
Siang hari itu, Vicky bergabung dengan Sky dan Arnav di kantin kampus. Dia mengambil air mineral dan meminumnya.
"Tumben lo lesu gini? Bisanya segar bugar," kata Arnav.
"Gak dapat jatah?" tanya Sky. Dia sedang menatap layar laptopnya. Sambil menunggu Shena, dia mengerjakan rencana KKN yang akan dia lakukan satu minggu lagi. Dia juga satu kelompok dengan Arnav.
"Bukannya gak dapat jatah, Nike hamil lagi."
Seketika Sky dan Arnav menatap Vicky.
"Widih, selamat. Akan jadi Ayah muda dari dua anak. Benar-benar tokcer." Arnav mengucapkan selamat pada Vicky.
"Harusnya lo senang mau punya anak lagi. Kak Nike belum siap?" tanya Sky.
"Bukannya gitu. Nike malah senang hamil lagi. Katanya mumpung masih muda biar ngurusnya sekalian. Tapi gue takut, gue gak bisa penuhi kebutuhan Nike dan anak gue. Uang tabungan gue udah habis buat bangun rumah. Gue pusing mikirin ke depannya kayak gimana?"
Arnav semakin tertawa. "Lucu lo, belum siap tapi lo gas terus sampai jadi. Gini nih lika-liku dalam rumah tangga."
"Lo gak usah mikirin itu. Nanti gue buka kursus buat anak-anak juga, biar lo yang melatih mereka. Kolam renang buat anak-anak les juga sudah hampir jadi. Bulan ini pasti udah finishing dan bisa digunakan."
"Tuh, udah lo gak usah bingung. Biaya les renang anak sekarang harganya mahal. Pasti cukup buat beli pampers sama susu." Arnav masih saja tertawa. Ada-ada saja masalah rumah tangga kedua saudaranya itu.
"Iya, gak usah mikirin soal biaya, pasti nanti ada saja jalannya, yang penting sekarang lo jaga Nike dan anak lo," kata Sky. Dia kembali menatap layar laptopnya.
"Thanks ya. Semua yang gue dapat sekarang berkat lo, Sky." Vicky menepuk bahu Sky. Dia merasa beruntung memiliki saudara seperti Sky.
"Ya, itu juga karena usaha lo. Nanti kalau gue sibuk dengan perusahaan Papa, klub renang kamu pegang saja karena Arion juga akan memegang satu cabang dari perusahaan Papa. Cuma lo yang bisa gue percaya," imbuh Sky.
"Tuh, lo gak usah bingung lagi. Gas, buat anak yang banyak. Banyak anak banyak rezeki." Arnav masih saja menertawakan Vicky.
Seketika Vicky tertawa dan menjotos lengan Arnav. "Dua aja cukup. Mungkin Sky yang mau nambah anak lagi."
"Udah, cukup si kembar aja kalau bisa. Kalau diberi rezeki lagi ya gak papa. Tapi gak sekarang, gue masih trauma lihat Shena koma." Kemudian Sky menutup laptopnya saat melihat Shena berjalan ke arahnya. "Sayang, mau langsung pulang?"
Shena kini duduk di samping Sky dan mengambil minuman Sky. "Iya, langsung pulang aja." Shena menyedot minuman Sky sampai habis lalu bergelayut di lengan Sky. "Ayo, aku ngantuk banget."
"Iya, ayo. Kita duluan ya." Sky memasukkan laptopnya lalu berdiri dan berjalan bersama Shena.
Arnav menghela napas panjang sambil melipat kedua tangannya. "Kalau udah rumah tangga bawaannya emang ngantuk, kayak lo."
"Makanya lo cepat nikah!"
"Tinggal satu tahun lagi, gue lulus. Gue masih ragu, apa gue bisa jadi suami andalan kayak lo dan Sky."
"Awalnya gue juga belum siap, tapi kalau dijalani ya lama-lama bisa. Calon lo udah ada, tinggal tunggu apalagi?"
