Love From The Sky

Love From The Sky
BAB 73



Shena tersenyum menatap foto Sky yang sedang bersama Gala yang berada di kamar Sky. "Mereka memang mirip." Shena kembali meletakkan bingkai foto itu tapi tiba-tiba foto itu terjatuh dan kacanya pecah.


Shena membungkukkan badannya mengambil bingkai foto itu. "Kenapa perasaanku tiba-tiba gak enak. Sekarang udah waktunya Kak Sky pulang." Shena mengambil ponselnya. Saat dia akan menghubungi Sky, ada Arnav yang menghubunginya.


"Kak Arnav?" Kemudian Shena mengangkat panggilan dari Arnav. "Iya, hallo Kak..." Air mata itu seketika menetes mendengar kabar dari Arnav. "Kecelakaan. Iya, aku segera ke sana."


Shena berdiri dan berlari keluar dari kamarnya. Dia menghampiri Bu Ida yang sedang menonton televisi. "Mama, Kak Sky kecelakaan."


Mendengar hal itu, Bu Ida juga sangat terkejut. "Kecelakaan! Dibawa ke rumah sakit mana?" Mereka berdua segera keluar dari rumah dan masuk ke dalam mobil bersama sopir keluarga mereka.


Air mata Shena tidak bisa berhenti mengalir. Harusnya besok dia dan Sky berangkat ke Jepang, mengapa ini terjadi pada Sky.


Semoga Kak Sky gak kenapa-napa. Pertandingan Kak Sky sebentar lagi. Aku gak bisa bayangin kalau sampai Kak Sky gagal mengikuti pertandingan itu.


Setelah sampai di rumah sakit, mereka berdua segera menuju IGD.


"Sky sedang ditangani Dokter," kata Arnav.


"Kak Arnav, gimana bisa Kak Sky kecelakaan?" tanya Shena.


"Sky balapan lagi?" tanya Bu Ida.


Arnav menggelengkan kepalanya. "Sepertinya ada yang sengaja menabrak Sky."


"Apa? Dimana lokasinya? Biar segera diurus Papanya Sky."


"Saya sudah menghubungi Pak Alex lewat Ayah," kata Arnav. Dia kini memeluk Shena agar berhenti menangis. "Shena, jangan menangis. Kamu harus bisa menguatkan Sky, karena sepertinya Sky akan gagal mengikuti pertandingan itu."


"Kalau ada yang sengaja menabrak Kak Sky, itu berarti ada yang sengaja menyabotase agar Kak Sky tidak mengikuti pertandingan itu."


"Iya, kayaknya memang itu rencananya."


Beberapa saat kemudian, Dokter yang menangani Sky keluar. "Dengan keluarga pasien?"


"Iya, kami Dok." Bu Ida dan Shena mendekati Dokter itu.


"Putra Ibu mengalami patah tulang selangka dan harus segera di operasi untuk pemasangan pen karena patahnya cukup parah."


"Tapi Dokter, putra saya akan mengikuti pertandingan renang."


"Dengan kondisi ini, putra Ibu tidak bisa mengikuti pertandingan apapun. Setelah operasi, masa penyembuhan selama dua bulan dan pelepasan pen dilakukan setelah enam bulan, dan selama itu juga putra Ibu tidak bisa berenang secara bebas, agar tulang tidak mengalami patah lagi."


Mendengar hal itu Bu Ida dan Shena semakin menangis. Akhirnya Shena menerobos masuk ke dalam ruangan. Sedangkan Bu Ida kini memeluk suaminya yang baru saja datang lalu mengurus administrasi dan persetujuan tindakan operasi.


"Kak Sky." Air mata Shena semakin deras mengalir. Dia tidak tega melihat Sky yang terbaring dan menahan rasa sakitnya. Bahunya sudah terlihat memar dan bengkak. "Kak Sky." Shena menggenggam tangan kanan Sky. "Kak Sky harus kuat ya."


Sky menatap sayu Shena. Bahu dan tangannya terasa sangat sakit. Bahkan dia tidak bisa bergerak sama sekali. "Jangan menangis. Dokter bilang kalau aku akan dioperasi. Maafin aku ya..."


"Kak Sky kenapa minta maaf."


"Aku udah janji sama kamu untuk ajak kamu ke Jepang tapi ternyata semua gagal."


