Love From The Sky

Love From The Sky
BAB 61



"Kalian bicara apa? Siapa wanita yang dimaksud?" tanya Naya. Dia kini menatap suaminya.


"Mereka berdua salah paham dengan sekretaris baru di kantor," kata Arsen. Dia mengajak Naya masuk ke dalam rumah dan duduk di sofa ruang tengah.


"Memang ada apa dengan sekretaris baru itu?" tanya Naya sambil melipat tangannya.


"Ya tidak ada apa-apa, mereka salah paham kedekatan kita."


"Salah paham apa?"


Arsen hanya menelan salivanya. Dia benar-benar mati kutu mendengar pertanyaan Naya. Kemudian dia melihat kedua anaknya yang sedang berdiri dan melipat tangannya. Jelaslah tidak akan ada yang membelanya. "Ya, salah paham, mereka mengira aku selingkuh. Padahal nggak."


"Selingkuh? Memang Ayah kenapa sampai dikira selingkuh."


Arsen melirik kedua anaknya lagi. Dia tidak bisa berbohong untuk melindungi dirinya sendiri. "Mereka lihat aku makan di restoran sama Reva."


"Tapi benar?" tanya Naya.


"Iya, memang saat itu kita sekalian menemui klien."


"Terus?"


"Terus Shena diam-diam menyelinap ke kantor dan melihat aku sama Reva."


"Ngapain?"


Arsen kembali menelan salivanya. Sudah pasti kali ini Naya marah padanya. "Gak sengaja Reva jatuh dan duduk di pangkuan aku."


Naya terdiam sampai beberapa detik.


Diamnya Naya merupakan bom waktu bagi Arsen. "Sayang, beneran kejadian itu gak sengaja."


"Kalau seandainya waktu itu gak ada Shena, apa yang akan terjadi?"


"Ya gak akan terjadi apa-apa."


"Dia cantik?"


"Iya cantik dan masih muda." Akibat terlalu jujur harusnya kalimat itu tidak keluar dari bibirnya. Sekarang, jelaslah jika Naya semakin marah.


Mendengar jawaban Arsen, Naya semakin menatap tajam Arsen. "Oo, cantik dan masih muda. Pantes sekarang betah di kantor. Shena, apa dia juga sexy?"


"Iya, sexy. Pakai span pendek dan kulitnya sangat mulus," jawab Shena.


Seketika Naya berdiri dan menarik tangan Shena menuju kamar Shena. "Malam ini, aku mau tidur di kamar Shena."


"Sayang, kenapa tidur di kamar Shena." Arsen mengikuti Naya lalu menahan satu tangannya.


"Aku mau beri waktu untuk Mas Arsen berpikir, cantikan mana aku sama dia?"


"Ya jelas cantikan kamu."


Naya menarik kasar tangannya. "Pokoknya aku mau tidur di kamar Shena, kalau bisa sampai seminggu, atau sebulan, atau sampai setahun!"


"Ih, jangan lama-lama. Shena jadi gak bisa telepon sama Kak Sky," kata Shena saat Ibunya masuk ke dalam kamarnya lalu menutup pintunya.


"Sayang, Ibu, Naya..." Arnav masih mengetuk pintu itu berulang kali. "Salah paham kan jadinya. Ibu dan anak sama aja. Kepala aku pusing, makin pusing kalau gak tidur sama Naya."


Akhirnya Arsen menyerah dan kembali ke kamarnya.


Sedangkan di dalam kamar, Shena segera membasuh dirinya. Setelah selesai dan memakai piyamanya, dia menyusul Ibunya naik ke atas ranjang.


"Shena, kamu sudah makan? Kalau belum, makan dulu gih."


"Sudah, tadi sama Kak Sky." Kemudian Shena merebahkan dirinya di samping Ibunya. "Ibu memang percaya kalau Ayah selingkuh?"


