Love From The Sky

Love From The Sky
BAB 49



Sky menunggu Shena pulang di depan sekolah Shena. Padahal gerbang sekolah juga belum dibuka, tapi dia sudah stay sejak beberapa menit yang lalu. Lebih baik dia yang menunggu daripada Shena yang harus menunggunya lama.


Beberapa saat kemudian gerbang sekolah terbuka. Semua murid sangat antusias keluar dari gerbang dan berhambur. Sky tersenyum saat melihat Shena yang melambaikan tangan ke arahnya.


"Kak Sky udah lama?" tanya Shena setelah berada di dekat Sky. Dia sedikit membungkukkan kepalanya saat Sky memasangkan helm di kepalanya.


"Nggak. Baru saja kok. Sini naik." Sky memajukan dirinya karena sedari tadi Sky menduduki tempat Shena agar joknya tidak panas karena tersengat sinar matahari.


"Makasih." Shena tersenyum saat duduk di belakang Sky. Dia sangat suka dengan perhatian Sky dalam hal kecil seperti ini.


Sky melihat motor Arion melaju di sampingnya dan mendahuluinya. Rasa penasaran Sky semakin bertambah. Dia ingin tahu, bagaimana kehidupan Arion sebenarnya. "Shena, aku mau ikutin Arion. Aku ingin tahu dia tinggal dimana. Gak papa kan?"


Shena memajukan dirinya dan memeluk Sky. "Iya, aku juga penasaran. Dia misterius banget."


Kemudian motor Sky melajukan motornya dan berada dua meter di belakang motor Arion agar Arion tidak curiga. Kebetulan jalan yang mereka lalui tidak terlalu padat yang membuat Sky tidak kehilangan jejak Arion.


Beberapa saat kemudian motor Arion berhenti di depan rumah sakit. Dia menoleh ke belakang. Sepertinya dia tahu sedang diikuti Sky dan Shena. Dia membuka kaca helmnya saat Sky menghentikan motornya.


"Ngapain kalian ngikutin gue?" tanya Arion dengan suara kerasnya.


"Kebetulan aja, gue lewat sini," jawab Sky. Harusnya dia tidak berhenti juga agar tidak ketahuan.


"Kalian berdua jangan pernah campuri hidup gue! Kalian pergi!" Setelah itu Arion masuk ke dalam tempat parkir rumah sakit.


"Kak Sky, kita pulang saja. Ini memang bukan urusan kita," kata Shena.


"Ya sudah. Kita pulang saja." Sky memutar motornya lalu kembali melajukan motornya.


Setelah turun dari motornya, Arion melepas helmnya dan berjalan masuk ke dalam rumah sakit. Dia menuju bangsal kelas tiga dimana neneknya dirawat.


"Nenek." Arion duduk di dekat brangkar neneknya yang sudah tua itu. Rambutnya sudah memutih dengan wajah yang keriput. Bergerak saja sudah sangat kesulitan. Tekanan darah yang tinggi serta menderita diabetes mengharuskan neneknya dirawat di rumah sakit untuk beberapa hari.


"Rion, bagaimana sekolahnya?" tanya Nenek Sita sambil memegang tangan Arion.


"Baik."


"Kamu harus rajin sekolah. Jangan bekerja lagi, nanti kesehatan kamu drop lagi."


"Nek, aku gak papa. Kalau aku gak bekerja, bagaimana aku bisa memenuhi kebutuhan aku dan nenek. Aku gak mau terus bergantung pada orang lain," kata Arion. Dia harus bisa berusaha sendiri dan tidak mengharapkan bantuan orang lain.


Nenek Sita meraih tasnya lalu mengambil sebuah foto. "Rion, kalau nenek sudah tidak ada, kamu cari dia ya."


"Nenek jangan bilang seperti itu. Nenek pasti sembuh. Aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi selain nenek." Arion memegang tangan neneknya. Kedua orang tuanya sudah meninggal sejak dia kecil, dan dia hanya tinggal bersama neneknya. Tidak ada sanak saudara juga yang dekat dengannya.