"Kak Sky gak perlu minta maaf sama aku, yang penting sekarang adalah kesembuhan Kak Sky."


"Ruang operasi sudah siap. Suster bawa pasien menuju ruang operasi."


"Baik!"


Kedua orang tua Sky menemui Sky sebelum brankar Sky didorong ke ruang operasi. "Semoga operasi kamu berjalan lancar."


Kemudian mereka semua mengikuti brankar Sky yang didorong sampai ke ruang operasi. Pintu operasi itu ditutup. Kedua orang tua Sky, Shena, dan Arnav duduk menunggu di depan ruang operasi.


"Arnav, kamu lihat sendiri kalau mobil itu sengaja menabrak Sky?" tanya Pak Alex.


"Iya, Om. Saat Sky akan berbelok, dari arah kanan mobil itu melaju kencang dan menabrak Sky dan membuat Sky terpental ke arah kiri."


"Saya sudah mendapat rekaman cctv dan plat nomor yang digunakan palsu. Identitas pemilik tidak ditemukan. Apa Sky punya musuh?"


Arnav menggelengkan kepalanya. "Saya tidak tahu. Di kampus, Sky hanya kuliah lalu pulang dan Sky juga sudah tidak aktif dalam geng motornya. Apa mungkin saingannya sesama atlet renang yang iri karena Sky akan bertanding di Jepang?"


"Iya, bisa juga seperti itu. Saya sudah membuat laporan ke kantor polisi. Semoga masalah ini cepat selesai. Kasihan Sky, terpaksa dia tidak bisa berangkat ke Jepang. Padahal pertandingan ini sudah sangat dinantikan Sky."


Bu Ida semakin memeluk suaminya. Beberapa bulan ini kebahagiaan selalu menyertai Sky, tapi kebahagiaan itu hancur dalam sekejap mata. "Iya Pa, kasihan Sky. Ini impian terbesar dia. Tinggal selangkah lagi dia bisa menaklukkan dunia, tapi kecelakaan ini terjadi. Jika tahu seperti ini, Mama tadi tidak akan menyuruh Rion untuk membangunkan Sky, biarkan saja Sky tidak mengerjakan tugas kuliahnya daripada celaka."


"Sssttt, Mama ini sudah takdir. Kita juga tidak ada yang tahu kalau akhirnya menjadi seperti ini."


Shena semakin menangis di pelukan Arnav. Bahkan tadi pagi dia tidak melihat Sky berangkat.


"Shena, udah jangan sedih. Saat ini Sky sangat butuh dukungan dari kamu." Arnav mengusap punggung adiknya yang bergetar. Adiknya baru saja merasakan kebahagiaan dan sangat senang saat akan pergi ke Jepang untuk berbulan madu, tapi semua berakhir seperti ini.


"Kak Arnav, aku gak bisa bayangkan bagaimana perasaan Kak Sky. Kak Sky sangat bahagia akan bertanding di Jepang. Tiket pesawat sudah terbeli, hotel juga sudah Kak Sky pesan untuk kita, dan semua sudah siap tinggal berangkat saja besok malam tapi..." Shena menghentikan perkataannya.


"Iya, aku tahu. Sekarang tugas kamu adalah menenangkan Sky. Aku tahu kamu juga kecewa dan sedih, tapi ingat, kamu sekarang adalah istri Sky. Kamu dan Sky harus bisa saling menguatkan."


Shena menganggukkan kepalanya lalu dia menghapus air mata di pipinya. "Semoga operasi Kak Sky lancar dan cepat pulih."


"Udah, jangan nangis. Nanti kamu harus kuat di depan Sky ya, biar perasaannya tidak semakin hancur," kata Arnav sambil menghapus sisa air mata di pipi Shena.


Shena mengangguk pelan. "Makasih, Kak."


Arnav tersenyum kecil. Ada kalanya dia harus bersikap dewasa disaat adiknya terpuruk. "Ibu sama Ayah sebentar lagi ke sini."


Kemudian Arnav berdiri dan mengangkat panggilan dari Vicky.


"Hallo, Vick. Iya, Sky kecelakaan. Oke, sebentar lagi gue ke tempat lo..."


Setelah kedua orang tuanya datang, Arnav pergi dari rumah sakit untuk menemui Vicky.


💞💞💞


🥲 maaf ya permisah, eh, maaf ya Sky.. 😪🥲


Like dan komen ya...