, gue udah chat Shena."
Arnav menaiki motornya lalu mendahului mereka berdua.
"Hubungan lo sama Shena udah serius?" tanya Gita, dia kini naik ke boncengan Sky.
"Selamat ya, lo udah nemuin tambatan hati lo."
Sepanjang perjalanan mereka mengobrol. Setelah sampai di kafe, mereka segera menemui manager kafe untuk melengkapi data yang akan mereka kaji.
Setelah semua selesai, mereka berdua memesan makanan dan minuman lalu duduk berdua di kafe itu.
"Lo balikan aja sama Arnav," kata Sky.
Gita hanya tersenyum kecil sambil meminum esnya. "Mungkin Arnav udah gak punya perasaan apa-apa sama gue. Gue yang salah udah bohongi dia."
"Arnav memang keras kepala. Dia gak mudah kasih maaf. Bahkan sampai sekarang gue juga sepertinya belum dimaafin sepenuhnya sama dia. Tapi lo sebenarnya masih ada perasaan kan sama Arnav?"
Gita menganggukkan kepalanya. "Iya. Gue beneran cinta sama Arnav. Sampai sekarang perasaan gue gak bisa berubah."
...***...
Arion menghentikan motor Shena di depan kafe tempatnya bekerja.
"Makasih ya," kata Arion yang telah turun dari motor Shena.
"Iya." Shena turun dari motornya dan melepas helmnya. "Gue mau beli minum dulu. Haus banget."
"Ya udah, sekalian gue beliin."
"Nggak usah. Lo langsung ke belakang saja gak papa." Tiba-tiba langkah Shena berhenti di dekat motor Sky. Dia hafal betul motor milik Sky dan tentu ada sticker geng langit. "Ini kan motor Kak Sky."
Shena mempercepat langkah kakinya masuk ke dalam kafe. Dia melihat Sky yang sedang berduaan dengan Gita. Dia tahu, Gita adalah mantan Sky yang selingkuh dengan kakaknya. Tiba-tiba hatinya memanas, apalagi saat mendengar jika perasaan Gita sama sekali belum berubah. Belum berubah pada siapa?
Shena mendekati Sky sambil melipat kedua tangannya. "Ehem!"
Seketika Sky mendongak. "Shena, kok kamu ada di sini?"
"Kamu ngapain?"
"Aku ngerjain tugas kelompok sama Gita." Sky menunjukkan setumpuk kertas yang berada di dalam map.
"Oo, tugas apa?"
"Ya tugas menajemen." Sky menahan tangan Shena saat Shena akan pergi.
Gita segera menghabiskan esnya karena dia merasa dirinya berada di tempat yang salah. "Sky, gue duluan ya. Nanti sisanya biar gue kerjain di rumah yang penting data-datanya udah ada."
"Sorry ya, Git."
"Iya, gak papa. Shena duluan ya."
Shena masih saja cemberut dan menggembungkan pipinya.
"Kenapa pipinya gini. Sini duduk." Sky mencubit pipi Shena lalu menarik tangan Shena agar duduk di sampingnya.
Shena masih saja menekuk wajahnya dan tidak mau menatap Sky.
"Kenapa marah?"
"Aku gak marah."
"Kalau marah pipi kamu kayak ikan buntal."
"Ih, Kak Sky." Shena mencubit pinggang Sky yang terus menggodanya.
Sky semakin tertawa dan gemas dengan Shena. "Tadi udah aku chat, gak kamu baca?"
Seketika Shena mengambil ponselnya dan melihat chat dari Sky. Dia tersenyum kecil. "Iya, aku gak lihat hp."
"Kamu ngapain ke sini? Sama siapa?"
"Aku antar Rion."
"Rion?"
💕💕💕
Like dan komen ya...