Naya menggelengkan kepalanya. "Tidak, sepertinya itu memang salah paham. Ibu marah barusan cuma mau ngasih pelajaran buat Ayah saja."


Naya tersenyum sambil mengusap rambut putrinya. "Shena, suatu saat nanti kamu pasti akan paham, seiring bertambahnya usia kamu, kamu semakin bisa berpikir jernih. Ibu sudah hidup bersama Ayah selama dua puluh tahun. Bukan waktu yang singkat untuk memahami satu sama lain. Ibu tahu bagaimana perasaan Ayah dan bagaimana sifat Ayah. Terkadang Ayah memang suka cuci mata, lihat wanita muda dan sexy, tapi Ibu tahu kok kalau perasaan Ayah itu cuma buat Ibu. Lihat saja, malam ini pasti Ayah gak bisa tidur sendirian." Naya tersenyum kecil mengingat Arsen saat ini.


"Ibu, sweet banget." Shena semakin memeluk Ibunya. "Apa nanti setelah Shena menikah, Shena bisa menjadi seperti Ibu."


"Bisa. Ibu yakin kamu bisa, apalagi Sky terlihat sangat mencintai kamu. Sepertinya dia salah satu pria yang bisa dipercaya."


"Iya, semoga saja memang seperti itu. Sudah lama banget gak tidur sambil peluk Ibu gini. Nyaman banget rasanya."


"Iya, cuma malam ini aja."


"Katanya sampai satu minggu?"


"Ibu juga gak bisa lama-lama ninggalin Ayah."


"Ibu memang bucin."


Kemudian mereka berdua tertawa bersama.


...***...


Sedangkan di kamar, Arsen tidak bisa tidur semalaman. Tidur tanpa memeluk Naya benar-benar terasa hampa. Pagi-pagi sekali dia keluar dari kamar dan melihat Naya sudah berkutat di dapur.


"Sayang, jangan marah." Kedua tangan Arsen memeluk Naya dari belakang.


"Aku masih marah sebelum semuanya jelas."


"Oke, biar aku perjelas semuanya. Dimana Shena?" tanya Arsen sambil melepas pelukannya.


"Shena masih mandi."


Kemudian Arsen kembali ke kamar dan mengambil ponselnya. Dia menghubungi Reva agar ke rumahnya sebelum berangkat kerja lalu dia duduk di kursi dekat meja makan.


Naya hanya melirik suaminya yang tidak bersiap ke kantor padahal hari sudah mulai siang.


Sampai Shena dan Arnav datang lalu duduk dan bersiap untuk sarapan, Arsen masih saja berdiam diri seperti seorang anak yang marah tidak mau mandi pagi.


"Shena panggil Sky ke rumah sekarang!" perintah Arsen pada Shena.


"Kak Sky? Ayah, Kak Sky gak ada hubungannya sama masalah Ayah dan Ibu."


"Ada, panggil saja."


Shena akhirnya menghubungi Sky dan menyuruhnya ke rumah. Tentu saja Sky mengiyakannya.


Setelah selesai sarapan, mereka berempat berjalan ke teras rumah karena ada seseorang yang datang.


"Maaf Reva, pagi-pagi sudah memanggil kamu ke rumah. Mereka semua salah paham dengan kamu," kata Arsen pada Reva.


Reva hanya mengangguk pelan. "Maaf, Bu Naya. Saya tidak ada hubungan lebih dengan Pak Arsen selain sekretaris dan bos."


Naya hanya terdiam. Dia justru mengamati Reva yang memang sangat cantik itu.


"Tapi kemarin tante janjian apa sama Ayah?" tanya Shena.


Reva tersenyum. "Saya meminta Pak Arsen untuk mengajarkan cara berinvestasi."


Beberapa saat kemudian Sky datang. Dia berdiri di dekat Reva dan terkejut melihatnya. "Tante Reva kok ada di sini?"


.


💞💞💞


Like dan komen ya...