Love From The Sky

Love From The Sky
BAB 77



"Habis ngapain di dalam?" tanya Bu Ida sambil tersenyum menggoda sepasang pengantin baru itu.


"Eh, Mama, bantuin Kak Sky bersih-bersih." Shena menggandeng lengan Sky, lalu membantunya naik ke atas brankar.


"Mama senang sekali lihat kalian seperti ini. Makin harmonis." Kemudian Bu Ida duduk di dekat brankar Sky. "Gimana kondisinya? Udah kelihatan fresh, kalau dirawat istri memang cepat masa penyembuhannya."


"Apaan sih, Ma. Tangan aku masih gak bisa gerak." Sky masih kesakitan meski hanya menggerakkan sedikit tangan kirinya.


Shena hanya tersenyum sambil menyisir rambut Sky.


"Shena, kamu makan dulu. Mama bawa makanan buat kamu. Biar Mama yang suapi Sky."


"Iya, kamu makan dulu," kata Sky pada Shena.


Shena mengangguk lalu dia duduk di sofa dan membuka kotak bekal yang dibawa mertuanya.


"Aku kapan boleh pulang?" tanya Sky karena dia sudah tidak betah di rumah sakit. Tentu saja dia ingin segera bebas menggoda Shena di kamarnya.


"Tadi Dokter bilang katanya besok sore kamu sudah boleh pulang. Nanti akan diatur jadwal kontrol dan terapi."


"Akhirnya besok pulang juga." Sky tersenyum sambil melirik Shena yang sekarang sedang makan.


"Gak sabar banget mau pulang. Kamu makan ini dulu sedikit, nanti kalau makanan rumah sakit datang, kamu makan lagi." Bu Ida membuka bekal yang dia bawa lalu menyuapi Sky.


"Iya Ma, di sini gak bisa bebas. Kasihan kalau Shena tidur di sofa lagi."


"Ingat, bahu kamu gak boleh gerak dulu biar cepat pulih dan pennya cepat dilepas."


"Iya, Ma." Sky menerima suapan demi suapan dari tangan Mamanya.


"Sky nanti malam Vicky akan berangkat menggantikan kamu. Papa sudah urus semuanya," kata Pak Alex yang berdiri di dekat brankar Sky.


"Iya, makasih ya Pa."


"Nanti kalau kamu sudah pulih, ada sesuatu yang mau Papa berikan untuk kamu."


"Sesuatu apa?"


"Papa kasih tahu nanti kalau kamu udah sembuh. Ya udah Papa ada meeting di kantor. Papa berangkat dulu ya."


"Iya, Pa. Hati-hati."


Kemudian Pak Alex keluar dari ruangan Sky. Sebenarnya Sky penasaran, apa yang akan diberikan padanya.


"Mama tahu apa yang dimaksud Papa? Kalau soal perusaan kan aku pegang setelah lulus S2."


Bu Ina menggelengkan kepalanya. "Papa kamu penuh kejutan sama kayak kamu. Dihabisin dulu makanannya."


Sky hanya menganggukkan kepalanya.


...***...


"Kalian bisa barengan gini?" Shena memberi tempat untuk Vicky, Arnav, dan juga Arion yang datang bersamaan menjenguk Sky.


"Iya, kita memang janjian."


"Gimana udah baikan?" tanya Vicky.


"Kalau yang jaga spesial baikannya cepet," sahut Arnav.


"Iya, ini udah mendingan. Rion nanti malam kamu temani aku di sini biar Shena tidur di rumah."


"Nggak mau, aku mau jaga Kak Sky di sini," kata Shena. Dia tidak mungkin tidur sendiri di rumah.


"Biar kamu bisa tidur nyaman di rumah."


"Di sini juga nyaman." Shena kini duduk di sofa lalu merebahkan dirinya dan membiarkan para pria mengobrol.


"Ya udah, kalau kamu mau di sini." Kemudian Sky melihat Vicky yang berdiri di dekatnya. "Vicky, lo pasti memenangkan pertandingan itu."


"Iya, semoga saja. Gue akan meneruskan perjuangan lo."


"Kalau gitu hotel yang udah gue booking buat lo aja. Gue minta pembatalan tapi uang hanya kembali 50%. Mending lo pakai aja sekalian liburan selama satu minggu. Tiket pulang juga bisa lo pakai, nanti tinggal urus penggantian nama saja, biar gue yang urus."


"Ambil deh, kapan lagi nempati hotel paket bulan madu. Di Jepang lagi," kata Arnav sambil tertawa.


