Love From The Sky

Love From The Sky
BAB 27



Pagi hari itu Shena sudah bersiap untuk berangkat melihat pertandingan Vicky, dia menunggu Vicky di teras rumahnya sambil menatap layar ponselnya.


"Mau kemana?" tanya Sky yang baru saja turun dari motornya.


Shena berdengus kesal. Selalu saja setiap pagi dia bertemu Sky. Sudah kesekian kalinya Sky datang sambil membawa barang untuknya. Kali ini Sky membawa setangkai bunga mawar merah lengkap dengan sepucuk surat yang menempel di pita.


Shena membuang wajahnya saat Sky mendekat.


Sky mengulurkan bunga mawar itu pada Shena. "I'm so sorry."


Shena menggeser langkahnya. "Gak ada bosannya sih lo tiap pagi ke sini bawain gue barang-barang yang jelas akan gue buang."


Sky hanya tersenyum lalu meletakkan bunga itu di meja yang berada di teras rumah Shena. "Aku gak akan bosan. Meskipun sampai ratusan hari atau bahkan ribuan hari kamu belum memaafkan aku, aku akan tetap minta maaf sama kamu dan datang menemui kamu setiap pagi ke sini."


"Ck, gak akan mempan." Kemudian Shena kembali menatap layar ponselnya.


Sky melipat tangannya dan tersenyum menatap Shena. Sejak kapan dia mengagumi paras cantik itu? Meskipun pipi tirus itu sering menggembung saat kesal, tapi terlihat lucu di mata Sky.


"Ngapain sih lo lihatin gue! Sana pergi!" usir Shena.


Sky melihat jam di tangannya. "Mau berangkat bareng aku? Aku tahu kamu mau lihat Vicky renang."


Shena hanya diam, tak menjawab pertanyaan Sky. Darimana Sky tahu jika dia akan melihat Vicky bertanding?


Beberapa saat kemudian akhirnya Vicky datang. Dia menghentikan motornya di dekat Shena. "Ngapain lo ke sini?" tanya Vicky sambil menatap tajam Sky.


"Mau bertemu Shena, sama kayak lo," jawab Sky.


Shena semakin berdengus kesal lalu dia naik ke boncengan Vicky setelah memakai helmnya. "Kita berangkat aja, Kak."


Beberapa saat kemudian motor Vicky segera melaju menuju GOR. Di belakangnya ada Sky yang terus mengikuti mereka.


"Sky ngikutin kita." Shena semakin berpegangan di pinggang Vicky.


Vicky semakin menarik kedua tangan Shena agar melingkar di perutnya. "Dia ikut pertandingan juga."


"Iyakah?" Shena semakin mendekatkan dirinya. Jika tahu ada Sky, dia tidak akan ikut melihat pertandingan itu.


Di belakang Shena, Sky terus menatap mereka berdua. "Apa hubungan Vicky sama Shena? Bukankah mereka sepupuan, sama kaya Rey," gumam Sky.


Perasaan Sky menjadi resah. Apalagi saat melihat kedua tangan Shena memeluk Vicky dengan mesra.


Beberapa saat kemudian mereka menghentikan motor di tempat parkir. Shena turun dari motor Vicky dan melepas helmnya. "Kak Vicky semangat ya, semoga menang."


"Iya." Vicky tersenyum sambil mengusap puncak kepala Shena.


Sky hanya berdengus kesal melihat mereka berdua lalu dia berjalan masuk ke dalam GOR dan langsung menuju ruang ganti.


Shena kini juga berpisah dengan Vicky. Dia masuk ke dalam GOR dan duduk di kursi deretan paling depan agar bisa melihat Vicky dengan jelas. Beberapa temannya juga sudah ada di sana tapi tidak menganggapnya ada.


Shena sesekali melihat temannya yang sedang bercanda. Biasanya dia ikut bergabung bersama mereka tapi mereka kini menjauhinya sejak masalah yang menimpa dirinya. Seburuk itukah dia di mata teman-temannya?


Hingga akhirnya pertandingan itu dimulai. Semua peserta sudah berjajar di pinggir kolam sesuai nomor urut dan bersiap meluncur setelah aba-aba dimulai.


Jantung Shena berdetak karuan saat melihat Sky. Tubuh atletis yang hanya memakai celana renang itu sangat terlihat menggoda.


