
"Vicky, Shena dimana?" tanya Arnav saat melihat Vicky menghentikan motornya di depan rumah dan tidak membonceng Shena.
"Tadi Shena pulang duluan. Tadi dia pamit sama gue waktu gue telepon." Vicky turun dari motornya. Dia juga terkejut saat ditanya Arnav keberadaan Shena.
Seketika Arnav berjalan mendekati Vicky. "Lo gimana sih! Kenapa lo biarin Shena pulang sendiri?" Kemudian Arnav menghubungi ponsel Shena tapi whatsapp-nya tidak aktif. Nomor selularnya juga tidak aktif. "Haduh, hpnya tidak aktif lagi."
"Kenapa, Ar?" tanya Naya yang baru saja keluar dari rumah.
"Kita gak tahu dimana Shena sekarang."
"Vicky, Tante kan suruh kamu untuk jagain Shena."
"Iya Tante, maaf aku hanya fokus dengan pertandingan. Aku akan cari Shena." Vicky kembali menaiki motornya.
"Vick, mungkin Shena masih di GOR. Biar gue cari ke sana." Arnav juga menaiki motornya.
"Kalau ada apa-apa langsung hubungi Ayah atau Ibu ya, Ar," kata Naya. Dia juga sangat khawatir dengan keadaan putrinya.
"Iya, Bu." Kemudian Arnav melajukan motornya.
"Semoga Shena gak kenapa-napa. Ayah juga lagi ada meeting, masih gak bisa cari Shena." Naya akhirnya masuk ke dalam rumah dan berusaha menghubungi nomor Shena tapi masih saja tidak aktif.
...***...
Seketika Shena menatap Sky. Dia mendorong Sky agar melepas pelukannya. Kemudian dia berdiri dan menjauh dari Sky. "Gak mungkin!" Dia menatap Sky tidak percaya. Mengapa pangeran impiannya yang dia nantikan selama ini adalah Sky, seseorang yang telah menghancurkan hidupnya.
"Aku baru saja mengingatnya. Mungkin saja kamu sudah lupa semuanya, kejadian itu sudah lama sekali." Sky mengambil jaketnya lalu memakaikannya pada Shena. Tapi lagi-lagi Shena menepis tangan Sky.
"Shena apa yang harus aku lakukan agar kamu mau memaafkan aku?" Sky sudah tidak tahu lagi apa yang harus dia lakukan untuk menebus kesalahannya pada Shena. Semua yang dilakukannya selalu Shena tolak.
Shena hanya terisak dan mengalihkan pandangannya.
"Apa kamu mau menikah denganku agar aku bisa mempertanggung jawabkan semua yang sudah aku lakukan?"
"Jangan mimpi!"
"Oke, kalau begitu apa kamu mau nyawa aku sekalian." Sky mengambil pisau lipat di dalam tasnya. "Biar kamu tidak lagi melihat aku di dunia ini." Sky sudah bersiap melukai pergelangan tangannya dengan pisau tapi Shena menepis tangan Sky hingga pisau itu terjatuh.
"Lo gila! Meskipun lo mati gak akan bisa mengubah apapun!"
Sky mengusap wajahnya yang lusuh, dia kini duduk di tepi kolam. "Lalu apa yang harus aku lakukan agar kamu mau memaafkan aku? Kamu memang tidak menuntut aku ke polisi tapi justru hidup aku dipenuhi rasa menyesal. Jika sampai seumur hidup kamu tidak memaafkan aku, itu berarti kamu menghukumku dengan rasa menyesal selamanya dan itu rasanya sangat menyakitkan." Sky menekan ujung matanya. Meskipun dia tidak melihat Shena, tapi dia yakin Shena masih berdiri di belakangnya.
Sky menghela napas panjang menghilangkan sedikit rasa sesak di dadanya. "Aku gak akan menyerah, Shena. Aku akan tetap berusaha mendapatkan maaf dari kamu."
Shena hanya berdiri mematung. Dia masih menutup rapat hatinya untuk Sky. Dia masih tidak bisa memaafkan semua perbuatan Sky.
"Shena!" Arnav berlari menghampiri Shena. "Kenapa kamu basah semua?" Dia melepas jaketnya dan memakaikannya di tubuh Shena.
"Sky, apa yang lo lakuin sama Shena!" Arnav mendekati Sky dan menarik kaosnya lalu bersiap memukulnya tapi berhenti karena teriakan Shena.
"Jangan pukul Sky lagi! Ayo, kita pulang saja Kak."
Arnav melepas cekalannya pada Sky lalu merengkuh bahu adiknya dan mengajaknya berjalan keluar dari GOR.