"Cari cewek Jepang di sana." Arnav masih saja menggoda Vicky.


"Rion lo mau ikut?"


Arion menggelengkan kepalanya. "Gue ada terapi. Kemarin juga diajak Kak Sky tapi jadwal terapi gue gak bisa ditunda."


"Ambil ajalah. Liburan sendiri juga enak, siapa tahu lo dapat kenalan di sana."


"Ya udah, gue ambil. Nanti kirim saja nomor pemesanan dan bukti pembayaran," kata Vicky pada akhirnya.


"Oke, itu soal gampang. Lo nikmati aja liburan di Jepang setelah bertanding."


"Apalagi kalau dapat cewek Jepang, makin mantap," imbuh Arnav.


Seketika Vicky menjotos lengan Arnav. "Gak boleh kayak gitu."


Mereka berempat semakin asyik mengobrol. Akhirnya kebersamaan itu sekarang terwujud. Shena hanya tersenyum melihat mereka berempat akur.


Semoga kalian semakin kompak ya.


...***...


Setelah dua hari dirawat di rumah sakit, akhirnya Sky diperbolehkan untuk pulang. Meski demikian Sky masih belum bisa menggerakkan bahunya secara bebas. Dia masih berada dalam masa penyembuhan selama sebulan.


"Akhirnya bisa pulang ke rumah." Sampai di rumah, Sky langsung merebahkan dirinya di atas ranjang. "Sayang, kamu tidur sini. Dua hari kamu tidur di sofa pasti capek."


"Iya, ini masih sore." Shena menutup pintu lalu memasukkan baju kotor ke dalam keranjang. "Cucian banyak. Aku mau nyuci baju aja."


"Jangan, ngapain kamu nyuci baju." Sky turun dari ranjang lalu menarik tangan Shena. "Itu udah tugasnya Bibi."


"Tapi di rumah biasanya aku nyuci sendiri. Baru nanti setrikanya Bibi."


"Udah, kalau di sini kamu gak perlu lakuin apapun. Besok biar diambil Bibi baju kotornya." Sky semakin menarik tangan Shena agar naik ke atas ranjang.


"Kak, sebentar aku mau ganti baju dulu." Shena melepas tangan Sky lalu mengambil baju gantinya yang berada di lemari. Sepertinya Shena sudah tidak malu berganti pakaian di depan Sky tapi mata Sky justru menatap tubuh mulus itu dengan tajam.


Sky berdiri dan menahan tangan Shena yang akan memakai daster panjangnya. "Jangan dipakai, bagus gini."


"Ih, bagus gimana?" Shena akan memakai dasternya tapi Sky semakin menahan dengan tangan kanannya. Lalu dia mencium bibir Shena yang membuat Shena terdiam dan menjatuhkan dasternya.


Meskipun hanya menggunakan satu tangan tapi sentuhan Sky sudah membuat Shena terlena. Perlahan ciuman Sky turun ke leher dan mencumbui leher yang seputih susu itu. Menghisapnya dan menggigitnya kecil.


"Aduh, ternyata masih sakit banget." Sky kembali berpegangan pada Shena. Dia masih tidak bisa membungkukkan badannya dan menggerakkan kepalanya dengan bebas.


"Baru juga dua hari operasi, sabar dulu." Shena membantu Sky duduk di atas ranjang lalu membaringkannya secara perlahan.


"Tapi itunya udah gak sabar."


"Iya, tapi Kak Sky gak boleh banyak gerak dulu."


"Ya udah kalau gitu kamu aja yang gerak."


"Kak Sky, kalau yang bawah gerak atas juga ikut gerak. Sabar dulu, lukanya juga belum kering sepenuhnya. Biar cepat sembuh."


Kemudian Sky memijat pelipisnya. "Aduh, kepala aku pening banget."


Shena hanya tersenyum lalu memakai dasternya.


"Sayang, kamu aja yang di atas."


"Sama aja, nanti bahunya juga ikut gerak." Shena kini duduk di dekat Sky. "Sabar dulu. Paling tidak satu bulan, biar tulangnya cepat menyatu. Kak Sky juga masih harus terapi agar gerakan tangan tidak kaku."


"Satu bulan? Satu minggu aja lukanya juga sudah kering."


Shena kini mendekat, dia tersenyum penuh arti lalu satu tangannya me re mas isi celana Sky. "Kali ini aku bantuin. Kasihan dari kemarin bangun terus."


"Sayang, gitu dong kan enak."


💞💞💞


😪


Like dan komen ya...