
Sky keluar dari kamar mandi dan melihat Shena sudah tertidur. Kemudian dia naik ke atas ranjang secara perlahan. Sepertinya ekspektasinya terlalu tinggi untuk malam ini. Nyatanya dia harus menuntaskannya sendiri di kamar mandi dan sekarang justru ditinggal Shena tidur.
Baru ciuman lama aja, aku udah gak tahan. Shena, perlahan aku akan bantu hilangkan trauma kamu dan aku janji, aku akan selalu membahagiakan kamu.
Sky mencium kecil kening Shena lalu dia memeluk Shena dan memejamkan matanya.
Hingga keesokan harinya, Shena semakin mengeratkan pelukannya pada Sky. Rasa dingin di pagi hari itu membuatnya malas untuk bangun.
Beberapa saat kemudian Shena membuka matanya, dia terkejut saat melihat Sky berada dalam pelukannya. Lalu Shena tersenyum kecil saat ingat jika dia dan Sky sudah menjadi suami istri.
"Aku lupa kalau kita udah nikah." Perlahan Shena akan turun dari ranjang tapi Sky menahan pinggang Shena hingga Shena kembali terlentang. "Kak Sky, aku mau bangun."
"Ini masih pagi." Sky semakin menghapus jarak di antara mereka dan memeluknya erat.
"Aku mau belajar jadi istri yang baik. Bangun pagi dan menyiapkan sarapan untuk Kak Sky."
"Itu gampang. Mumpung hari ini libur, gak papa bangun siang." Sky mencium pipi Shena dan mengendusnya. "Akhirnya aku bisa melihat wajah bangun tidur kamu."
"Jelek ya?"
"Bagi aku tetap cantik." Jari telunjuk Sky kini menelusuri hidung mancung Shena. Semakin turun dan menelusuri leher putih Shena.
"Hmm, Kak, aku mau ke kamar mandi dulu." Shena turun dari ranjang lalu berlari kecil ke kamar mandi.
Sky hanya tersenyum menatap Shena, lalu dia melanjutkan tidurnya sesaat sambil menunggu Shena keluar dari kamar mandi.
Setelah selesai mandi, Shena keluar dari kamar mandi. Dia tersenyum melihat Sky yang kembali memejamkan matanya.
"Tiap hari kan bangunnya emang siang. Biarinlah. Biar gak ganggu aku." Shena menyisir rambutnya lalu keluar dari kamarnya. Dia kini berjalan menuju dapur untuk membantu Ibunya.
"Shena, kok udah bangun?" tanya Naya sambil mempersiapkan bahan untuk dimasak.
"Iya, Ma. Aku akan belajar jadi istri yang baik," kata Shena sambil tersenyum kecil. Sepertinya terlalu dini menyebut jika dirinya seorang istri.
"Gak ngantuk? Pengantin baru biasanya jam segini masih molor, kan semalam habis bergadang." Naya mengambil pisau dan mulai mengupas bawang merah.
Shena tersenyum kecil lalu membantu Ibunya. "Shena semalam tidur kok."
Seketika Naya menatap putrinya. "Gak melakukan ritual apa-apa?"
"Hmm, Shena boleh cerita sama Ibu gak?" tanya Shena ragu.
"Tentu boleh, cerita saja. Belum tahu caranya?"
Shena juga menghentikan gerakan tangannya. Dia menatap pintu dapur, memastikan jika Ayahnya dan Arnav tidak ada. "Shena, masih trauma sama Kak Sky."
Seketika Naya mengajak Shena duduk di dekat meja makan. "Trauma bagaimana?"
"Ibu tahu kan kalau sejak kecil Shena gampang banget trauma. Ya karena kejadian satu tahun yang lalu itu, tiap Kak Sky mau lakuin Shena ketakutan banget sampai keluar keringat dingin."
"Ya ampun, jadi kamu masih trauma. Tapi Sky gak maksa kamu lagi kan?"
Shena menggelengkan kepalanya. "Kak Sky sih santai aja, dia gak terlalu terburu. Cuma Shena bingung gimana caranya agar trauma itu cepat menghilang."