Arnav mengangkat kedua bahunya. "Gue mau belajar di perusahaan dulu. Baru nanti kalau sudah matang, memikirkan pernikahan. Soalnya gue gak bisa bagi pikiran gue."
Mereka berdua lanjut mengobrol dan bertukar pikiran.
...***...
Setelah satu minggu berlalu, Sky akan berangkat KKN diluar kota selama satu bulan. "Berat banget mau LDR sama kamu dan anak-anak," kata Sky sambil membawa kopernya keluar dari rumah. "Nanti aku pulang dua minggu lagi."
Shena yang sedang menggandeng si kembar mengikuti Sky sampai depan rumah. "Terserah Kak Sky saja. Kalau sibuk gak usah pulang, kan bisa vc."
"Ih, udah jangan omes aja."
Kemudian Sky berjongkok dan menciumi kedua anaknya. "Ares, Ara, yang pintar ya sama Mama di rumah. Gak boleh rewel. Kalau kangen sama Papa nanti video call."
Antares justru menarik jaket Sky saat Sky akan pergi dan menangis. "Sayang, jangan nangis." Sky menggendong putranya dan menenangkan terlebih dahulu. "Nanti beli mainan sama opa. Ares, mau mobil-mobilan."
"Papa..."
Adara juga ikut menangis. "Papa..."
"Iya, iya. Ara jangan menangis juga." Sky juga menggendong Adara di tangan satunya.
"Kak Sky, biar aku tenangin saja nanti Kak Sky terlambat."
"Gak papa, masih ada waktu. Aku gak tega kalau ninggalin anak-anak nangis gini." Sky kembali masuk ke dalam rumah dan menurunkan si kembar di tempat bermainnya. "Mainan dulu sama adik Ara ya."
"Nih, mau mainan yang mana? Nih ada ayam, bebek. Yee, bisa jalan." Shena menemani mereka bermain hingga mereka berhenti menangis dan tersenyum.
"Sayang, aku berangkat dulu ya," bisik Sky di dekat telinga Shena. "Kamu di sini saja, biar mereka gak nangis lagi."
Shena menganggukkan kepalanya lalu mencium punggung tangan Sky. "Kak Sky hati-hati ya."
"Iya." Sky mencium kening Shena lalu dia berjalan keluar dari rumah.
Shena hanya menatap Sky yang kini telah menghilang dibalik pintu. Pasti dia akan sangat merindukan Sky.
...***...
Satu bulan tak bertemu terasa sangat lama. Janji pulang setelah dua minggu ternyata batal karena Sky dan teman satu kelompoknya harus membantu acara di dekat tempat mereka menginap.
Kini semua tugasnya telah usai dan Sky akan segera pulang.
"Kak Sky jadi pulang lusa? Sudah beberapa hari ini mereka rewel. Ares juga demam, udah minum obat tapi demamnya belum turun juga," kata Shena lewat video call sambil menguap panjang, karena akhir-akhir ini dia memang kurang tidur. Sepanjang malam si kembar sering merengek, entah minta susu maupun untuk sekedar ingin digendong. Padahal sebelumnya mereka sangat anteng dan sudah bisa tidur berdua saja di kamarnya.
Satu tangan Shena kini mengusap rambut Ara yang sudah tertidur.
"Iya, aku pulang. Kalau bisa besok. Pasti mereka kangen sama aku."
"Ara, kok demam juga." Shena segera mengambil termometer untuk mengecek suhu badan Adara.
"Mama gak menginap disitu?"
"Ibu yang menginap di sini." Shena semakin khawatir saat melihat suhu badan Adara lumayan tinggi. "Ares juga makin tinggi demamnya. Aku bawa mereka ke rumah sakit saja, mumpung Ayah ada di sini juga."
"Ya udah, semoga semua cepat membaik. Aku jadi ingin pulang sekarang."
Shena mematikan panggilan Sky begitu saja karena dia khawatir dengan kondisi si kembar.
"Sayang, kita ke rumah sakit ya. Kalian berdua harus segera sembuh."
💞💞💞
Like dan komen...