Shena menundukkan pandangannya saat teringat bahwa tubuh itu pernah menindihnya. Pelipisnya semakin berkeringat karena rasa trauma itu tiba-tiba muncul.


Semua temannya berteriak nama Vicky saat pertandingan itu dimulai. Teriaka dan dukungan untuk Sky dari sekolah Sky juga tak kalah kerasnya.


Shena hanya sesekali melihat mereka yang sepertinya seimbang.


"Gila! Sky hebat banget! Vicky bisa kalah."


"Mana ganteng dan tubuhnya hot lagi si Sky. Jadi pengen peluk juga."


Entah siapa yang bicara di belakangnya yang jelas bisa ditangkap oleh telinga Shena.


Shena tersenyum menatap Vicky yang akhirnya berhasil. Tapi senyuman itu justru memancing Sky dan Vicky melambaikan tangan ke arahnya.


"Mereka berdua melambai ke sini."


"Siapa di antara kalian yang ceweknya Sky?" tanya salah satu gadis dari sekolah Sky.


Shena hanya terdiam sambil meremat tangannya sendiri.


"Emang di sini ada ceweknya Sky?" Teman-teman Shena mulai berkomentar.


Shena hanya terdiam bahkan dia kini tidak fokus dengan pertandingan. Bagaimana kalau teman-temannya tahu tentangnya dan Sky?


"Oiya, Shena yang kemarin keracunan makanan itu," kata Riska.


"Shena? Jadi dia ceweknya Sky?"


"Ya bukan, katanya korbannya Sky."


Mendengar hal itu Shena mendongak. "Gue gak kenal sama Sky."


"Serius gak kenal? Gue dengar kok berita kalau Sky itu saudara kembar Gala dan dekat sama lo dan lo kemarin masuk rumah sakit karena pendarahan, hasil hubungan lo sama Sky, bukan karena keracunan."


Seketika Shena berdiri dan menampar Riska. "Maksud lo apa nyebar berita kayak gini!"


"Halah, gak usah sok suci deh lo! Pasti lo kan yang goda Sky. Cowok kayak Sky mana mungkin per ko sa lo!"


"Iya bener juga! Gue aja tergoda lihat body Sky yang hot gitu! Gue juga rela kalau diacak-acak sama Sky."


Semua teman mengoloknya ditambah teman dari sekolah Sky juga. Bahkan kini ada yang melemparinya botol.


"Modus jadi korban. Pasti dia sendiri yang kegatelan."


"Udah, kalian jangan dengar gosip itu!" teriak Mila. Dia tidak tega melihat temannya dibully seperti itu.


"Pasti lo kan Mil yang nyebarin berita ini. Tega lo!" Kemudian Shena berlari keluar dari tempat duduk penonton.


Mereka semua masih menyoraki Shena yang berlari sambil menangis.


Sky akhirnya berhasil masuk ke babak final. Meskipun dia sedang berenang tapi samar-samar dia bisa mendengar hinaan mereka pada Shena. Dia melihat kursi penonton tapi Shena sudah tidak ada di sana.


Shena kemana?


Ingin dia mencari Shena tapi dia harus menyelesaikan pertandingannya terlebih dahulu karena kemenangannya sudah di depan mata.


Begitu juga dengan Vicky, dia berhasil lolos ke babak final melawan Sky. Dia kini mengedarkan pandangannya mencari Shena.


"Shena dimana?"


Saat waktu istirahat yang beberapa menit itu, Vicky mengambil ponselnya dan menghubungi Shena. Untunglah beberapa kali nada panggil, Shena mengangkat panggilan Vicky.


"Shena kamu dimana? Pulang? Kenapa?"


Sky mendengar percakapan Vicky lewat panggilan telepon itu. Dia sedikit lega mendengar jika Shena sudah pulang.


"Ya udah, tidak apa-apa. Nanti kalau sudah sampai rumah chat aku ya." Vicky mematikan panggilannya lalu dia menatap Sky yang berdiri tak jauh darinya. "Puas banget lo hancurin hidup Shena. Shena itu korban tapi justru dia yang direndahin dan dihina."


Sky mengepalkan tangannya. Dia harus membungkam mereka semua.


.


💕💕💕


.


Like dan komen ya..