"Iya, kasihan Sky juga, pasti udah pengen ngelakuian sama kamu." Naya tersenyum kecil lalu dia memikirkan masalah putrinya ini. "Trauma muncul kalau Sky beraksi?"
Shena mengangguk pelan.
"Kalau gitu kamu aja yang beraksi."
"Ih, Ibu, Shena malu. Gak bisa."
"Ibu, Shena malu..."
"Gak papa, sama suami sendiri. Biar trauma kamu cepat hilang." Naya berdiri dan kembali berkutat dengan masakannya.
Sedangkan Shena kini hanya melamun dan merebahkan kepalanya di atas meja.
"Shena, jangan galau gitu. Nanti kita shopping aja yuk!" ajak Naya. "Sekalian beli keperluan kamu buat ke Jepang."
Seketika Shena menegakkan dirinya dan berdiri menyusul Ibunya. "Udah lama gak shopping sama Ibu. Kita borong ya."
"Oke, nanti Ibu minta kartu hitam sama Ayah."
...***...
Hampir seharian itu, Shena shopping dengan Ibunya. Tentu saja tanpa suami mereka. Sampai kaki mereka pegal memutari mall yang berlantai empat itu.
Mereka berdua pulang saat hari sudah sore dengan barang belanjaan yang lumayan banyak. Shena meletakkan barang-barang itu di kamar lalu menatanya setelah mandi.
"Shena, aku udah urus semua tiket pesawat dan hotel di Jepang. Pertandingan aku hampir seminggu, nanti kita nambah seminggu lagi di sana untuk jalan-jalan." Sky memeluk Shena dari samping sambil melihat Shena yang mengeluarkan beberapa barang.
"Akhirnya aku ke Jepang. Tapi sayang di sana pas summer."
"Kan memang pertandingan renang diadakan waktu musim panas, gak kebayang kalau musim dingin kayak gimana. Aku bisa beku. Tapi kalau kamu mau ke sana pas musim dingin, nanti saja berdua sama aku."
Shena hanya tersenyum lalu dia memasukkan beberapa barangnya ke dalam koper. "Karena besok aku menginap di rumah Kak Sky. Aku kemas sekarang saja."
"Sini aku bantuin. Jangan bawa banyak-banyak."
"Di sana hampir dua minggu. Itu lama."
"Ya udah terserah kamu." Sky kini berdiri dan mengambil dompetnya. Dia mengeluarkan salah satu ATMnya dan diberikan pada Shena. "Lain kali kalau belanja pakai ini saja."
"Tapi kan Kak Sky belum kerja."
Kejujuran Shena begitu menusuk hati Sky. "Kamu benar banget, tapi di ATM ini uang aku sendiri. Hasil pertandingan aku renang dan jadi pelatih anak-anak renang."
"Kak Sky jadi pelatih juga? Kok aku gak tahu."
"Iya, baru enam bulan ini sih. Jadwalnya juga cuma satu minggu sekali." Sky menggenggamkan kartu ATM itu di tangan Shena. "Ini kamu bawa. Setelah pertandingan aku selesai, aku juga akan kerja freelance di kantor Ayah."
Shena akhirnya menganggukkan kepalanya. "Tapi aku gak pintar mengatur keuangan."
"Gak papa. Lama-lama juga pasti bisa. Kita belajar sama-sama mejalani ini semua." Lalu Sky kembali membantu Shena mengemas barang-barangnya. Dia mengambil salah satu paperbag dan mengeluarkan isinya.
"Shena ini apa?" tanya Sky sambil menunjukkan beberapa lingerie dengan warna mencolok.
Seketika Shena mengambil lingerie itu dari tangan Sky. "Eh, ini bukan apa-apa." Shena tersenyum kaku. Tentu saja membeli lingerie itu adalah ajaran sesat dari Ibunya.
"Sini lihat..." Kedua tangan Sky meraih lingerie yang ada di belakang Shena, tapi mereka berdua justru terjatuh di atas ranjang dengan posisi Sky yang ada di atas Shena.
"Nanti saja. Kak Sky pasti tahu."
Bukannya turun dari tubuh Shena, Sky justru mencium bibir Shena.
"I'm wait you..." bisik Sky di dekat telinga Shena.
💞💞💞
Aku juga nungguin... ðŸ¤