"Nenek sudah tua. Cepat atau lambat nenek pasti akan pergi. Nenek yakin, kamu anak yang kuat, kamu pasti bisa melalui ini semua. Tapi kamu tidak bisa sendiri. Kamu juga butuh biaya untuk berobat. Nenek tidak mau stadium penyakit kamu bertambah. Kamu harus sembuh dan bisa menjadi orang sukses."


Arion hanya menundukkan pandangannya. Dia memang terlihat kuat dan seolah tidak butuh bantuan orang lain tapi di dalam dirinya sebenarnya sangat rapuh.


"Dia sahabat nenek." Nenek Sita menunjukkan foto itu. "Nenek sebenarnya tidak tahu dia masih hidup atau tidak. Terakhir bertemu lima belas tahun yang lalu, saat Ayah kamu meninggal. Dia ingin menikahi nenek tapi nenek tidak mau karena kita sudah tua. Dia juga menawarkan bantuan tapi nenek tolak. Akhirnya dia memberikan alamat lengkap dan nomor teleponnya, jika sewaktu-waktu nenek butuh bantuan, nenek bisa menghubungi dia. Sekarang yang nenek butuhkan adalah kelangsungan hidup kamu. Nenek sudah tidak bisa mencari dia sendiri. Hanya kamu yang bisa mencarinya."


Arion kini memeluk neneknya. "Aku bisa sendiri, Nek."


Arion melepas pelukannya lalu melihat sesaat foto Ronald dan neneknya di lima belas tahun yang lalu. Arion tersenyum kecil, mengapa neneknya tidak mau menikah dengan Ronald dan lebih memilih membesarkannya serta menghabiskan masa tuanya untuk mencari uang walau hasilnya tak seberapa.


"Nenek rindu sama dia? Kalau rindu, aku akan cari dia buat nenek."


Seketika senyum mengembang di bibir Nenek Sita yang mencetak kerutan di sekitar pipi dan matanya. "Tidak, nenek hanya ingin menitipkan kamu."


"Kalau begitu, foto ini nenek simpan saja karena aku tidak mau dititipkan pada siapapun. Aku sudah delapan belas tahun, bisa jaga diri sendiri."


"Tapi sakit kamu..."


Arion menggelengkan kepalanya lalu dia membantu neneknya duduk bersandar dan mengambil makanan yang berada di atas nakas. "Nenek makan dulu, aku suapi. Setelah nenek tidur, aku tinggal ya. Nanti malam aku ke sini lagi setelah kerja."


"Kamu jangan sampai kecapekan biar sakit kamu gak kambuh."


"Gak papa, Nek." Arion mulai menyuapi neneknya.


"Kamu sudah makan?"


Arion menggelengkan kepalanya. "Nanti di kafe. Nenek makan yang banyak, agar cepat pulang dari rumah sakit."


Nenek Sita menganggukkan kepalanya dan menerima suapan dari Arion. Dia sangat sayang dengan Arion. Hanya do'a terbaik untuk Arion yang bisa dia lakukan.


Semoga ada seseorang yang berbaik hati yang mau merawat dan membantu kesembuhan Arion. Meskipun Arion sudah dewasa, tapi dia tidak bisa melawan sakitnya seorang diri.


💕💕💕


.


Like dan komen ya...


Jangan lupa mampir ke karya baru othor. Dijamin baper dan seru.. 🤣


(Cover bisa berubah sewaktu2)



Judul : Detak Cinta


Blurb:


Setelah melakukan transplantasi jantung, Calvin bisa melihat arwah pemilik jantung yang ada di tubuhnya. Dia meminta Calvin menemui Fani untuk menyampaikan kata maafnya. Meskipun kata maaf itu telah tersampaikan, tapi arwah itu belum juga tenang karena jasadnya belum ditemukan. Apakah Calvin berhasil membongkar misteri itu?


Seiring berjalannya waktu, Calvin justru jatuh cinta dengan Fani. Dia tidak memandang status sosial Fani yang hanya seorang yatim piatu dan tinggal di panti asuhan.


Calvin yang seorang aktor terkenal, harus menghadapi penilaian negatif dari publik saat hubungannya dengan Fani terbongkar.


Apakah akhirnya Calvin dan Fani bisa bersatu? Karena bukan hanya fans Calvin yang menolak hubungan tapi juga keluarga Calvin.