Sky menarik napas dalam, dadanya terasa sangat sesak. Dia tidak akan bisa hidup tenang sebelum mendapatkan maaf dari Shena.
...***...
"Shena, kamu kenapa basah semua?" tanya Naya pada putrinya yang baru saja masuk ke dalam rumah.
"Kenapa bisa? Terus siapa yang nolong kamu?"
"Sky," jawab Shena singkat lalu dia masuk ke dalam kamar dan menutup pintu kamarnya.
Kemudian Shena masuk ke dalam kamar mandi dan membasuh dirinya. Dia masih belum bisa menerima kenyataan bahwa seseorang yang dia nanti dalam hidupnya ternyata adalah Sky.
"Kenapa harus Sky!"
Setelah mengguyur tubuhnya di bawah shower, Shena kini keluar dan memakai bajunya.
Kemudian dia duduk di meja belajarnya dan mengambil buku diary miliknya yang berwarna pink itu. Dia membuka halaman depan dan membaca sesaat curahan hatinya.
Aku ingin bertemu lagi dengan pangeran impianku yang telah menyelamatkan hidupku.
Aku akan selalu menantinya. Semoga saja Tuhan mempertemukan kita lagi.
Dia seperti apa ya sekarang, apakah wajahnya semakin tampan.
Sky...
"Awalnya aku udah mengira saat tahu namanya Sky, tapi aku buang jauh-jauh pikiranku tentang Sky dan berharap dia bukanlah pengeran impian aku yang aku nantikan. Tapi ternyata dia orangnya. Mengapa harus dia pangeran impianku. Aku gak mau!" Shena menyobek buku diary itu dan merematnya. "Aku benci!"
Shena kembali menangis tergugu. Bahkan suara tangisnya sampai bisa Ibunya dengar dari luar.
"Shena kamu kenapa sayang?" Naya masuk ke dalam kamar Shena yang tidak terkunci itu. Dia memeluk putrinya yang sedang menangis terisak itu.
"Mengapa hidup Shena seperti ini, Ibu? Kenyataan ini sangat menyakitkan."
"Sayang, Ibu tahu ini gak mudah buat kamu. Tapi kamu harus bisa melaluinya. Ibu yakin setelah kamu berhasil melalui ini semua, kamu pasti akan menjadi wanita yang kuat." Naya kini melihat kertas yang berserakan di atas meja. Setahu dia itu diary putrinya yang berisi tentang pangeran impian Shena sejak kecil. "Shena, mengapa buku diary-nya kamu robek?"
Shena melepas pelukan Ibunya lalu membuang kertas-kertas itu ke dalam tempat sampah. "Semua itu udah gak penting. Shena gak mau lagi bermimpi bersama pangeran, karena pangeran itu gak ada!"
Naya mengusap rambut putrinya yang basah dan kusut. "Mengapa?"
"Karena dia adalah Sky. Sky yang sudah menghancurkan hidup aku. Takdir ini benar-benar gak adil buat Shena."
"Sssttt, sayang jangan bilang seperti itu. Kamu masih punya Ibu, Ayah, dan Kak Arnav yang akan selalu melindungi kamu. Ibu yakin kamu bisa melalui ini semua, kamu putri Ibu yang hebat."
Shena menggelengkan kepalanya. "Ibu, Shena sekarang sangat lemah. Semua teman Shena juga tidak mau menerima kondisi Shena sekarang. Mereka justru menuduh Shena yang menggoda Sky." Shena kembali bersandar di dada Ibunya. "Ibu, mengapa mereka semua jahat sama Shena. Padahal selama ini Shena gak pernah ganggu mereka. Shena selalu baik sama mereka."
Naya mengusap rambut Shena. Dia sangat mengerti luka hati yang dialami Shena saat ini. "Shena, Ibu mengerti apa yang kamu rasakan. Kamu harus ikhlas menjalani ujian ini. Jangan menangis lagi, biar Kak Arnav dan Kak Vicky yang jaga kamu di sekolah. Kalau ada apa-apa bilang sama mereka berdua, yang terpenting kamu fokus saja dengan sekolah kamu. Seiring berjalannya waktu, gosip itu pasti akan menghilang dengan sendirinya."
Shena menganggukkan kepalanya sambil menghapus air matanya.
"Ibu yakin, kamu bisa melalui ini semua."
Shena mengangguk lagi. Setelah bercerita pada Ibunya, hatinya terasa sangat lega meskipun itu hanya sementara. Dia tidak tahu apa yang akan dilaluinya keesokan harinya.
.
💕💕💕
.
Like dan komen ya...